Pemasangan ini dilakukan untuk meminimalisasi jatuhnya korban. Total ada tiga alat yang dipasang. Dua di antaranya di Desa Menawan. Dan satu sisanya di Desa Rahtawu.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kudus Budi Waluyo menyebut alat itu untuk mengetahui adanya bencana. Alat itu akan berbunyi jika terjadi hujan deras dengan intensitas tinggi dengan potensi longsor hingga banjir.
“Semula ada dua yang semuanya terpasang di Dukuh Kambangan, Desa Menawan. Karena di situ rawan longsor. Sementara yang terbaru kami tambahkan di Dukuh Semliro, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog. Alat tersebut suaranya keras sekali, sehingga bisa terdengar radius tiga kilometer lebih,” ujarnya.
Pemilihan di desa tersebut juga untuk mengantisipasi adanya longsor besar yang biasanya terjadi dalam siklus delapan tahunan yang jatuh tahun depan. Perhitungan itu berdasarkan ilmu titen masyarakat Desa Rahtawu.
“Tiap tahun memang kerap longsor, tapi skalanya kecil. Longsor besar terakhir terjadi pada 2014 lalu. Diprediksi akan terjadi lagi tahun depan, makanya kami antisipasi,” imbuhnya.
Tak hanya memberi tanda bahaya, alat ini juga mengirimkan pesan singkat mengenai kondisi cuaca di lokasi potensial ke BPBD Kudus dan Provinsi Jawa Tengah.
“Kalau dulu pantauan cuaca di daerah potensial kami mengandalkan relawan lokal. Sekarang sistemnya otomatis, alat EWS ini yang memberikan kita update cuaca di sana,” tuturnya.
Alat hibah dari BPBD Provinsi Jawa Tengah ini juga bisa mendeteksi adanya pergerakan tanah. alat itu mampu mendeteksi adanya pergerakan tanah dan memperingatkan warga dengan bunyi yang berbeda.
Keberadaan alat ini diharapkan dapat meminimalisasi adanya korban jiwa dalam bencana tanah longsor yang kerap terjadi di Rahtawu dan Menawan. Terlebih tahun depan diyakini masyarakat Rahtawu sebagai tahun siklus bencana delapan tahunan. (mal) Editor : Ali Mustofa