JEPARA – Aktivitas tambang di Desa Tunggulpandean, Kecamatan Nalumsari, Jepara, dikeluhkan warga karena dinilai semakin mendekati permukiman. Warga juga mengkhawatirkan potensi longsor, debu, serta persoalan sumber air dan irigasi.
Warga Nalumsari berinisial NK mengatakan lahan yang kini menjadi lokasi aktivitas tambang sebelumnya merupakan sawah dan tegalan.
“Kalau lama-lama pengerukannya sampai hampir jalan. Itu kan sudah mendekati rumah-rumah warga. Takut longsor, debu juga,” ungkapnya.
Lahan Pertanian Ikut Terdampak
Menurut NK, lahan pertanian di sekitar lokasi biasanya ditanami padi hingga dua kali dalam setahun.
Karena itu, aktivitas pengerukan dinilai berpotensi mengganggu lahan pertanian dan infrastruktur pendukungnya.
Selain kondisi lahan, warga juga mengeluhkan persoalan saluran air untuk pertanian.
Saluran Air Belum Mengalir
NK mengatakan saluran yang sebelumnya dibangun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) belum mengalirkan air secara optimal ke lahan pertanian di sekitar lokasi.
“Sebetulnya kemarin sudah dibangunkan dari BBWS, tapi mungkin tidak sampai sini karena sudah rusak jalur airnya,” ujarnya.
Persoalan tersebut menjadi perhatian warga karena aktivitas pertanian masih berlangsung di kawasan sekitar tambang.
Empat Lokasi Diperiksa
Keluhan warga tersebut muncul di tengah pemeriksaan Tim Terpadu Penataan Pertambangan MBLB Jepara terhadap empat lokasi tambang di Tunggulpandean, Kamis (24/9/2026).
Cabang Dinas ESDM Wilayah Kendeng Muria memastikan keempat lokasi tidak memiliki izin pertambangan. Lokasi-lokasi tersebut juga berada di kawasan tanaman pangan, dengan sejumlah titik masuk kawasan LSD dan LBS.
Editor : M. Khoirul Anwar