JEPARA — Amplop berisi kertas berwarna, masih menjadi penentu dalam perpolitikan di akar rumput.
Hal tersebut dijumpai menjelang pemilihan petinggi di Jepara, pada Selasa (3/11) pagi.
Dari 24 Desa di Kabupaten Jepara, Desa Sengonbugel Kecamatan Mayong menjadi titik yang menunjukkan persaingan ketat.
Total Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Desa ini sejumlah 3.930.
Baca Juga: Update Hasil Pilpet Jepara: Calon Nomor 3 Menang Telak Pilpet Desa Kecapi Jepara, Raup 4.977 Suara
Di samping lima orang yang pasang badan untuk menjadi petinggi tersebut, serangan fajar masih terlihat.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Radar Kudus, terdapat tiga calon yang bergerilya menyebar tak sedikit dluwang merah bergambar Soekarno-Hatta.
Bervariasi. Satu calon petinggi ada yang memberi calon pemilih Rp 100 ribu, Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu per kepala atau per orang yang memiliki suara.
Calon petinggi Desa Sengonbugel bernomor urut 1 Solikhan, kemudian nomor urut 2 Bambang Sutrisno, nomor urut 3 Teguh Santoso, nomor urut 4 Mulyono serta nomor urut 5 Nor Kholis.
Semula, nomor urut 2 mulai menyebar uang sejak Senin (1/11) sore usai Asar dengan nominal Rp 100 ribu.
Kemudian Selasa (2/11) pagi buta, dua calon lainnya beradu nominal.
Di waktu menjelang Subuh tersebut, calon nomor urut 4 mengucurkan Rp 150 ribu. Sedangkan calon petinggi nomor urut 1, memberikan Rp 300 ribu per kepala untuk mendulang suara.
Setidaknya sejak pukul 07.00, suasana riuh tampak di SMAN 1 Mayong. Di pukul itulah pemungutan suara dimulai hingga pukul 13.00.
Para pendukung berbondong-bondong datang, silih berganti.
Baca Juga: Update Hasil Pilpet Jepara: H. Mohamad Bachri Menang Pilpet Desa Ngeling Jepara, Unggul 1.116 Suara
Bahkan sejumlah kandidat, seperti Mulyono juga menyiapkan menu sarapan di sekitar lokasi pemungutan suara. Termasuk yang diantar jemput menggunakan kendaraan roda empat, mobil dan angkot.
Puncaknya terjadi di saat jam istirahat para pekerja pabrik.
Dengan seragam tempat bekerjanya, kawula muda turut menyalurkan hak pilihnya.
Perhitungan suara dimulai pukul 13.15 hingga 15.30.
Sengonbugel menjadi medan perebutan, lantaran secara peta wilayah termasuk ke dalam pertumbuhan industri manufaktur padat karya terbesar di Jepara.
Lahan di desa yang masuk ke dalam Kecamatan Mayong ini menjadi koridor yang diarahkan untuk pembangunan pabrik dan kegiatan industri terkait.
Di samping itu, juga diperuntukkan untuk kawasan perumahan baik tapak komersial maupun kompleks subsidi.
"Banyak pabrik asing di sini. Ada 19-an. Sebulan itu bisa setor Rp 80-an juta ke desa (petinggi, red). Semacam uang limbah," ucap salah satu sumber Radar Kudus.
Solikhan, sebagai calon petinggi nomor urut 1, menang telak. Mendapatkan 1519 suara.
Unggul dari calon petinggu nomor urut 4 Mulyono dengan 1070 suara. Disusul Bambang Sutrisno 998 suara. Nor Kholis 22 suara dan Teguh Santoso empat suara.
Baca Juga: Update Hasil Pilpet Jepara: Ahmadun Menang Telak Pilpet Desa Ngabul Jepara, Raup 6.339 Suara
Dibandingkan dengan proses pemilihan petinggi di desa lain, Desa Sengonbugel menjadi lokasi yang panas.
Dua calon diantaranya bukan warga setempat. Ber-KTP luar daerah. Seperti Bambang Sutrisno yang berdomisili di Jakarta maupun Teguh Santoso yang berasal dari Desa Rau Kecamatan Kedung.
Sementara itu, di Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan terdapat dua calon, dengan lima titik TPS.
Muhsinin menang telak atas keponakan sendiri, Agus. Ia berhasil mengumpulkan 2398 suara. Sedangkan Agus hanya mendapat 363 suara. Di samping itu, terdapat 96 suara tidak sah.
Sementara itu, kedewasaan berpolitik tampak dewasa di Desa Jlegong Kecamatan Keling.
Sukadi, maju untuk menumbangkan Suntono yang bernomor urut 1.
Suntono merupakan petahana yang sebelumnya telah terpilih dua periode. Bersambung pada istrinya satu periode. Telah berkuasa hampir 30 tahun.
Dalam pemilihan petinggi tahun 2026 ini yang berlangsung serentak di 24 desa, sebagian besar masyarakat menghendaki 'rezim keluarga' berakhir dan mendapatkan ganti yang lebih baik.
Suntono hanya mendapatkan 1000 suara, sedangkan Sukadi mendapatkan 1085 suara.
Hingga Selasa (3/11) pukul 17.00, masih proses menunggu rekapitulasi total dari desa-desa lain.(fik)
Editor : Mahendra Aditya