JEPARA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan mulai diterapkan di Kabupaten Jepara.
SD Swasta Kanisius Jepara menjadi sekolah yang ditunjuk sebagai lokasi pilot project penerapan pola penyajian tersebut.
Pilot project itu mulai dilaksanakan Senin (5/10) dan dijadwalkan berlangsung selama dua pekan.
Penerapannya menyasar siswa kelas IV dan V SD Swasta Kanisius Jepara dengan total 25 siswa.
Korwil SPPG Kabupaten Jepara Muhammad Wildan Musthofa mengatakan, penerapan MBG prasmanan di Jepara merupakan bagian dari proyek percontohan. Ditujukan untuk melihat efektivitas pola penyajian makanan tersebut.
"Kebetulan di Jepara masuk project piloting. Sementara ini periodenya dua minggu," ungkapnya, pada Selasa (6/10).
Dalam skema tersebut, makanan disiapkan di SPPG Jepara Jepara Kauman 2, kemudian dikirim ke sekolah.
Pada hari pertama, makanan berangkat dari SPPG sekitar pukul 08.30 WIB dan tiba di sekolah pukul 08.33 WIB.
Praktik prasmanan dimulai sekitar pukul 09.00 WIB.
Siswa tidak sekadar menerima makanan yang telah diporsikan, namun juga terlibat dalam proses persiapan dan pemorsian dengan pendampingan dari pihak SPPG.
Wildan menyebut, pola ini diharapkan dapat memberikan pengalaman berbeda kepada siswa. Sekaligus membuat anak-anak lebih antusias saat menerima MBG.
Namun, penerapan perdana juga menjadi bahan evaluasi.
Salah satunya berkaitan dengan efisiensi waktu. Agar pelaksanaan prasmanan tidak mengurangi waktu belajar siswa.
"Kalau dari siswanya memang perlu adaptasi. Penyiapannya jangan sampai mengurangi jam sekolah siswa," imbuhnya.
Pada Senin (5/10), proses memasak selesai sekitar pukul 07.00 WIB dengan suhu makanan tercatat 124,4 derajat Celsius.
Saat tiba di sekolah, makanan kemudian disiapkan untuk mulai disajikan secara prasmanan pukul 09.00 WIB.
Suhu makanan saat mulai prasmanan tercatat 43 derajat Celsius.
Sementara kegiatan makan selesai sekitar pukul 09.40 WIB dengan total holding time selama 120 menit.
Pada Senin (5/10), menu yang dibagikan berupa nasi putih, otak-otak asam manis, tahu fantasi, tumis sayur buncis wortel, serta buah anggur.
“Ya Selasa (6/10) ini merupakan hari kedua. Skema penerimaannya hampir sama seperti hari pertama," ujarnya.
Dari sisi keamanan dan higienitas, hasil uji organoleptik dinyatakan layak.
Para siswa, utamanya yang membantu penyajian juga mengenakan alat pelindung diri (APD).
Wildan menyebut, kepuasan sementara di masa awal pilot project ini 3/5.
Kendati demikian, para siswa terlihat antusias mengikuti sistem prasmanan.
Karena mereka dilibatkan langsung dalam proses persiapan dan pemorsian makanan. Kondisi tersebut dinilai turut membuat makanan lebih banyak dihabiskan.
“Dari sisi food waste, makanan yang tersisa hanya 0,8 kilogram. Rinciannya terdiri atas 0,5 kilogram nasi atau karbohidrat dan 0,3 kilogram sayuran. Tidak terdapat sisa protein hewani, protein nabati, maupun buah atau makanan lainnya,” jelasnya.
Namun, di sisi lain, pendampingan dari SPPG tetap diperlukan.
Hal itu untuk mencegah terjadinya miskomunikasi antara siswa yang bertugas dalam persiapan dan pemorsian. Hemat kata, untuk mendukung kelancaran distribusi.
Wildan juga menambahkan, evaluasi akan dilakukan selama dua pekan untuk menentukan efektivitas pola MBG prasmanan tersebut.
Hasil evaluasi nantinya menjadi bahan pertimbangan untuk penerapan lebih lanjut.
"Untuk perluasan skema pembagian (prasmanan, red), masih menunggu kebijakan dari pusat nanti seperti apa. Terutama setelah program berjalan selama dua pekan," ucapnya.
Direncanakan, Wakil Bupati Jepara akan meninjau pelaksanaan pilot project tersebut pada Kamis (8/10), untuk melihat langsung penerapan MBG prasmanan di SD Swasta Kanisius Jepara.
“Dari kami juga akan mendampingi,” pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya