Sidak SPPG Berlangsung Dua Pekan, Dinkes Temukan Bakteri hingga Air Tercemar

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 18:53 WIB
UJI SAMPEL: Proses pengujian sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan di sejumlah SD di Jepara, pada pekan lalu. (DKK JEPARA UNTUK RADAR KUDUS)
UJI SAMPEL: Proses pengujian sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan di sejumlah SD di Jepara, pada pekan lalu, Senin (14/9). (DKK JEPARA UNTUK RADAR KUDUS)

JEPARA — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selama hampir dua pekan, mulai 14 hingga 26 September 2026.

Sidak ini dilakukan sebagai tindak lanjut setelah sebelumnya terjadi dugaan keracunan makanan, pada penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara Hesti Prihandari menyebutkan, pihaknya juga melakukan surveilans untuk menelusuri dugaan penyebab kejadian tersebut.

"Surveilans membuat laporan ke Dinkes. Kemudian dilakukan pengambilan sampel pada 16 September untuk diperiksa di Labkes dalam rangka memastikan penyebab kejadian yang diduga keracunan makanan," ungkapnya.

Sampel makanan yang diperiksa meliputi nasi, chicken katsu, tumis sayur kol dan wortel, serta tahu goreng saus mentai.

Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut telah rampung pada Minggu (20/9) lalu. 

Dari pemeriksaan, ditemukan sejumlah mikroorganisme pada beberapa sampel makanan yang ditarik.

"Pada chicken katsu dan sayur kol wortel ditemukan bakteri Staphylococcus aureus. Selain itu ditemukan yeast and mold atau jamur pada kedua sampel tersebut," jelasnya.

Sementara itu, bakteri Enterobacteriaceae ditemukan pada sampel nasi dan sayur kol wortel. 

Sedangkan bakteri Salmonella sp ditemukan pada sampel sayur kol wortel.

Tak hanya makanan, pemeriksaan juga dilakukan terhadap air yang digunakan dalam proses pengolahan.

Hesti menyebut, pada air bersih untuk mencuci ditemukan bakteri coliform sebanyak 146, atau telah melebihi baku mutu.

Sedangkan pada air minum, jumlah koloni bakteri terlalu banyak untuk dihitung atau tercatat lebih dari 200 koloni.

Hesti menyebutkan, temuan Salmonella menjadi salah satu perhatian. Karena bakteri tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan, termasuk penyakit tifoid.

"Pemicu diduga terjadinya keracunan, salah satunya adanya Salmonella. Ini merupakan kuman yang dapat menyebabkan penyakit tipes," ucapnya.

Baca Juga: https://radarkudus.jawapos.com/jepara/2609160063/kembali-terjadi-belasan-siswa-di-jepara-diduga-keracunan-usai-santap-mbg

Dari hasil penelusuran, Dinkes juga mengidentifikasi sejumlah faktor risiko. 

Di antaranya berkaitan dengan penyimpanan bahan pangan, khususnya ayam mentah, serta potensi kontaminasi silang saat proses pengemasan makanan.

"Fktor risikonya penyimpanan ayam mentah dan kemungkinan terjadi kontaminasi silang pada saat packing," imbuhnya.

Untuk memastikan penerapan standar keamanan pangan, sidak terhadap SPPG dilakukan secara berkelanjutan sejak 14 hingga 26 September. 

Pemeriksaan tersebut melibatkan satgas di tingkat kecamatan.

Selain pengawasan terhadap SPPG, Dinkes juga merekomendasikan adanya penguatan standar dalam pengelolaan dapur MBG.

Baca Juga: https://radarkudus.jawapos.com/jepara/2609160065/sppg-buka-suara-usai-dugaan-keracunan-mbg-di-jepara-ribuan-menu-ditarik

Hesti menyampaikan, pihaknya merekomendasikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) agar terdapat standardisasi sumber daya manusia yang menangani pengelolaan SPPG, termasuk tenaga ahli gizi.

Standardisasi tersebut dinilai perlu mencakup seluruh tahapan pengelolaan makanan, mulai dari pemeriksaan bahan baku yang datang, proses penyimpanan, pengolahan, hingga pengemasan sebelum makanan didistribusikan kepada penerima manfaat.

"Mulai pengecekan barang baku sampai packing harus ada standar dan pengawasan," tegasnya.

Dinkes berharap hasil evaluasi tersebut dapat menjadi bahan perbaikan untuk mencegah kejadian serupa terulang, sekaligus memastikan makanan yang didistribusikan dalam program MBG memenuhi standar keamanan dan kelayakan konsumsi.

Sebelumnya, Ahli Gizi SPPG Jepara Karangkebagusan, Muhammad Hafizh Nugroho menyampaikan, terdapat 17 orang yang mengalami keracunan atau gangguan pencernaan. Terdiri dari 14 siswa dan tiga tenaga pendidik. 

Mereka mengalami keluhan seperti pusing dan sakit perut dan telah mendapat penanganan medis secara rawat jalan.

Saat diketahui gejala tersebut, ribuan menu yang telah dibagikan langsung ditarik.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
MBG Ditemukan bakteri SPPG Diberhentikan MBG Jepara Gangguan pencernaan keracunan mbg