RADAR KUDUS - Obat herbal selama ini dikenal sebagai pilihan alternatif bagi masyarakat yang ingin menghindari obat medis berbahan kimia sintetis.
Banyak orang meyakini bahwa karena berasal dari tumbuhan alami, obat herbal pasti lebih aman dan tidak menimbulkan efek samping berbahaya.
Namun, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar.
Seorang dokter spesialis anak sekaligus konsultan nefrologi anak menjelaskan bahwa zat herbal tetap merupakan bentuk senyawa kimia alami.
Meskipun berasal dari tumbuhan, senyawa ini tetap bekerja di dalam tubuh dan berpotensi menimbulkan dampak negatif, terutama pada organ vital seperti ginjal.
Jika dikonsumsi tanpa pengawasan, obat herbal justru bisa memicu gangguan ginjal, bahkan memperparah kondisi yang sudah ada.
Menurut penjelasan dokter tersebut, sayuran hijau yang sering dijadikan bahan dasar obat herbal memang kaya akan vitamin, termasuk vitamin K.
Namun bagi penderita gangguan ginjal, khususnya yang mengalami hiperkalemia atau kadar kalium yang tinggi, kandungan tersebut justru dapat menjadi berbahaya.
Konsumsi tanpa kontrol medis dapat meningkatkan risiko komplikasi serius.
Masalah lain yang juga disoroti adalah kurangnya transparansi informasi pada banyak produk herbal yang beredar di pasaran.
Tidak semua mencantumkan komposisi bahan secara jelas, bahkan sebagian di antaranya belum memiliki izin edar resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Padahal, suatu produk baru bisa dikatakan aman jika telah melalui uji klinis dan standarisasi bahan baku secara ketat.
Uji keamanan seharusnya mencakup dosis yang tepat, cara penggunaan yang aman, efektivitas, pemantauan efek samping, serta potensi interaksi dengan obat-obatan lain.
Faktanya, masih banyak produk herbal yang klaim khasiatnya hanya didasarkan pada uji coba pada hewan atau pengalaman empiris, bukan hasil penelitian pada manusia.
Dokter menegaskan bahwa obat herbal tidak seharusnya dijadikan pengganti obat medis yang telah teruji secara ilmiah.
Hal ini karena obat medis diberikan berdasarkan diagnosis, dengan dosis yang disesuaikan dengan kondisi pasien.
Sementara itu, obat herbal biasanya diproduksi secara massal tanpa mempertimbangkan perbedaan kondisi kesehatan masing-masing individu.
Mengonsumsi obat herbal bersamaan dengan obat resep dokter juga tidak disarankan.
Interaksi antara senyawa dalam herbal dan zat aktif pada obat medis dapat memicu reaksi berbahaya atau menurunkan efektivitas pengobatan.
Efek samping yang dapat muncul pun beragam, mulai dari reaksi alergi, gangguan pernapasan, sakit kepala, hingga gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare.
Pada dasarnya, obat herbal masih boleh dikonsumsi selama digunakan sebagai penunjang kesehatan atau peningkat daya tahan tubuh.
Namun, jika tujuannya untuk mengobati suatu penyakit, maka langkah paling bijak adalah berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar penggunaannya aman dan sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing. (rani)
Editor : Ali Mustofa