Hari Batik Momen Menjaga dan Kembangkan Motif Khas Jepara, Turis Mancanegara Kepincut

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 17:06 WIB
TELATEN: Perajin di Gendhis Batik tengah membuat motif kura-kura khas Pantai Kartini Bandengan. (ALFIYAH UNTUK RADAR KUDUS)
TELATEN: Perajin di Gendhis Batik tengah membuat motif kura-kura khas Pantai Kartini Bandengan. (ALFIYAH UNTUK RADAR KUDUS)

JEPARA — Guratan canting di atas kain bukan sekadar rangkaian motif dan warna. Namun menyimpan identitas, sejarah, serta kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi. 

Setiap helai batik bercerita tentang identitas dan kekayaan budaya daerah. Di Jepara, cerita itu dituangkan melalui beragam motif yang terinspirasi dari kearifan lokal. 

Mulai dari ukiran khas Jepara, ornamen Masjid Mantingan, hingga tradisi Perang Obor dan kekayaan biota laut, termasuk motif Jeparanan lainnya. 

Motif-motif ini menjadi cara para pembatik menjaga agar identitas Jepara tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Bagi para pembatik di Jepara, Hari Batik Nasional menjadi pengingat. Kekayaan motif daerah harus terus dijaga sekaligus dikembangkan agar tidak tergerus zaman.

SEMANGAT: Siswa SMKN 2 Jepara tengah melakukan demo membatik dan parade fashion show pada peringatan Hari Batik, Jumat (2/10).
SEMANGAT: Siswa-siswi SMKN 2 Jepara tengah melakukan demo membatik dan parade fashion show pada peringatan Hari Batik, Jumat (2/10).

Semangat itu terlihat dalam peringatan Hari Batik di SMK Negeri 2 Jepara, Jumat (2/10). 

Sekolah ini menggelar demo membatik dan fashion show untuk mengenalkan proses membatik.

Tak hanya mempertahankan tradisi, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk menunjukkan potensi motif Jeparanan yang memiliki karakter dan identitas tersendiri.

Guru produktif jurusan Kriya Kreatif Batik dan Tekstil SMKN 2 Jepara, Alfiyah, mengatakan, batik Jepara memiliki kekayaan inspirasi yang bersumber dari sejarah dan kehidupan masyarakat setempat.

Ia sendiri mulai mengenal dan menekuni batik sejak menempuh pendidikan di SMKN 2 Jepara pada 2000. Saat itu, Alfiyah masuk jurusan Kriya Tekstil. 

Perjalanannya berlanjut, menempuh pendidikan seni rupa pada 2003 dan mengambil proyek studi batik sebagai syarat kelulusan pada 2007.

Sejak itu, berbagai motif khas Jepara terus dikembangkan. 

MENDUNIA: Turis asal Norwegia tertarik berbagai motif batik khas Jeparanan.
MENDUNIA: Turis asal Norwegia tertarik berbagai motif batik khas Jeparanan.

Mulai dari inspirasi ukiran Jepara, panel motif Masjid Mantingan, hingga ragam kearifan lokal seperti tradisi Perang Obor, patung tiga pahlawan putri, burung merak, bunga kantil, bunga randu khas Desa Krapyak, maupun biota laut representasi Karimunjawa.

Menurutnya, motif bernuansa ukiran Jepara mendominasi penjualan. "Yang banyak dicari konsumen seperti motif bernuansa ukiran Jepara, karena menjadi identitas Jepara sebagai Kota Ukir," ungkapnya, Jumat (2/10).

Dari sisi pemasaran, produk batik yang dihasilkan masih didominasi pesanan dalam negeri. 

Namun, sejumlah pembeli dari luar negeri, di antaranya Norwegia maupun Turki, pernah datang langsung ke rumahnya. 

Salah satu pelanggan tetap dari Jakarta Selatan bahkan memesan seragam batik untuk sekolah Hafidz Emirates.

Dalam sebulan, produksi batik yang dikerjakan mencapai sekitar 100 potong. Jumlah tersebut menyesuaikan pesanan yang masuk. Tidak jarang konsumen memesan dalam jumlah 60, 70, hingga 80 potong.

Alfiyah menilai, batik Jepara memiliki akar sejarah yang kuat. 

Bahkan, Kartini disebut telah memperkenalkan batik Jepara ke luar negeri, melalui pemberian buah tangan kain batik kepada sahabat korespondensinya di Belanda.

ANTUSIAS: Para siswa tengah nguri-nguri dan belajar membatik di Gendhis Batik.
ANTUSIAS: Para siswa tengah nguri-nguri dan belajar membatik di Gendhis Batik.

Selain itu, keberadaan Sekolah Menengah Industri Kerajinan (SMIK) yang memiliki jurusan batik, turut menjadi bagian dari sejarah perkembangan pembatik di Jepara.

Meski memiliki kekhasan motif dan pilihan warna yang cerah serta variatif, Alfiyah mengakui masih ada tantangan yang dihadapi perajin. 

Di antaranya kecenderungan motif yang dibuat menjadi lebih sederhana, karena permintaan pasar mengarah pada produk dengan harga terjangkau dan waktu pengerjaan lebih cepat.

Keterbatasan tenaga kerja juga menjadi persoalan. 

Sebab, lulusan sekolah kejuruan bidang batik saat ini lebih banyak memilih bekerja bidang lain, dibandingkan merintis usaha sendiri.

"Harapan saya, batik jangan hanya menjadi sesuatu yang diperingati setiap tahun. Harus ada rasa cinta dan memiliki bahwa batik merupakan warisan bangsa Indonesia. Generasi muda juga harus bangga memakai batik asli, khususnya produk daerah sendiri," pesannya.

Semangat serupa disampaikan Perajin Batik Kembang Mulyo, Nurunnikmah Awwalina.

Perempuan 42 tahun ini, mengaku mulai belajar membatik pada 2011 lalu. 

Ia konsisten mengembangkan motif khas Jepara, seperti motif Tiga Putri, Jung Jepara, maupun Elung Jepara.

Lina menyebut, batik Jepara kini mulai menunjukkan perkembangan. 

Terlebih, semakin banyak instansi yang mewajibkan penggunaan pakaian dinas bermotif batik Jepara, setidaknya menggunakan batik cap.

Dalam kapasitas produksinya, Batik Kembang Mulyo mampu menghasilkan sekitar 200 potong batik cap per bulan. 

Sementara untuk batik tulis, produksinya sekitar dua potong per bulan karena proses pengerjaannya membutuhkan waktu lebih panjang.

Pemasaran batik Kembang Mulyo juga pernah menjangkau pasar luar negeri. 

Sebelum pandemi Covid-19, pembeli dari Australia dan Singapura sempat memesan produknya. Bahkan, pada 2019, batik karyanya telah dibawa hingga ke Jepang.

Namun, perjalanan mengembangkan usaha batik tidak selalu mudah. 

Ketersediaan bahan baku yang masih harus didatangkan dari luar kota, serta sulitnya mencari tenaga ahli membatik di Jepara menjadi kendala tersendiri.

"Semoga batik Jepara semakin berkembang hingga mancanegara. Mari lestarikan batik Jepara, minimal dengan memiliki dan mengenakannya. Semoga setiap tahun semakin banyak pembatik baru yang lahir di Jepara," ungkapnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
Jeparanan peringatan hari batik Jepara batik Jepara diminati turis mancanegara SMKN 2 Jepara batik jepara