RADAR KUDUS - Dalam beberapa tahun terakhir, matcha berubah dari minuman tradisional Jepang menjadi ikon gaya hidup sehat bagi anak muda.
Di tangan generasi Z, bubuk teh hijau ini menjelma menjadi simbol keseharian—hadir di latte, dessert, smoothie, hingga minuman kekinian di berbagai kota besar. Rasa lembutnya, aroma khas, dan citra “lebih sehat dari kopi” membuat matcha semakin digemari.
Namun di balik warna hijaunya yang menenangkan, matcha menyimpan sisi lain yang jarang dibicarakan.
Ketika dikonsumsi sembarangan atau berlebihan, minuman ini bisa justru menimbulkan efek yang tidak diharapkan.
Apa Isi Matcha yang Membuatnya Terasa “Sehat”?
Matcha dibuat dari daun teh hijau terbaik yang ditumbuk halus. Karena dikonsumsi seluruh bagiannya, kandungan nutrisi di dalamnya menjadi lebih padat dibanding teh hijau biasa.
Beberapa komponen penting di dalam matcha antara lain:
-
Antioksidan tinggi yang membantu menangkal radikal bebas
-
Kafein yang memberikan dorongan energi
-
L-theanine yang menenangkan saraf dan membantu fokus
-
Amino acid yang mendukung metabolisme
Kombinasi inilah yang membuat matcha dianggap sebagai alternatif kopi yang lebih “halus”—memberikan energi tanpa membuat tubuh terlalu gelisah.
Namun setiap kandungan baik tetap memiliki sisi lain. Saat dikonsumsi terlalu banyak, keseimbangan itu bisa berubah menjadi masalah.
Baca Juga: Pesona Telaga Ngebel dan Kelimutu: Keajaiban Alam yang Warnanya Bisa Berubah!
Dampak Negatif jika Matcha Dikonsumsi Berlebihan
Meski image-nya sehat, matcha tetap mengandung kafein dan senyawa aktif yang kuat. Ketika takarannya melebihi batas, tubuh dapat memberikan reaksi yang kurang menyenangkan.
Beberapa efek samping yang umum terjadi antara lain:
-
Jantung berdebar akibat stimulasi kafein berlebih
-
Rasa gelisah atau cemas
-
Kesulitan tidur, terutama jika dikonsumsi malam hari
-
Masalah lambung, termasuk gerd dan perih di area ulu hati
-
Sakit kepala karena sistem saraf bekerja terlalu intens
Selain itu, tidak sedikit orang yang ternyata memiliki sensitivitas atau alergi terhadap matcha. Reaksi yang mungkin muncul dapat berupa:
-
Ruam kemerahan
-
Gatal pada kulit
-
Sesak napas pada kasus tertentu
Efek samping ini sering kali diabaikan karena matcha dianggap sebagai minuman “aman dan sehat”. Padahal tubuh setiap orang berbeda, sehingga responsnya pun bisa beragam.
Bahaya Lain: Minum Matcha Terlalu Panas
Salah satu hal yang jarang diketahui adalah risiko konsumsi matcha yang disajikan dalam suhu terlalu tinggi.
Selain berpotensi melukai kerongkongan, kebiasaan minum minuman panas ekstrem juga bisa meningkatkan risiko kanker esofagus.
Matcha yang diminum terlalu panas bukan hanya mengurangi kenikmatan rasanya, tetapi juga dapat mengiritasi saluran pencernaan bagian atas.
Inilah sebabnya, temperatur ideal menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Cara Aman Menikmati Matcha agar Tetap Jadi Minuman Sehat
Agar manfaat matcha tetap terasa tanpa harus berhadapan dengan risiko kesehatan, ada beberapa panduan konsumsi yang perlu diperhatikan.
1. Batasi konsumsi 2–4 gram per hari
Jumlah ini dinilai cukup untuk memberikan manfaat tanpa menimbulkan beban berlebih pada tubuh.
2. Ingat bahwa matcha tetap mengandung kafein
Batas konsumsi kafein untuk orang dewasa sehat adalah maksimal 400 mg per hari. Artinya, matcha tetap harus dihitung sebagai bagian dari total konsumsi kafein harian Anda.
3. Jangan minum matcha saat perut kosong
Kafein dan antioksidan pekat dalam matcha dapat memicu peningkatan asam lambung jika lambung dalam keadaan kosong. Lebih baik konsumsi setelah makan atau bersamaan dengan camilan.
4. Perhatikan suhu minuman
Agar lebih aman, sajikan matcha dalam suhu hangat atau dingin. Selain lebih nikmat, cara ini juga mengurangi risiko iritasi dan gangguan kerongkongan.
Dengan mengikuti panduan tersebut, matcha tetap bisa menjadi minuman yang menyenangkan, menenangkan, dan memberi energi positif tanpa memberi efek samping berlebihan.
Baca Juga: Sony Bikin Gebrakan: Labubu Si Boneka Viral Siap Lompat ke Layar Lebar!
Kenapa Matcha Begitu Digilai Gen Z?
Selain manfaat yang disebutkan, matcha memiliki unsur lain yang membuatnya begitu melekat di generasi muda: estetika dan citra gaya hidup sehat.
Warna hijaunya yang khas membuat matcha tampak fotogenik di media sosial. Banyak yang menjadikannya sebagai simbol keseimbangan hidup—minuman yang dianggap memberi ketenangan sekaligus meningkatkan produktivitas.
Padahal, gaya hidup sehat tidak hanya ditentukan oleh satu minuman. Ketika matcha ditempatkan sebagai “penolong utama” tanpa memahami batasannya, justru di situlah risikonya muncul.
Matcha Tetap Menawan, Asal Tahu Batasnya
Matcha memang kaya manfaat: membantu fokus, menenangkan pikiran, hingga memberi dorongan energi yang stabil. Namun seperti makanan atau minuman apa pun, kuncinya adalah keseimbangan.
Ketika dikonsumsi sesuai takaran, matcha bisa menjadi teman sehari-hari yang memberikan dampak positif.
Namun ketika diminum berlebihan, apalagi dalam kondisi terlalu panas atau saat perut kosong, matcha berpotensi menjadi bumerang bagi kesehatan.
Menikmati matcha dengan bijak adalah cara terbaik agar minuman hijau ini tetap menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang sesungguhnya—bukan sekadar tren sementara.
Editor : Mahendra Aditya