Jepara Siap Pasok Mebel dan Furnitur ke Ibu Kota Nusantara

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 16:46 WIB
ELEGAN: Pengunjung tengah menyaksikan berbagai karya seni ukir dan mebel saat Pameran Tatah dihelat di Museum Nasional Indonesia sepanjang 29 April hingga 2 Agustus lalu. (PANITIA TATAH UNTUK RADAR KUDUS)
ELEGAN: Pengunjung tengah menyaksikan berbagai karya seni ukir dan mebel saat Pameran Tatah 2026 dihelat di Museum Nasional Indonesia sepanjang 29 April hingga 2 Agustus lalu. (PANITIA TATAH UNTUK RADAR KUDUS 

JEPARA — Kabupaten Jepara membuka peluang sekaligus berkomitmen mengambil peran, dalam pemenuhan kebutuhan furnitur dan produk mebel di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Potensi industri mebel, kekuatan seni ukir, serta keberadaan pelaku usaha dari skala kecil hingga besar menjadi modal Jepara. Untuk dapat memasok kebutuhan furnitur di kawasan ibu kota baru yang berada di Kalimantan Timur tersebut.

Peluang itu mengemuka setelah Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi bersama sejumlah kepala daerah di Jawa Tengah melakukan kunjungan kerja ke Otorita IKN, pada Kamis (6/8). 

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari penjajakan potensi kolaborasi dan investasi antara Jawa Tengah dengan IKN.

Bupati Jepara Witiarso Utomo menyampaikan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara akan mengomunikasikan peluang tersebut dengan para pelaku usaha mebel dan furnitur di daerah.

"Nanti seperti apa, kami komunikasikan ke pengusaha. Supply dari Jepara," ungkapnya, pada Senin (10/8).

Ia menegaskan, komunikasi tidak hanya akan dilakukan dengan pengusaha besar. Pemerintah daerah juga akan membuka ruang koordinasi dengan pelaku industri yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem mebel Jepara.

Menurut Mas Wiwit sapaan akrab Bupati Jepara, sejumlah pengusaha Jepara telah memiliki pengalaman mengerjakan berbagai produk furnitur untuk pasar nasional maupun internasional. 

Jepara juga memiliki jaringan pelaku usaha, seperti yang tergabung dalam Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), ataupun yang lainnya.

"Ya, pengusaha-pengusaha yang tergabung dalam HIMKI misalnya, juga menggandeng pengusaha maupun perajin lain," ujarnya.

Langkah tersebut dinilai penting, agar peluang yang muncul dari pembangunan IKN tidak hanya dinikmati oleh sebagian pelaku usaha.

Pemkab Jepara ingin menghubungkan kebutuhan pasar dengan kekuatan industri lokal. Baik perajin ukir, pelaku usaha mebel, hingga industri pendukungnya.

Lebih lanjut dijelaskan, Jepara tidak hanya memiliki industri mebel yang telah berkembang selama puluhan bahkan ratusan tahun. 

Daerah ini juga mempunyai kekuatan budaya berupa seni ukir, yang telah menjadi identitas sekaligus bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Potensi tersebut kembali mendapat perhatian luas melalui Pameran Tatah 2026 di Museum Nasional Indonesia.

Pameran yang mengusung tema “Suluk-Sulur-Jepara” tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan seni ukir Jepara tidak sekadar sebagai produk kerajinan. Namun juga sebagai pengetahuan, keterampilan, tradisi, sejarah, dan nilai kehidupan yang diwariskan lintas generasi.

Pameran Tatah 2026 yang dibuka pada 29 April hingga 2 Agustus 2026, pada saat penutupan mencatatkan 73.104 kunjungan.

Tingginya jumlah kunjungan tersebut menunjukkan bahwa seni ukir Jepara masih memiliki daya tarik kuat. Sejumlah karya yang dipamerkan juga berhasil terjual, menunjukkan adanya ketertarikan pasar terhadap karya seni dan produk berbasis ukiran Jepara.

Bagi Jepara, capaian tersebut dapat menjadi modal penting untuk memperkuat posisi seni ukir dan mebel lokal di pasar yang lebih luas, termasuk peluang kebutuhan furnitur di IKN.

Pembangunan IKN sendiri membutuhkan ekosistem yang tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur. Akan tetapi juga penyediaan barang dan jasa, pengembangan sumber daya manusia, ekonomi kreatif, hingga pariwisata.

Kesempatan ini bukan sekadar bagaimana mengirim produk mebel ke IKN. Lebih jauh, pembangunan ibu kota baru dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan karakter furnitur Jepara yang bertumpu pada kekuatan desain, keterampilan pertukangan, dan seni ukir yang menjadi warisan budaya daerah.

Bupati Jepara Witiarso Utomo. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
Bupati Jepara Witiarso Utomo. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Karena itu, Wiwit menilai komunikasi dengan pelaku usaha menjadi langkah penting untuk memetakan kesiapan industri Jepara. 

Pemerintah daerah perlu mengetahui kemampuan produksi, jenis produk, kualitas, kapasitas, hingga kesiapan pengusaha apabila nantinya terdapat kebutuhan furnitur dari kawasan IKN.

Jepara ingin hadir bukan hanya sebagai daerah penghasil mebel, tetapi sebagai bagian dari rantai pasok industri kreatif dan furnitur nasional. 

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai IKN memiliki potensi besar untuk dikolaborasikan dengan berbagai daerah di Jawa Tengah. Terlebih, pembangunan IKN masih membutuhkan dukungan berbagai pihak.

"Intinya Provinsi Jawa Tengah ingin ikut hadir di IKN juga," tanggap Ahmad Luthfi.

Ia juga secara khusus menyebut Jepara sebagai salah satu daerah yang memiliki potensi kuat untuk mendukung kebutuhan furnitur IKN.

"Jepara menjadi daerah yang sudah dikenal dengan produk furnitur. Saya coba melihat potensi, apakah ada peluang kerja sama furnitur di IKN dari Jawa Tengah. Termasuk Kabupaten lain juga, jika Jepara tidak bisa memenuhi kebutuhan secara keseluruhan," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono menyambut terbukanya peluang kerja sama tersebut. 

Menurutnya, Otorita IKN terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai daerah di Indonesia. Untuk memperkuat ekosistem pembangunan IKN sebagai ibu kota yang inklusif dan berkelanjutan.

"Kami selalu melayani investor yang masuk. Apabila Jawa Tengah menjadi mitra Otorita IKN, nantinya akan ada insentif fiskal," ucapnya.

Ia menjelaskan, peluang kerja sama tidak hanya terbatas pada investasi. Kolaborasi juga dapat mencakup penyediaan barang dan jasa, pengembangan sumber daya manusia, ekonomi kreatif, hingga sektor pariwisata.

Dalam pertemuan tersebut, Otorita IKN juga memaparkan perkembangan pembangunan kawasan dan skema pendanaan yang digunakan untuk mempercepat pembangunan. Dukungan pembiayaan mencakup APBN, Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), investasi swasta, dan hibah.

Realisasi investasi swasta yang telah masuk ke IKN disebut mencapai Rp 74,54 triliun dari 67 investor, sedangkan nilai proyek melalui skema KPBU mencapai Rp 134,25 triliun.(fik) 

Editor : Mahendra Aditya
mebel berkualitas Supply mebeler IKN Jepara jadi pemasok mebel IKN Seni ukir dan furnitur mebel jepara