JEPARA - Fenomena overpopulasi monyet liar di Karimunjawa kini mulai memunculkan masalah baru.
Kekurangan sumber pangan di habitat aslinya membuat kawanan monyet turun ke kawasan permukiman warga untuk mencari makan.
Pegiat Seni dan Budaya, Widyo Babahe Leksono, menyampaikan bahwa kondisi ini perlu segera diantisipasi.
Di antara upaya yang dilakukan masyarakat bersama pegiat lingkungan ialah dengan menanam pohon berbuah di wilayah sekitar hutan ataupun perbukitan.
Langkah tersebut diharapkan dapat menyediakan sumber pangan alami bagi satwa liar dan mengurangi interaksi negatif antara manusia dan monyet.
Babahe sapaan akrabnya, menyampaikan kegiatan penanaman pohon buah tersebut menjadi bagian dari gelaran PasArt Jatikerep 2025.
Diselenggarakan oleh Paguyuban Budaya Jati Kerep di Pendapa Budaya Bukit Jatikerep, Karimunjawa, pada Kamis-Sabtu (23–25/10).
Dengan mengusung tema 'Satu, Indonesia', kegiatan ini memadukan seni, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Karimunjawa.
Pada hari pertama Kamis (23/10), acara dibuka dengan kegiatan penanaman pohon buah sebagai simbol pelestarian alam dan keberlanjutan budaya, dilanjutkan dengan pameran karya seniman lokal.
Hari kedua Jumat (24/10) diisi dengan pelatihan wedang jamu serta sarasehan budaya yang membahas keberagaman dan persatuan dalam bingkai kebudayaan Nusantara.
Sementara hari ketiga, Sabtu (25/10) menjadi puncak acara dengan pameran produk lokal, kuliner tradisional, serta pertunjukan wayang dongeng, wayang boneka, opera dolanan tradisi, teaterikal Satu Indonesia, dan barongan bocah.
Menurut Babahe, PasArt Karimunjawa merupakan wadah untuk mempromosikan dan memasarkan produk budaya yang tumbuh dari masyarakat multietnis di Karimunjawa.
Terdiri dari suku Jawa, Bugis, Madura, Bajo, Mandar, dan Buton. Budaya tersebut tercermin dalam tradisi, kuliner, souvenir, kerajinan, seni, hingga ritual masyarakat.
"PasArt Jatikerep ini menjadi langkah awal memperkenalkan produk budaya Karimunjawa yang berlokasi di Dukuh Jatikerep, Desa Karimunjawa. Selain meningkatkan perekonomian masyarakat, kegiatan ini juga menumbuhkan wisata berbasis budaya," jelasnya Jumat (24/10).
Pihaknya menambahkan, PasArt juga berfungsi sebagai pusat informasi budaya bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Sehingga para pengunjung tidak kebingungan mencari ragam budaya khas Karimunjawa.
"Proses penyelenggaraan pariwisata harus berkelanjutan, dengan melibatkan masyarakat lokal. Organik, sehingga warga tidak menjadi penonton di tanahnya sendiri, melainkan juga turut andil dalam mengenalkan kepada para pengunjung. Wajah Karimunjawa, tak hanya dengan alam tapi karakter sosial, kultural dan budayanya yang beragam," tandasnya.(fik)
Editor : Ali Mustofa