Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tercemar, Kali Gelis Kudus Menghitam dan Penuh Sampah

Ali Mustofa • Senin, 11 Oktober 2021 | 23:25 WIB
KALI GELIS TERCEMAR LIMBAH: Kali Gelis berwarna hitam dan penuh sampah non-organik. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)
KALI GELIS TERCEMAR LIMBAH: Kali Gelis berwarna hitam dan penuh sampah non-organik. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)
KUDUS – Kali Gelis diduga tercemar. Pemkab Kudus diharapkan segera turun tangan. Sebab bila dibiarkan akan berdampak buruk bagi lingkungan.

Dari atas jembatan Kali Gelis di jalan Sunan Kudus terlihat kondisi air di sungai yang berwarna hitam dan kecokelatan. Selain itu sampah juga banyak berserakan. Mulai dari plastik hingga organik.

Ketua Forum DAS Muria Hendy Hendro di Kudus menyebut berwarna hitamnya air di sungai itu karena tercemar. Penyebabnya bisa beragam. Bisa jadi limbah yang berasal dari pabrik hingga UMKM. Hingga sampah atau limbah yang sifatnya dari rumah tangga.

Kondisi tersebut berdampak pada aspek lingkungan. Seperti tidak bisa digunakannya air sungai untuk kebutuhan keseharian masyarakat. Padahal bila air sungai bersih, itu bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan keseharian secara gratis. Yang artinya secara perekonomian membantu masyarakat karena tak harus mengandalkan air PDAM yang berbayar.

“Selain itu kondisi air yang seperti itu tandanya demand oksigennya (DO) rendah. DO yang rendah ini membuat kehidupan di perairan itu gak bagus. Kondisi ini bisa dilihat di sepanjang kali Gelis dari Demaan hingga Jati,” jelasnya.

Hendy mengatakan jika kondisi seperti itu akan nampak saat kemarau. Sebab saat kemarau aliran dan debit air terbatas. Sehingga tidak mampu mendorong sampah dan limbah yang dibuang ke sungai. Mengendapnya sampah dan limbah itulah yang akhirnya merubah warna air.

“Harusnya ini kan dikelola, baik limbah dan sampahnya. Kalau limbah harusnya diolah, tidak dibuang sembarangan,” jelasnya.

Untuk itu dia berharap pemkab turun tangan agar pencemaran seperti itu tak berlarut. Sebab bila dibiarkan akan tambah parah dan seolah menjadi hal yang lumprah.

“Kalau misalnya ada indikasi ada limbah ya harus tegas. Bisa jadi pabrik perusahaan besar, namun harusnya mereka sudah tau aturan dan gak sembarangan. Kalau itu dari pelaku UMKM seperti perajin tahu misalnya, maka di sinilah pemerintah kabupaten menjembatani. Sebab kemampuan untuk membuat saluran IPAL kan terbatas,” tegasnya.

Menurutnya pemerintah bisa membantu pelaku UMKM agar juga tidak sembarangan membuang limbahnya. Yakni dengan membuatkan saluran Instalansi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) terintegrasi yang bisa menampung beberapa UMKM berdekatan.

“Sehingga itu bisa menghemat. Sebab tak mungkin satu-satu. Nanti bisa terintegrasi dan bisa diolah terlebih dahulu. Termasuk untuk limbah yang dari sanitasi perumahan,” terangnya. (mal) Editor : Ali Mustofa
#pemkab kudus #penuh sampah #Kudus #tercemar #air menghitam #kali gelis