Petani Tempur Bangkit, Swadaya Bangun Jembatan Menuju Kebun Kopi, Siapkan Titik Wisata Baru

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 15:10 WIB
KOKOH: Jembatan yang dibangun oleh para petani kopi di Desa Tempur rampung dibangun.  (PEMDES TEMPUR UNTUK RADAR KUDUS)
KOKOH: Jembatan yang dibangun oleh para petani kopi di Desa Tempur rampung dibangun.  (PEMDES TEMPUR UNTUK RADAR KUDUS)

JEPARA — Banjir di musim hujan, kerap menjadi ancaman bagi petani kopi di Desa Tempur, Kecamatan Keling. 

Jembatan kayu yang menjadi akses menuju perkebunan berulang kali hanyut. Rusak diterjang derasnya aliran air.

Bencana datang tanpa diundang, tanpa mengenal waktu dan perhitungan. Sebelumnya longsor besar tejadi di Desa Tempur pada Jumat (9/1) lalu. Tak hanya turun di satu titik, tapi mencapai belasan titik.

Semula akses jalan putus. Melumpuhkan listrik dan jaringan. Menyisakan duka bagi masyarakat. Tapi warga Desa Tempur serta para petani tak menyerah. Bangkit kembali. 

Jalan-jalan berangsur diperbaiki, dipermulus. 

Di samping itu, para petani tak ingin terus bergantung pada jembatan sementara. 

74 petani kemudian sepakat, sengkuyung bareng membangun jembatan permanen. 

Mereka patungan, sekaligus mengerahkan tenaga, membangun akses yang lebih memadai.

Salah satu warga Asmanto mengatakan, pembangunan jembatan diupayakan secara saksama. 

Jembatan yang diberi nama Jembatan Kali Jambe itu memiliki panjang 14 meter dan lebar 2 meter.

“Ini hasil iuran 74 petani yang memiliki lahan kopi di wilayah Kalen Jambe, kami sepakat membangun jembatan permanen. Agar jalan menuju kebun dapat lebih memadai,” jelasnya. 

Para petani mengumpulkan iuran dengan nominal berbeda, mulai Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta. Secara keseluruhan terkumpul dana mencapai Rp 76.872.000.

Disebutkan lebih lanjut, pembangunan jembatan berlangsung selama 23 hari. Dimulai pada Minggu (16/8) lalu. 

Sekitar 25 orang terlibat dalam pekerjaan setiap harinya. 

“Untuk pembangunan jembatan ini, masyarakat menghabiskan sekitar 125 meter kubik batu kali,” imbuhnya.

JEMBATAN BARU: Jembatan Kali Jambe hasil swadaya warga Desa Tempur, turut disiapkan menjadi spot wisata baru.
JEMBATAN BARU: Jembatan Kali Jambe hasil swadaya warga Desa Tempur, turut disiapkan menjadi spot wisata baru.

Jembatan ini menjadi akses penting bagi aktivitas perkebunan. 

Sebab, di kawasan ini terdapat sekitar 12 hektare lahan kopi yang dikelola para petani. Dari luasan ini, selama satu musim, hasil produksi kopi dapat mencapai 11 ton.

Petinggi Desa Tempur Mariyono mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat tersebut. 

Menurutnya, pembangunan jembatan menjadi bentuk nyata kepedulian warga terhadap kemajuan desa, khususnya dalam membuka akses perekonomian.

“lni murni swadaya, baik biaya, tenaga maupun pikiran. Semuanya dilakukan secara guyub dan gotong royong,” sambungnya.

Mariyono menjelaskan, pemerintah desa sebelumnya telah membangun rabat beton. Utamanya jalur usaha tani menuju Kalen Jambe sepanjang sekitar 2 kilometer. 

Pembangunan dilakukan melalui penganggaran dengan Dana Desa dalam dua tahap. 

Ia menyebut, Jembatan Kali Jambe tidak hanya diharapkan menjadi akses ekonomi bagi petani. 

Pemdes Tempur juga berencana menjadikannya salah satu titik wisata. Khususnya wisata air dan landskap pemandangan.

Termasuk integrasi eduwisata seputar pengolahan kopi.

“Di area jembatan ini nantinya juga diberi spot foto. Sehingga titik-titik kunjungan wisatawan dapat bertambah. Sekaligus menguatkan status Desa Tempur sebagai Desa Wisata,” tandasnya.(fik)

Editor : Ali Mustofa
tempur desa wisata Petani Desa Tempur Eduwisata pengolahan kopi petani kopi Gunung Muria