Kesenian ini menggambarkan aktivitas buruh rokok di Kudus. Penari perempuan, menari layaknya proses pembuatan rokok kretek. Mulai dari memilih tembakau, merapikan batang rokok dengan memotong bagian ujungnya, hingga mengantarkannya ke seorang mandor laki-laki untuk diperiksa.
Sanggar Seni Puring Sari mengajarkan tarian klasik telah banyak menyabet gelar, baik di tingkat lokal maupun internasional. Salah satu piala yang diraih sanggar yang sudah berdiri sejak 1980 tersebut ketika anak didiknya menjuarai Festival Tari Internasional yang digelar di Nusa Dua Bali pada 2000 sebagai Best Perform. Piala-piala lain yang didapat sudah tak terhitung lagi jumlahnya.
Owner Sanggar Seni Puring Sari Endang Tonny Supriyadi mengungkapkan, keberhasilan dalam mendidik anak untuk menjadi penari memang sangat sulit dan harus memiliki kesabaran. Bakat-bakat unggulan yang diperoleh bukan muncul begitu saja, namun ia bentuk dari nol hingga mampu menari layaknya penari profesional.
”Memang mendidik penari dari kecil, mulai dari play grup hingga remaja tingkat SMA. Mereka belajar tari klasik daerah mulai dari Jawa Jogjakartanan dan Surakartanan, hingga berbagai daerah di Indonesia. Untuk daerah Jawa mereka Ia ajarkan tari gambyong, tari kretek dan tari panen raya," jelas Endang.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus Mutrikah mengaku, kegiatan berkesenian untuk mengangkat budaya daerah memerlukan sinergi semua kalangan. Dukungan itu juga termasuk lewat pendanaan bagi beberapa kelompok kesenian untuk mengembangkan penampilan seninya agar tidak monoton.
“Sinergi mengawal dan menjaga kesenian daerah menjadi tanggungjawab semua kalangan, baik masyarakat pemerintah antara eksekutif dan legislatif maupun stakeholder terkait lainnya. Dukungan lewat pembuatan perda-perda yang mengatur kelompok kesenian daerah dan tidak lepas pendanaan bagi para kelompok kesenian berprestasi agar terus berkembang dikenal secara luas,” tutur Mutrikah. (san/lid/adv) Editor : Kholid Hazmi