JEPARA — Alat berat hingga mesin pengaspal akhirnya turun ke ruas Jalan Damarwulan - Kaliombo, sejurus ke arah Desa Wisata Tempur, pada Kamis (27/8).
Merayap perlahan-lahan naik dan menuruni area jalan berbukit. Pekerjaan digas, lembur. Dimulai pukul 09.00 hingga 21.00.
Alat berat tersebut sudah mulai dikerahkan ke lokasi sejak Selasa (25/8) lalu. Pekerjaan diperkirakan rampung dalam sepekan.
Sementara waktu, selama proses pengaspalan berlangsung, pengguna jalan juga dialihkan melalui jalur Tempur - Medani.
Akses menuju kawasan Desa Tempur, Kecamatan Keling tersebut terus diperkuat.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menggelontor anggaran Rp 4,95 miliar, untuk konsolidasi pemeliharaan Jalan Damarwulan–Tempur.
Pekerjaan tersebut memiliki volume penanganan sepanjang 9.159 meter atau sekitar 9,16 kilometer, dengan lebar jalan berkisar 3 hingga 4 meter.
Jalur Damarwulan–Tempur menjadi akses utama, menuju kawasan Tempur yang berada di lereng Muria.
Penguatan infrastruktur jalan tidak hanya memperlancar mobilitas masyarakat, tetapi juga mendukung konektivitas menuju kawasan wisata dan sentra potensi ekonomi di wilayah tersebut.
Selain ruas Damarwulan–Tempur, pengerjaan jalan juga mencakup sejumlah ruas di wilayah sekitar.
Seperti Jalan Keling–Bumiharjo sepanjang 1.530 meter dengan anggaran Rp 2,3 miliar.
Bupati Jepara Witiarso Utomo menyampaikan, saat ini pemerintah daerah fokus memperkuat akses infrastruktur menuju kawasan wisata.
Infrastruktur jalan dinilai menjadi salah satu fondasi penting, agar potensi wisata di berbagai wilayah Jepara dapat berkembang dan lebih mudah dijangkau masyarakat maupun wisatawan.
Baginya, jalan mulus sama artinya menghadirkan dampak dan perkembangan ekonomi masyarakat.
Terlebih wilayah tersebut memiliki potensi wisata alam. Di saat komoditas kopi yang terus mendapatkan perhatian lebih luas.
Sementara itu, Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Bappeda Jepara Elly Widyastuti menyebutkan, kopi Tempur kini tengah diupayakan memperoleh Indikasi Geografis (IG).
Pengakuan ini penting, untuk memperkuat identitas dan branding produk kopi yang berasal dari kawasan Tempur.
"IG sendiri penting untuk dapat meningkatkan branding daerah, sehingga wisata yang ada dapat berpadu dengan budaya dan potensi lokal," sambungnya.
Elly mengatakan, kawasan Muria sendiri terbagi dalam tiga wilayah administratif. Meliputi lereng Muria yang berada di Jepara, Kudus, dan Pati.
Namun, apabila berbicara mengenai komoditas kopi, pihaknya berharap kopi dari kawasan Tempur dapat memiliki identitas yang kuat sebagai produk khas Jepara.
Penguatan melalui Indikasi Geografis, lanjutnya, tidak sekadar berkaitan dengan promosi.
Status ini juga memberikan perlindungan hukum, sekaligus menjadi pembeda bagi produk khas daerah. Agar identitas dan karakteristiknya tidak mudah ditiru atau disalahgunakan pihak lain.
"Jadi ada karakternya, misal after taste-nya berasa fruity dan sejenisnya. Seperti kopi Mandailing Natal Sumatera Utara dan daerah lainnya," katanya.
Mantapnya akses jalan menuju Tempur serta upaya membangun identitas kopi melalui Indikasi Geografis, kawasan ini diharapkan dapat berkembang secara terpadu.
Infrastruktur, wisata, budaya, dan produk unggulan lokal dapat saling menopang. Sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat di kawasan lereng Muria Jepara.
“Kami juga sedang menyiapkan berbagai paket wisata, berkenaan dengan upaya memajukan Kopi Tempur. Sehingga wisatawan tidak hanya menikmati alam kami, tapi juga memiliki pengalaman berkaitan dengan produk olahan kopi asli sini. Bisa mengetahui cara pengolahan hingga penyajian,” tandas Petinggi Tempur Mariyono.(fik)
Editor : Support