JEPARA – Ada yang berbeda pada jam makan siang siswa SD Swasta Kanisius Jepara. Dalam uji coba Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan pola prasmanan, siswa tidak lagi menerima makanan dalam porsi yang sudah ditentukan.
Mereka bisa mengambil makanan sesuai kebutuhan. Jika masih kurang, siswa juga diperbolehkan meminta tambahan.
Pola tersebut diterapkan dalam pilot project MBG prasmanan yang memasuki hari keempat pada Kamis (8/10/2026). Suasana makan siswa pun terlihat lebih antusias dibanding pola pemorsian sebelumnya.
Sejumlah siswa tampak lahap menyantap makanan. Bahkan, ada yang kembali meminta tambahan porsi setelah makanan yang diambil sebelumnya habis.
Siswa Ambil Sendiri Menu MBG
Dalam pola prasmanan, proses pemorsian tidak lagi sepenuhnya dilakukan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Makanan dibawa ke sekolah dan disajikan di meja prasmanan.
Siswa kemudian mengambil makanan yang tersedia dengan tetap memperhatikan ketertiban dan kebersihan.
Beberapa siswa kelas besar juga dilibatkan untuk membantu menyajikan makanan kepada teman-temannya.
Pada Kamis, menu yang tersedia terdiri atas nasi putih, pangsit ayam, tahu goreng, tumis wortel dan buncis, serta buah jeruk.
Menu tersebut berganti setiap hari.
Pada Rabu (7/10), siswa mendapat nasi putih, telur rawis, orek tempe, lalapan timun dan sambal, serta buah apel.
Sehari sebelumnya, Selasa (6/10), menu berupa nasi putih, chicken crispy, kacang kedelai rebus, tumis wortel dan kol, serta buah kelengkeng.
Sementara pada hari pertama, Senin (5/10), siswa mendapat nasi putih, otak-otak asam manis, tahu fantasi, tumis buncis dan wortel, serta buah anggur.
Bisa Tambah Porsi
Korwil SPPG Kabupaten Jepara Muhammad Wildan Musthofa mengatakan, keleluasaan mengambil makanan menjadi salah satu kelebihan pola prasmanan.
Siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan. Jika porsi yang diambil dirasa masih kurang, mereka dapat meminta tambahan.
Menurutnya, pola tersebut juga berpotensi mengurangi makanan yang terbuang karena siswa tidak harus menerima porsi yang sama.
“Diharapkan jika ada proses edukasi kandungan gizi dalam proses pendistribusian, anak-anak tambah senang melihat dan mengambil MBG karena fresh, bahkan bisa tambah,” jelasnya.
SPPG juga dapat menyesuaikan kebutuhan tambahan porsi berdasarkan jumlah siswa yang dilayani.
“Dari SPPG melakukan penambahan porsi dari jumlah kuota,” sebutnya.
Makanan Lebih Fresh
Perubahan pola penyajian juga membuat makanan dapat langsung dilihat siswa sebelum mereka mengambilnya.
Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar yang turut memantau pelaksanaan MBG menilai siswa terlihat lebih tertarik dengan pola tersebut.
Menurutnya, makanan yang disajikan secara prasmanan terlihat lebih fresh sehingga meningkatkan selera makan siswa.
“Ada beberapa catatan dan temuan, tapi memang anak-anak lebih suka ketika disajikan MBG-nya secara prasmanan,” ucapnya.
Ibnu Hajar bahkan ikut menyantap menu MBG bersama para siswa.
“Ya enak. Nasinya hangat, lauknya pangsit ayam, tahu goreng, tumis sayur wortel buncis,” katanya.
Waktu Makan Bertambah
Di balik antusiasme siswa, pola prasmanan juga membawa konsekuensi pada durasi makan.
Jika sebelumnya waktu istirahat sekitar 15–20 menit, dalam pola prasmanan siswa membutuhkan waktu sekitar 30–40 menit.
Pemkab Jepara mencatat kondisi tersebut sebagai salah satu bahan evaluasi. Sebab, bertambahnya waktu makan berpotensi memengaruhi jam pembelajaran dan kepulangan siswa.
Ibnu Hajar mengatakan, persoalan tersebut akan dikoordinasikan dengan Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Salah satu opsi yang muncul adalah menyesuaikan jam kepulangan siswa.
“Misalnya jam kepulangan pukul 12.45 jadi jam 13.00, itu ditujukan untuk mengganti jam istirahat yang molor,” ujarnya.
Ia juga meminta pelaksanaan prasmanan tidak menambah beban guru maupun mengganggu proses belajar mengajar.
Keterlibatan siswa dalam membantu penyajian juga perlu diatur agar tidak menjadi beban tambahan bagi mereka.
“Ketika anak-anak sudah membantu pemorsian, jadi anak-anak tidak usah membantu piket bersih-bersih kelas misalnya,” ungkapnya.
Dua Minggu Jadi Masa Uji Coba
Di Jepara, pola prasmanan baru diterapkan di SD Swasta Kanisius Jepara. Sekolah tersebut merupakan salah satu dari sembilan sekolah yang dilayani SPPG Jepara Kauman 02.
Uji coba dijadwalkan berlangsung selama dua minggu sebelum dilakukan evaluasi.
Secara nasional, pola MBG prasmanan juga masih dalam tahap uji coba dan diterapkan di sekitar 60 titik.
Wildan mengatakan konsep tersebut merupakan inisiatif Kepala BGN setelah melakukan kunjungan ke Jepang.
Setelah masa uji coba selesai, pelaksanaan akan dievaluasi untuk menentukan kemungkinan penerapan di sekolah lain.
Pemkab Jepara berharap pola serupa dapat dicoba di sekolah pada kecamatan lain. Dengan begitu, respons siswa dan kesiapan sekolah dengan kondisi berbeda dapat menjadi bahan pertimbangan sebelum penerapan diperluas.
Bagi siswa, perubahan itu mungkin terlihat sederhana: mengambil sendiri makanan yang diinginkan dan boleh meminta tambahan. Namun bagi pengelola program, pola tersebut menjadi bagian dari upaya mencari cara agar makanan bergizi tidak hanya sampai ke meja siswa, tetapi juga benar-benar disantap dan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Editor : M. Khoirul Anwar