RADAR KUDUS – Kebiasaan mengonsumsi gula secara berlebihan di masyarakat Indonesia kembali mendapat sorotan.
Dalam sebuah podcast di kanal YouTube Raditya Dika, Kepala IGD sekaligus dokter, Gia Pratama, mengingatkan bahwa asupan gula yang tak terkontrol dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan.
Menurut Dokter Gia, konsumsi gula berlebih ibarat “bom waktu” yang pelan-pelan merusak tubuh dan berpotensi memicu penyakit mematikan.
Baca Juga: Ancaman Diabetes Mengintai Generasi Muda Akibat Konsumsi Gula Berlebih
Ia pun memaparkan gambaran sederhana namun mengejutkan terkait batas aman gula di dalam tubuh manusia.
“Kadar gula darah puasa yang normal berkisar antara 80 hingga 120 mg/dL. Jika dihitung, dalam satu liter darah seharusnya hanya terdapat sekitar satu gram gula. Dengan rata-rata volume darah manusia sekitar lima liter, maka total gula ideal di seluruh aliran darah hanya sekitar lima gram,” terangnya.
Kenyataannya, banyak makanan dan minuman manis yang dikonsumsi sehari-hari mengandung gula antara 12 hingga 30 gram dalam satu sajian.
Jumlah ini jauh melampaui kemampuan darah untuk menampung gula secara langsung.
Tubuh sebenarnya memiliki mekanisme pertahanan melalui pankreas yang menghasilkan hormon insulin.
Insulin berperan seperti “petugas” yang bertugas mengalihkan kelebihan gula dari darah ke otot untuk dijadikan energi atau menyimpannya dalam bentuk lemak di bawah kulit.
“Selama pankreas masih mampu bekerja optimal, dampaknya mungkin hanya berupa kenaikan berat badan. Namun, jika pankreas terus dipaksa bekerja keras, lama-kelamaan fungsinya bisa menurun dan menyerah,” jelasnya.
Baca Juga: Menjaga Amanah Kesehatan: Harmoni Tubuh, Saraf, dan Jiwa dalam Perspektif Islam
Ketika produksi atau fungsi insulin terganggu, kadar gula darah akan meningkat. Pada kondisi inilah seseorang bisa didiagnosis menderita diabetes.
Dokter Gia menegaskan bahwa diabetes merupakan sumber dari berbagai komplikasi serius.
Kadar gula darah yang tinggi, terutama di atas 200 mg/dL, dapat merusak dinding pembuluh darah.
Dampaknya antara lain kebutaan dan gagal ginjal, serangan jantung serta stroke akibat penyumbatan pembuluh darah, hingga neuropati yang membuat penderita tidak merasakan nyeri saat terluka.
Selain itu, gula darah yang tinggi juga memicu terjadinya gangren.
Baca Juga: Dramatis, Distribusi Logistik Pangan Desa Tempur Lewati Jalan Darurat
Luka dapat membusuk karena bakteri memperoleh pasokan energi berlebih dari gula dalam darah, dan kondisi ini kerap berujung pada amputasi.
Dokter Gia menekankan bahwa langkah pencegahan jauh lebih penting dibandingkan pengobatan.
Fakta bahwa tubuh hanya mampu mentoleransi sekitar satu sendok teh gula di seluruh aliran darah seharusnya menjadi pengingat agar masyarakat lebih bijak dalam memilih makanan dan minuman sehari-hari.
Dengan membatasi konsumsi gula dan menerapkan pola hidup sehat, berat badan dapat terjaga sekaligus melindungi pankreas serta organ vital lainnya dari kerusakan permanen.
Ia mengingatkan bahwa kesehatan adalah investasi jangka panjang, dan keputusan sederhana seperti mengurangi satu gelas minuman manis hari ini bisa menjadi langkah penting untuk mencegah masalah kesehatan di masa mendatang. (Anita Fitriani)
Editor : Ali Mustofa