RADAR KUDUS – Pepaya menjadi salah satu buah yang mudah ditemukan di Indonesia.
Rasanya manis, teksturnya lembut, dan sering dikonsumsi sebagai pencuci mulut maupun menu sarapan.
Namun, ada satu bagian yang hampir selalu dibuang, yakni biji pepaya.
Banyak orang menganggap biji pepaya tidak berguna karena rasanya pahit dan sedikit pedas.
Padahal, bagian kecil berwarna hitam itu ternyata mengandung berbagai senyawa alami yang menarik untuk diperhatikan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa biji pepaya mengandung senyawa bioaktif seperti polifenol, flavonoid, alkaloid, saponin, dan benzyl isothiocyanate.
Senyawa-senyawa ini dikenal memiliki aktivitas antioksidan, yaitu membantu tubuh melawan radikal bebas yang dapat merusak sel.
Antioksidan penting karena stres oksidatif dalam tubuh dikaitkan dengan proses penuaan dan berbagai gangguan kesehatan.
Karena itu, bahan pangan yang mengandung antioksidan sering menjadi perhatian dalam penelitian gizi dan kesehatan.
Selain itu, biji pepaya juga diteliti karena memiliki sifat antimikroba.
Dalam beberapa uji laboratorium, ekstrak biji pepaya menunjukkan kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.
Meski begitu, hasil tersebut masih terbatas pada penelitian laboratorium, sehingga manfaatnya pada manusia belum bisa disimpulkan secara pasti.
Dari sisi kandungan gizi, biji pepaya juga memiliki lemak sehat, serat, dan sedikit protein.
Serat di dalamnya dapat membantu mendukung kerja sistem pencernaan jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.
Meski terdengar menjanjikan, biji pepaya tetap tidak boleh dikonsumsi berlebihan. Penelitian mengenai keamanan konsumsi dalam jumlah besar pada manusia masih terbatas.
Karena itu, biji pepaya sebaiknya tidak dianggap sebagai obat, melainkan hanya sebagai bagian kecil dari makanan yang bisa dikonsumsi sesekali.
Jika ingin mencobanya, biji pepaya dapat dikeringkan lalu dihaluskan dalam jumlah sedikit sebagai campuran makanan. Rasanya cukup kuat, mirip lada, sehingga biasanya hanya dipakai sedikit saja.
Jadi, mulai sekarang biji pepaya tidak selalu harus langsung dibuang. Di balik ukurannya yang kecil dan rasanya yang pahit, ada kandungan alami yang membuatnya menarik untuk diteliti lebih jauh.
Namun, seperti bahan pangan lainnya, konsumsinya tetap perlu dilakukan secara bijak dan tidak berlebihan. (bay)
Editor : Ali Mustofa