JEPARA — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jepara Karangkebagusan buka suara, atas dugaan keracunan menu makan bergizi gratis (MBG).
Terutama usai 17 siswa termasuk yang mengalami keluhan kesehatan, setelah menyantap menu yang dibagikan pada Rabu (16/9).
Ahli Gizi SPPG Jepara Karangkebagusan, Muhammad Hafiz Nugroho, mengatakan pihaknya langsung melakukan penarikan menu, setelah mendapat informasi adanya keluhan dari penerima.
Baca Juga: Kembali Terjadi, Belasan Siswa di Jepara Diduga Keracunan Usai Santap MBG
Ia menjelaskan, SPPG Jepara Karangkebagusan pada hari tersebut menyiapkan sebanyak 2.688 porsi untuk delapan sekolah.
“Porsi ini untuk tiga TK, tiga SD, dan dua SMP,” sebutnya, pada Rabu (16/9).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.319 porsi diperuntukkan bagi siswa termasuk tenaga pendidik.
Sementara 369 porsi lainnya merupakan paket bagi bumil, busui, balita (3B).
"Untuk 3B ada beberapa yang sudah diedarkan dan ada yang belum. Semua kader menyatakan tidak ada keluhan," ucapnya.
Menurutnya, untuk tiga TK, menu belum sempat dibagikan kepada siswa karena langsung ditarik oleh PIC.
Sementara di jenjang SD, terdapat beberapa sekolah yang sudah menerima menu dan memakan.
Namun, sesaat setelah terendus ada yang tidak layak, kemudian dilakukan tindakan penarikan.
Tiga sekolah yang terdampak yakni SDM Karangkebagusan serta SDN Kauman.
Sementara SDN Demaan tidak terdapat keluhan.
Hafiz menyebut sejumlah penerima yang mengeluhkan gejala berupa pusing dan sakit perut.
SPPG kemudian berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan terdekat, serta mendampingi penerima yang mengalami keluhan hingga mendapatkan penanganan.
"Ada 17 orang yang dibawa ke RS PKU Aisyiyah," ujarnya.
Dari 17 orang tersebut, rinciannya terdiri atas guru TK Pertiwi, tiga siswa SD Karangkebagusan, serta 11 siswa dan dua guru SDN Kauman.
Untuk SD Karangkebagusan, lanjutnya, salah satu dari tiga siswa yang dibawa ke rumah sakit disebut sudah mengalami sakit sejak dari rumah. "Gejalanya pusing, perut sakit," katanya.
Sementara itu, terdapat pula guru TK yang mengeluhkan pusing.
Namun, Hafiz menegaskan pihaknya masih melakukan pemantauan lebih lanjut.
Kini, semua siswa dan guru yang dibawa ke RS PKU Aisyiyah telah mendapatkan penanganan dari tenaga medis.
Mereka juga telah diperbolehkan pulang setelah menjalani pemeriksaan. Beserta dibekali obat, rawat jalan.
"Anak-anak terakhir dibawa ke RS, sekitar pukul 09.30. Sekitar pukul 11.00 sudah boleh pulang, hanya lama antre untuk obat," jelasnya.
Ia menegaskan SPPG bertanggung jawab terhadap penerima yang mengalami keluhan dan terus melakukan pemantauan.
"SPPG menanggung biaya (pengobatan, red). Kami memantau terus," tegasnya.
Diketahui, SPPG Jepara Karangkebagusan ini berada di bawah naungan Yayasan Sarwo Apik Indonesia. Beroperasi sejak 20 Agustus 2025 lalu.
Terpisah, Korwil SPPG Jepara M. Wildan Musthofa membenarkan adanya kejadian tersebut.
Namun, ia mengatakan pihaknya masih melakukan investigasi. Kini masih menunggu hasil analisis termasuk uji laboratorium.
"Iya, kejadian hari ini. Ini masih investigasi," ringkasnya.
Wildan memastikan seluruh penerima yang sempat dibawa ke rumah sakit sudah diperbolehkan pulang.
"Per pukul 13.30 sudah diperbolehkan pulang semua. Hanya tadi (sempat) di IGD, rawat jalan," pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya