Obat Asam Lambung Dikonsumsi Jangka Panjang, Ini Risiko yang Perlu Diketahui

Dyah Ayu Setyo Astuti • Dipublikasikan Jumat, 23 Oktober 2026 | 13:06 WIB
Ilustrasi penggunaan obat maag omeprazol dan lansoprazol yang perlu diperhatikan jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Ilustrasi penggunaan obat maag omeprazol dan lansoprazol yang perlu diperhatikan jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

RADAR KUDUS - Obat Asam Lambung atau maag kerap menjadi andalan untuk meredakan nyeri ulu hati, sensasi terbakar di dada, hingga keluhan akibat naiknya asam lambung.

Namun, penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang tanpa evaluasi medis perlu mendapat perhatian, termasuk obat golongan Proton Pump Inhibitor (PPI) seperti omeprazol dan lansoprazol.

Kedua obat tersebut dikenal efektif menekan produksi asam lambung.

Meski demikian, sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara penggunaan PPI dalam jangka panjang dan peningkatan risiko penyakit ginjal kronis.

Hal ini bukan berarti setiap orang yang mengonsumsi omeprazol atau lansoprazol akan mengalami kerusakan ginjal.

Risiko perlu dipahami sesuai kondisi kesehatan, dosis, lama penggunaan, serta alasan medis seseorang mengonsumsi obat tersebut.

Mengenal Omeprazol dan Lansoprazol

Omeprazol dan lansoprazol merupakan obat golongan PPI yang bekerja dengan menghambat sistem enzim penghasil asam di lambung.

Dengan berkurangnya produksi asam, keluhan akibat iritasi dan luka pada saluran pencernaan dapat mereda.

Obat ini digunakan untuk menangani sejumlah kondisi, seperti penyakit refluks gastroesofagus (GERD), tukak lambung, serta gangguan lain yang berkaitan dengan produksi asam lambung berlebih.

Dalam kondisi tertentu, PPI juga diresepkan untuk membantu melindungi lambung dari risiko luka akibat penggunaan obat tertentu.

Penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

Sebagian orang memang membutuhkan terapi jangka panjang, tetapi penggunaan yang terus-menerus sebaiknya dievaluasi oleh dokter untuk memastikan manfaatnya tetap lebih besar daripada risikonya.

Penggunaan Jangka Panjang Dikaitkan dengan Risiko Ginjal

Perhatian terhadap penggunaan PPI muncul dari sejumlah penelitian yang mengamati hubungan obat tersebut dengan gangguan fungsi ginjal.

Salah satunya adalah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Internal Medicine pada 2016.

Studi tersebut menemukan bahwa penggunaan PPI berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit ginjal kronis.

Penelitian lain juga mengamati hubungan antara penggunaan obat golongan ini dan gangguan ginjal.

Meski demikian, penelitian observasional hanya menunjukkan adanya hubungan statistik dan belum membuktikan bahwa PPI secara langsung menjadi penyebab penyakit ginjal kronis pada setiap pengguna.

Faktor lain, seperti usia, penyakit penyerta, dan penggunaan obat-obatan lain, juga dapat memengaruhi kondisi ginjal.

Karena itu, masyarakat tidak perlu langsung takut menggunakan obat yang diresepkan dokter.

Hal yang lebih penting adalah menghindari penggunaan tanpa indikasi yang jelas dan tidak memperpanjang pengobatan sendiri tanpa berkonsultasi.

Bagaimana PPI Dapat Berkaitan dengan Gangguan Ginjal?

Salah satu gangguan ginjal yang diketahui dapat terjadi sebagai reaksi terhadap PPI adalah nefritis interstisial akut, yaitu peradangan pada jaringan di sekitar tubulus ginjal.

Kondisi ini dapat muncul sebagai reaksi terhadap obat tertentu dan berpotensi mengganggu kemampuan ginjal dalam menyaring darah.

Jika tidak dikenali dan ditangani dengan tepat, cedera ginjal akut dapat meninggalkan kerusakan yang menetap.

Pada sebagian kasus, gangguan tersebut dapat berkontribusi terhadap penurunan fungsi ginjal dalam jangka panjang.

Selain itu, penggunaan PPI dalam waktu lama pernah dikaitkan dengan kadar magnesium yang rendah pada sebagian pasien.

Meski demikian, kondisi ini tidak berarti semua pengguna PPI akan mengalami kekurangan magnesium atau kerusakan ginjal.

Hubungan antara penggunaan PPI dan penyakit ginjal kronis masih terus diteliti.

Mekanisme yang paling jelas diketahui adalah kemungkinan terjadinya peradangan ginjal akibat reaksi obat, sedangkan mekanisme lainnya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Kenali Tanda Gangguan Fungsi Ginjal

Penyakit ginjal kronis dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal.

Karena itu, seseorang tidak bisa memastikan kondisi ginjal hanya berdasarkan apakah tubuh terasa sehat atau tidak.

Pada tahap yang lebih lanjut, gangguan ginjal dapat disertai pembengkakan pada kaki atau sekitar mata, perubahan frekuensi buang air kecil, mudah lelah, mual, atau penurunan nafsu makan.

Namun, gejala tersebut juga dapat disebabkan oleh kondisi kesehatan lain.

Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan menilai fungsi ginjal.

Dokter dapat menyarankan pemeriksaan darah, seperti kreatinin dan estimasi laju filtrasi glomerulus (estimated glomerular filtration rate atau eGFR), serta pemeriksaan urine sesuai kebutuhan.

Tidak semua pengguna PPI perlu menjalani pemeriksaan ginjal secara rutin hanya karena mengonsumsi obat tersebut.

Kebutuhan pemeriksaan ditentukan berdasarkan kondisi pasien, faktor risiko, dan pertimbangan dokter.

Tips Aman Mengonsumsi Obat Maag

Agar penggunaan obat maag lebih aman, masyarakat dapat memperhatikan beberapa hal berikut.

1. Gunakan sesuai petunjuk dokter

Hindari mengonsumsi omeprazol atau lansoprazol secara terus-menerus tanpa mengetahui kebutuhan dan durasi pengobatan yang tepat.

Ikuti dosis serta aturan pakai yang diberikan tenaga medis.

2. Evaluasi kebutuhan pengobatan

Jika sudah mengonsumsi PPI selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, konsultasikan kembali penggunaannya kepada dokter.

Dokter dapat menilai apakah obat masih diperlukan, dosisnya perlu disesuaikan, atau terdapat pilihan penanganan lain yang sesuai.

3. Jangan menghentikan obat resep secara sepihak

Penghentian PPI setelah penggunaan jangka panjang dapat memicu peningkatan produksi asam lambung sementara atau rebound acid hypersecretion.

Akibatnya, keluhan asam lambung bisa kembali terasa. Diskusikan terlebih dahulu dengan dokter mengenai cara menghentikan atau mengubah pengobatan.

4. Terapkan pola hidup yang mendukung kesehatan lambung

Makan dengan porsi yang sesuai, menghindari makanan atau minuman yang terbukti memicu keluhan pribadi, serta tidak langsung berbaring setelah makan dapat membantu mengendalikan gejala refluks.

Jika memiliki GERD pada malam hari, meninggikan bagian kepala tempat tidur juga dapat membantu sebagian orang.

5. Periksa fungsi ginjal jika dianjurkan

Bagi pasien yang memiliki penyakit ginjal, faktor risiko gangguan ginjal, atau keluhan yang mengarah pada gangguan fungsi organ tersebut, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan yang sesuai.

Pemeriksaan tidak perlu dilakukan secara berlebihan tanpa indikasi medis.

Penggunaan omeprazol dan lansoprazol tetap memiliki manfaat penting bagi pasien yang membutuhkannya.

Kuncinya bukan menghindari seluruh obat maag, melainkan menggunakan obat secara tepat, mengevaluasi kebutuhan terapi, dan berkonsultasi dengan tenaga medis jika pengobatan berlangsung dalam jangka panjang.

Dengan memahami manfaat sekaligus potensi risikonya, masyarakat dapat mengendalikan keluhan lambung tanpa mengabaikan kesehatan ginjal.

Editor : Ali Mustofa
Sumber : Instagram @ginjalpedia
Obat Asam Lambung Resiko Ginjal Konsumsi Jangka Panjang Omeprazole Lansoprazole