Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ternyata! Gangguan Makan Termasuk dalam Kategori Gangguan Mental Loh!

Redaksi Radar Kudus • Rabu, 16 Juli 2025 | 17:05 WIB
Gangguan Makan Masuk Kategori Gangguan Mental
Gangguan Makan Masuk Kategori Gangguan Mental

RADAR KUDUS - Gangguan makan merupakan bagian dari spektrum gangguan kejiwaan.

Dalam kategori ini tercakup beberapa jenis, seperti anoreksia nervosa (keengganan makan secara ekstrem), bulimia nervosa (kebiasaan memuntahkan makanan setelah makan), dan binge eating disorder.

Yakni dorongan makan berlebihan dalam waktu singkat. Penjelasan ini disampaikan oleh Anindita Citra, psikolog dari LightHouse.

Baca Juga: Mengenal Daesang Scholarship Programs, Beasiswa Kuliah di ITB Gratis 6 Semester, Ini Persyaratan dan Manfaatnya bagi Mahasiswa

Ia menambahkan, terdapat pula jenis gangguan makan yang dipicu oleh kondisi emosional, antara lain compulsive overeating (makan tanpa kontrol).

Emotional eating (mengonsumsi makanan sebagai pelarian emosional), yoyo syndrome (berat badan fluktuatif), hingga social eater.

Yakni kebiasaan makan berlebihan saat berada dalam pergaulan atau lingkungan sosial.

“Bagi sebagian individu, gangguan makan bisa muncul akibat perpaduan berbagai faktor,” ujar Anindita, lulusan Universitas Indonesia dalam sebuah diskusi.

Ia mencontohkan, seseorang bisa mengalami anoreksia saat remaja di bangku SMP atau SMA, lalu beralih ke bulimia ketika memasuki masa kuliah.

Lebih lanjut, Anindita menyoroti peran ibu dalam membentuk persepsi tubuh anak perempuannya.

Ungkapan-ungkapan seperti ‘perut buncit’ atau ‘terlalu gemuk’ saat bercermin bisa tertanam di benak anak.

Baca Juga: Mengintip Spesifikasi Huawei Mate 11.5 (2025) yang Resmi Rilis di Pasar Global, Berapa Harganya?

“Anak perempuan akan menyimpulkan bahwa untuk menjadi cantik, tubuh tidak boleh gemuk,” katanya.

Senada dengan itu, psikolog Naomi Ernawati Lestari mengungkapkan bahwa mayoritas pasien bulimia dan anoreksia yang datang ke klinik LightHouse adalah anak-anak, remaja putri, atau perempuan muda di usia awal 20-an.

“Sekarang ini trennya mereka tahu dari internet, nonton TV atau saling mencontoh di lingkaran pertemanan untuk memuntahkan makanan setelah makan banyak,” ujar Naomi.

Ia menambahkan, pasien umumnya datang setelah mengalami tanda-tanda fisik, seperti kulit menjadi kering, kerontokan rambut, gigi yang mulai rapuh, hingga gangguan menstruasi.

“Kami biasanya merujuk pasien ke dokter karena kondisi fisiknya sudah perlu penanganan medis,” ujarnya.

Baca Juga: Buruan Daftar! Beasiswa Talent Akad Foundation Kembali Dibuka, Catat Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran

Untuk penderita anoreksia, tanda membaiknya kondisi fisik antara lain adalah kulit kembali lembap dan siklus menstruasi normal.

Sedangkan pada bulimia, fokus penanganan adalah mengurangi intensitas memuntahkan makanan.

Sebagai langkah pemulihan, Anindita menyebut bahwa Family Behaviour Therapy yakni terapi yang melibatkan anggota keluarga terbukti efektif untuk menangani kasus bulimia dan anoreksia pada anak-anak dan remaja.

“Karena pada usia tersebut, mereka masih dalam tahap perkembangan dan belum stabil secara emosi,” jelasnya.

Terapi biasanya dilakukan bertahap selama kurang lebih tiga bulan. (Octa Afriana A) 

 

Editor : Ali Mustofa
#makan #kejiwaan #dokter #Gangguan mental #anoreksia #makanan