”Kami ingin mengangkat produk kopi Muria agar bisa mendunia dan lebih terkenal,” terangnya. Menurutnya yang utama petani kopi Muria bisa mengeluarkan kopi/barangnya berupa produk bukan barang mentah. Bukan kopi dari hutan atau kebun tetapi hasil olahannya.
Dalam festival tersebut diselenggarakan pula kompetisi barista yang akan menghadirkan Qiqie Biannt sebagai juri tamu Queen of Late Art Jogja. Kemudian Gabriella Fernanda sebagai juri artis dan lima juri umum. Di antaranya Octavianus Boli, A.Md (Q Processing (Professional)-Java Legend), Bimo Sakti Bagus, T. ST (Q Processing (Generalist) - Java Legend), Nanda Dika Arsena (Q Arabica Grader-Java Legend), Naufal Islah (Barista Profesional-Java Legend), Doni (Professional Kopi-Kopi Thong).
Sebagai penggiat dan pengelola wisata di Desa Kajar, Yusuf menyampaikan apresiasi atas support penuh dari LPPM IAIN Kudus dalam acara Festival Kopi Muria serta kegiatan-kegiatan pengabdian kepada masyarakat lainnya.
”Kami merasa terbantu dengan program-program dari IAIN Kudus yang membantu turun ke lokasi, tentang kreativitas, dan support-nya. Sehingga terjadi komunikasi yang baik dengan IAIN Kudus.
Yusuf menuturkan tak hanya tentang kopinya saja, adanya Festival Kopi Muria mempresentasikan ekonomi kerakyatan dan kearifan lokal.
”Yang paling utama supaya lokasi pijar park bisa menjadi primadona di kudus. Bisa menjadi destinasi wisata, Di Kudus selain wisata religi juga bisa mampir ke wisata alamnya yaitu di Wana Wisata Pijar Park. Pijar Park sendiri merupakan lokasi wisata yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Dari mulai pengelola, pedagang, semuanya berasal dari warga setempat,” jelasnya.
Sementara itu Mohammad Dzofir, ketua LPPM IAIN Kudus menyampaikan bahwa sebagai wujud komitmen Tri Dharma Perguruan tinggi, LPPM IAIN Kudus akan terus mengembangkan berbagai program pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya adalah desa binaan. (yusi/zen) Editor : Ali Mustofa