Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Durasi Tidur Ideal di Bulan Ramadan, Kunci Menjaga Fungsi Otak Tetap Optimal

Ghina Nailal Husna • Selasa, 3 Maret 2026 | 06:42 WIB

Ilustrasi orang tidur
Ilustrasi orang tidur

RADAR KUDUS – Bulan Ramadan sering kali mengubah pola tidur banyak orang. Waktu istirahat menjadi terpotong karena sahur, ibadah malam, atau bahkan pekerjaan yang tetap berjalan seperti biasa.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa durasi tidur tidak bisa dianggap sepele, karena berpengaruh langsung terhadap fungsi otak.

Dokter dan edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, membagikan hasil penelitian berskala besar yang melibatkan sekitar 500 ribu partisipan.

Studi tersebut meneliti hubungan antara durasi tidur dengan kondisi serta fungsi otak. Hasilnya menunjukkan temuan yang cukup mengejutkan, lama tidur berkaitan erat dengan performa kognitif seseorang.

Penelitian tersebut menemukan bahwa durasi tidur malam selama 6 hingga 8 jam merupakan rentang paling optimal untuk menjaga fungsi otak.

Secara khusus, kemampuan eksekutif—seperti fokus, pengambilan keputusan, serta kemampuan memecahkan masalah—terbukti lebih baik pada mereka yang tidur dalam rentang waktu tersebut.

Titik optimalnya berada pada sekitar 7 jam tidur setiap malam. Durasi ini dinilai sebagai waktu yang paling ideal untuk mempertahankan kinerja kognitif secara konsisten.

Temuan ini menjadi sangat relevan bagi kelompok yang pekerjaannya mengandalkan kemampuan berpikir intensif, seperti akademisi, karyawan, aparatur sipil negara (PNS), hingga content creator.

Di bulan Ramadan, ketika energi fisik dan pola makan berubah, menjaga kualitas tidur menjadi semakin penting.

Menariknya, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tidak hanya kurang tidur yang berdampak negatif. Tidur berlebihan—lebih dari 9 jam per hari—juga dikaitkan dengan penurunan fungsi otak.

Dengan kata lain, baik kekurangan maupun kelebihan tidur dapat sama-sama mengurangi kemampuan kognitif.

Artinya, tidur bukan sekadar soal kuantitas, melainkan keseimbangan. Otak membutuhkan waktu istirahat yang cukup, tetapi tidak berlebihan.

Salah satu temuan penting lainnya adalah bahwa manfaat tidur yang cukup lebih terasa pada kelompok usia muda, bukan hanya pada generasi yang lebih tua.

Mereka yang secara konsisten tidur 6–8 jam setiap hari tercatat memiliki volume otak yang lebih besar dibandingkan dengan individu yang durasi tidurnya kurang atau justru berlebihan.

Hal ini menunjukkan bahwa tidur berperan dalam menjaga struktur dan kesehatan otak, bukan hanya performa sesaat.

Penelitian tersebut menegaskan bahwa tidur bukan sekadar waktu untuk memejamkan mata. Tidur adalah momen pemeliharaan (maintenance) bagi otak.

Di saat inilah otak melakukan proses pemulihan, konsolidasi memori, serta pengaturan ulang fungsi kognitif.

Karena itu, kebiasaan begadang atau tidur terlalu lama sebaiknya mulai dipertimbangkan ulang. Dampaknya mungkin tidak langsung terasa, tetapi dalam jangka panjang dapat memengaruhi ketajaman berpikir dan produktivitas.

Bagi mereka yang setiap hari mengandalkan kemampuan berpikir untuk bekerja dan bertahan hidup, menjaga durasi tidur ideal adalah bentuk investasi kesehatan jangka panjang.

Dengan mempertahankan waktu tidur 6–8 jam per malam—terutama mendekati 7 jam—kita tidak hanya menjaga tubuh tetap bugar, tetapi juga memastikan otak tetap tajam dan sehat.

Di tengah padatnya aktivitas Ramadan, tidur cukup bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan mendasar. (*)

Editor : Mahendra Aditya
#penelitian #durasi tidur #Tidur Ideal #Tidur Saat Puasa