Pembuatan bubur asyuro ini dikerjakan oleh ibu-ibu Desa Kauman, atau di sekitaran Menara Kudus. Bubur tersebut dimasak dari pukul 06.00 dan dibagikan sekitar pukul 12.00.
Kuliner ini terbuat dari berbagai macam bahan seperti, kacang tolo, kacang hijau, pisang, jagung dan ketela yang dimasak lebih dari tiga jam.
Setelah matang, bubur akan diletakkan di atas samir (alas makanan dari daun pisang berbentuk bundar) dan takir (tempat makanan dari daun pisang berbentuk persegi). Setelah itu, bubur akan ditaburi sembilan jenis macam toping. Di antaranya, tempe, tahu, telur dadar, udang, irisan jeruk bali, pentul, kecambah, teri, dan irisan cabai. Bubur asyuro kemudian dibagikan kepada warga di sekitaran Menara Kudus.
"Kami membuat sekitar 800 porsi," ungkap Panitia Buka Luwur Makam Sunan Kudus Muhammad Kharis.
Kharis mengatakan, memasak bubur asyuro ini rutin dilakukan setiap menjelang 10 Muharom. Selain itu, bubur Asyuro sebagai tanda mengenang sejarah besar Islam. Salah satunya Nabi Nuh diselmatkan Allah dari banjir bandang yang besar.
"Kejadian itu pas 10 Muharom, setelah selamat Nabi Nuh membuat selametan atau bentuk rasa syukur. Konon membuat syukuran mirip seperti bubur," jelasnya. (gal/mal) Editor : Ali Mustofa