Paket sembako murah ini dihargai Rp 50 ribu. Paket murah ini berisi beras dua kilogram, minyak goreng satu liter, gula pasar satu kilogram, bawang seperempat kilogram, dan sayur-saruran berupa tomat dan sawi putih.
Bazar murah ini digelar dalam rangka menstabilkan pasokan dan harga pangan serta menekan angka inflasi. Acara tersebut dihadiri Kepala Dinas Ketahanan Pangan Dyah Lukisari dan didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Kudus Mawar Anggraeni.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Dyah Lukisari mengatakan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak dipungkiri bisa berpengaruh terhadap harga bahan pangan. Penyebabnya, biaya transportasi untuk distribusi bahan pangan yang juga ikut naik. Untuk itu, pemerintah provinsi mengambil solusi melalui subsidi distribusi supaya masyarakat mendapat akses pangan murah.
“Kami ada alokasi subsidi distribusi Rp 150 juta dan untuk saat ini penyerapannya sudah mencapai Rp 80 juta termasuk bazar pangan murah di Kudus dan selanjutnya nanti di Cilacap. Kami memberikan subsidi distribusi kepada gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang menyuplay kebutuhan pokok untuk bazar ini,” ungkapnya.
Dia mengatakan, untuk subsidi yang diberikan contohnya beras sebesar Rp 500 per kilogram dan bawang merah disubsidi Rp 1.500 per kilogram. Menurutnya, bazar pangan murah tujuannya untuk menjaga kestabilan harga 11 komoditas, antara lain beras, jagung, bawang merah/putih, cabe besar, cabe rawit, daging sapi/kerbau/ayam, telur ayam, gula pasir, minyak goreng dan lain-lain.
“Gabungan kelompok tani (Gapoktan) penghasil komoditas tersebut bisa mendapat subsidi untuk pendistribusian,” jelasnya.
Ketua TP PKK Mawar Anggraeni mengatakan, kebijakan kenaikan harga BBM dikhawatirkan dapat memengaruhi harga-harga kebutuhan pokok, khususnya bahan pangan. Maka, PKK Kabupaten Kudus bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, agar masyarakat bisa mendapatkan bahan pangan murah.
“Tujuannya untuk membantu meringankan masyarakat, khususnya yang kurang mampu supaya bisa mendapat harga pangan yang relatif di bawah harga pasar,” ujarnya.
Salah satu pembeli paket pangan murah, Siti Slamet, 60, mengaku langsung datang ke GOR setelah mengetahui informasi tentang adanya bazar. Bersama sang anak, ia rela antri mendapatkan kupon sejak pukul 07.30. Pasalnya memang harga paket yang ditawarkan memang lumayan lebih mudah dibanding harga pasaran.
“Antre dari pukul 07.30 bareng anak cucu. Lebih murah iya, beda kalau dibanding harga pasaran,” kata warga Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati. (san/mal) Editor : Ali Mustofa