Dalam dialog pembahasan Empat Negeri ditampilkan penampilan barongsai Klenteng Hoek Hien Bio berkolaborasi dengan Gamelan Suluk Tajuk Menara.
Identitas baru ini dipastikan tidak menyingkirkan slogan Kudus Kota Kretek. “Ini sama halnya seperti Jogja yang banyak julukannya. Itu tidak menghilangkan identitas lainnya,” kata Umar Ali pencetus brand identity saat menjadi pembicara di acara dialog parlemen bersama anggota DPRD Jateng Mawahib dengan tema menelusuri jejak Kudus Kota Empat Negeri.
Untuk mewujudkan identitas tersebut, segera dibentuk panitia Ad-hoc yang anggotanya non- ASN. Setelah itu akan dilakukan penyerapan aspirasi masyarakat.
"Nanti setelah terkumpul semua masukan masyarakat akan segera ditindaklanjuti dan diserahkan kepada bupati. Selanjutnya diterbitkan Perbup," katanya.
Sementara itu, Mawahib menyatakan Indonesia salah satunya Kudus terdapat keberagaman masyarakat, etnis, hingga agama. Namun perbedaan itu tidak dimasalahkan dan menjadi kerukunan sejak Sunan Kudus hingga sekarang.
"Keberagaman itu sunnatullah, lewat peninggalan Sunan Kudus Menara bentuk dari toleransi umat," ungkapnya.
Selain itu, di sekitar menara juga terdapat warisan budaya lainnya. Karena ada Arab, Tiongkok maupun Jawa.
Menurut dia, identitas Kudus Kota Empat Negeri juga bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tidak hanya itu, Pemprov Jateng juga berkeinginan melestarikan kesenian di masing-masing daerah.
"Dialog parlemen ini bertujuan untuk mendekatkan diri dengan masyarakat agar lebih mencintai kesenian dan kebudayaan daerahnya. Kearifan lokal itu akan lestari hingga generasi selanjutnya," katanya.
Bentuk toleransi ini juga diaplikasikan lewat pengukuhan kepengurusan Pecinta Tanah Air Indonesia (Petanesia) Kudus. Ketua DPC Petanesia Kabupaten Kudus Alamul Yaqin menyatakan, organisasi ini bertujuan meningkatkan kecintaan terhadap tanah air. Hal ini sesuai mandat dari Habib Lutfi in Yahya selaku pencetus Petanesia.
“Kami mengajak masyarakat Kudus menjaga keberagaman dan toleransi yang telah diwariskan para leluhur,” harapnya. (gal/mal) Editor : Ali Mustofa