JEPARA — Aroma lauk tempe goreng menyeruak dari Ponpes Ash Babussyifa Warohmah, Desa Jerukwangi, Kecamatan Bangsri, pada Jumat (7/8) menjelang sore.
Sejumlah santri tampak sibuk di area dapur yang berada di depan ponpes, mereka memasak untuk kebutuhan makan bersama.
Burung-burung dara berterbangan di sekitar kompleks pondok. Aktivitas para santri berjalan seperti biasa.
Di depan aula pondok berlantai tiga, seorang santri duduk seorang diri. Pandangannya kosong. Ia hanya mengenakan celana panjang berwarna oranye. Di sekitarnya, empat sepeda motor terparkir.
Pemandangan semacam itu bukan sesuatu yang asing di pondok tersebut.
Ponpes Ash Babussyifa Warohmah memang membuka pintu bagi mereka yang kerap sulit mendapatkan tempat untuk belajar dan tinggal.
Anak yatim, keluarga kurang mampu, anak dengan persoalan perilaku, hingga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) diterima untuk mendapatkan pendampingan.
Di balik keputusan tersebut, ada satu prinsip yang terus dipegang pengasuh pondok, Kiai Ahmad Prayitno (54), bersama istrinya, Ibu Nyai Rofiah (46), memanusiakan manusia.
"Kalau pondok pesantren hanya menerima orang yang baik-baik, lalu orang-orang seperti ini siapa yang mau merangkul dan menerima?" ungkapnya.
Perjalanan Kiai Prayitno mengasuh mereka yang membutuhkan perhatian khusus tidak muncul secara tiba-tiba. Pondok tersebut telah dirintis sejak 1997. Saat itu, aktivitas pesantren masih sederhana.
Baru pada 9 Desember 2017, bangunan pondok yang lebih memadai diresmikan oleh Bupati Jepara Marzuki.
Dalam perjalanannya, jumlah santri pernah mencapai sekitar 400 orang. Mereka datang dari berbagai latar belakang. Ada anak yatim, keluarga miskin, anak yang dianggap nakal, hingga mantan preman. Mereka datang dengan persoalan masing-masing, kemudian mendapatkan pendampingan di lingkungan pesantren.
"Santri miskin, yatim, anak nakal, preman saya terima. Saya obati, saya tata semua. Ketika sembuh, pulang," tuturnya.
Kini jumlah santri putra yang tinggal di Jerukwangi tersisa 14 orang. Mereka berasal dari sejumlah daerah, di antaranya Jepara, Demak, Palembang, dan Nusa Tenggara Barat. Hingga santri dari Sumatera, termasuk Aceh, juga pernah belajar di pondok ini.
Sementara santri putri berjumlah 13 orang dan berada di Desa Dongos.
Para santri berasal dari jenjang pendidikan yang beragam. Ada yang masih sekolah dasar, SMP, hingga SMK. Pada masa sebelumnya, mereka juga sempat mengikuti pendidikan melalui program paket B dan C.
Namun, kesibukan pengasuh saat ini membuat kegiatan pendidikan formal (kesetaraan) belum dapat dilanjutkan.
Sebelum menjadi pengasuh, Kiai Prayitno lebih dulu menempuh perjalanan panjang dalam mencari ilmu.
Ia pernah nyantri di sejumlah pesantren di Pati kemudian ke Sarang, Rembang, sebelum meneruskan pendidikan di Ploso Al Falah, Kediri.
Dari perjalanan tersebut, ia mengaku memperoleh ilmu sekaligus sanad keilmuan dari para kiai sepuh yang menjadi gurunya.
Pengalaman itulah yang kemudian menjadi bekal dalam mengembangkan pesantren, dan mendampingi para santri dengan latar belakang berbeda.
Kegiatan pesantren tetap berjalan sebagaimana pondok pada umumnya.
Selepas Zuhur, santri mengikuti kajian kitab Irsyadul Ibad. Setelah Asar dilanjutkan Ta’lim al-Muta’allim. Selepas Magrib mereka membaca Alquran dengan metode sorogan, kemudian setelah Isya mengaji Durratun Nashihin. Setiap malam sekitar pukul 21.00 dilaksanakan istighosah.
Aktivitas berlanjut sejak dini hari. Sekitar pukul 03.00, para santri dibangunkan untuk menjalankan salat dan amalan tombo ati. Selepas Subuh dilanjutkan kajian Bidayatul Hidayah serta setoran hafalan.
Kiai Prayitno lebih banyak menangani pengajaran kitab, sementara Ibu Nyai Rofiah mendampingi pembelajaran Alquran.
Seluruh kegiatan tersebut diberikan tanpa memungut biaya wajib dari para santri. "Semua mondok gratis," ujarnya.
Meski demikian, ia mengaku beberapa keluarga santri yang memiliki kemampuan ekonomi justru memberikan bantuan secara sukarela. Di antaranya memberikan sekitar Rp 400 ribu.
Bagi Kiai Prayitno, keberadaan pesantren bukan sekadar tempat belajar agama. Ia ingin pondok menjadi tempat bagi mereka yang tidak selalu mudah diterima di lingkungan lain.
Salah satunya ialah santri putra yang diperkenalkannya kepada Radar Kudus. Santri tersebut memiliki keterbatasan intelektual dan kondisi bawaan tertentu. Di pondok, ia tetap mendapatkan perlakuan sebagaimana santri lainnya.
Kiai Prayitno dengan sabar mengajarinya sopan santun, membangun kebiasaan sehari-hari, serta memberikan perhatian dan kasih sayang. Pendampingan semacam itu menjadi bagian dari keseharian di pondok.
Ia menyadari tidak semua orang memahami pilihan tersebut. Bahkan, keberadaan pondok yang menerima orang dengan gangguan jiwa pernah menimbulkan penolakan dari segelintir tetangga.
Namun, Kiai Prayitno memilih tetap menjalankan apa yang diyakininya.
Baginya, orang yang memiliki persoalan kejiwaan maupun keterbatasan tetap mempunyai hak untuk diperlakukan sebagai manusia, mendapatkan perhatian, dan memiliki ruang untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Perhatian terhadap pondok tersebut juga menguat setelah salah seorang santri meninggal dunia.
Kiai Prayitno mengatakan santri tersebut berasal dari Bawu, Kecamatan Batealit. Ia dibawa ke pondok sejak awal Ramadan dengan riwayat epilepsi yang sudah kronis.
"Di rumah berkali-kali kambuh, sampai di sini malah berangsur pulih," katanya.
Kondisinya yang berangsur membaik membuat keluarga merasa senang. Namun, pada Kamis (30/7), selepas salat Zuhur, santri tersebut kembali mengalami kambuh dan kemudian tidak sadarkan diri.
Pihak pondok membawanya ke rumah sakit. Namun, nyawanya tidak tertolong. Kiai Prayitno membantah adanya dugaan penganiayaan oleh santri lain. Menurutnya, santri tersebut memang memiliki riwayat epilepsi.
Setelah meninggal, keluarga datang ke rumah sakit dan membawa jenazah untuk dimakamkan di kampung halaman. Pemakaman dilakukan sekitar pukul 21.00. Keluarga menerimakan.
Beberapa hari kemudian, pada Senin (3/8), pihak kepolisian datang ke pondok untuk menindaklanjuti laporan masyarakat terkait kejadian tersebut.
Di tengah berbagai pandangan terhadap pesantren, Kiai Prayitno tetap memilih jalan yang sejak awal diyakininya.
Sejak dirintis hampir tiga dekade lalu, pondok tersebut telah menjadi tempat bagi banyak orang dengan latar belakang berbeda.
Ada yang datang karena keterbatasan ekonomi. Ada pula yang kehilangan orang tua. Ada pula yang datang karena persoalan perilaku maupun kondisi psikologis yang membuat mereka sulit diterima di tempat lain.
Bagi pengasuh, semua itu bukan alasan untuk menutup pintu. Justru di sanalah pesantren ingin mengambil peran. "Kami memang punya misi memanusiakan manusia," tandasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya