Imbas Insiden Keracunan Siswa di Jepara Jadi Trauma Menerima MBG, Pihak Sekolah Minta SPPG Sesuai Standar dan Kualitas 

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 15:40 WIB
TERKONTAMINASI: Menu MBG dari SPPG Bandengan 5 Milik Yayasan Cahaya Arjuna Harapan Bangsa terbukti mengandung bakteri, usai dilakukan uji laboratorium pada tanggal 4-7 Agustus.
TERKONTAMINASI: Menu MBG dari SPPG Bandengan 5 Milik Yayasan Cahaya Arjuna Harapan Bangsa terbukti mengandung bakteri, usai dilakukan uji laboratorium pada tanggal 4-7 Agustus.

JEPARA — SMP Negeri 2 Jepara memberikan sejumlah masukan terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Hal tersebut menyusul dugaan keracunan yang dialami oleh 123 siswa dan guru pada Senin (3/8) lalu.

Meski kini keadaan telah berangsur pulih, namun kecemasan dan rasa trauma menggelayuti siswa saat menerima menu MBG.

Setelah diuji laboratorium sejak 4-7 Agustus, menu MBG dari SPPG Bandengan 5 pada Senin (3/8) tersebut terbukti mengandung bakteri.

Pada menu beef teriyaki ditemukan bakteri Enterobacteriaceae dan Salmonella sp. yang disebut merupakan bakteri penyebab gangguan pencernaan.

Selain itu, pemeriksaan terhadap sampel semangka juga menemukan sejumlah mikroorganisme. Di antaranya Bacillus cereus dan Enterobacteriaceae yang merupakan bakteri penyebab gangguan pencernaan.

Pada sampel semangka juga ditemukan yeast dan mold atau ragi dan kapang. Mikroorganisme tersebut dapat menyebabkan makanan lebih cepat mengalami kerusakan atau pembusukan.

Sementara itu, pemeriksaan terhadap air bersih yang berada di bak cuci menemukan adanya coliform.

Coliform sendiri selompok bakteri Gram-negatif berbentuk batang, hidup di lingkungan atau saluran pencernaan manusia dan hewan.

Keberadaannya dalam air minum atau makanan, dipakai sebagai indikator sanitasi. Menandakan adanya potensi kontaminasi kotoran serta mikroorganisme patogen penyebab penyakit.

Apalagi, menu dari SPPG Bandengan 5 Milik Yayasan Cahaya Arjuna Harapan Bangsa yang menyebabkan gangguan pencernaan tersebut bukan fenomena kali pertama.

Sebelumnya pada Kamis (5/3) juga sempat dihebohkan MBG menu bandeng presto yang berbelatung, serta roti berjamur.

Hal tersebut merupakan distribusi menu rusak atas MBG diterimakan di SDN 1 Ujungbatu, SMPN 1 Jepara, SMPN 4 Jepara maupun SMAN 1 Jepara.

Saat itu, Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jepara, Musthofa Wildan, juga mengonfirmasi menu yang rusak saat bulan puasa tersebut.

Ia mengonfirmasi dan mendapati laporan serupa dari wilayah layanan Kuwasen 2, Kuwasen 3, dan Bandengan 4 yang berada dalam satu yayasan pengelola.

Kini, sejumlah pihak menuntut perbaikan layanan secara menyeluruh atas pengelolaan dan pendistribusian MBG di Jepara.

Pihak SMPN 2 Jepara juga menyoroti terutama menyangkut waktu pembagian makanan, proses pengolahan, hingga upaya mengembalikan kepercayaan siswa setelah adanya kejadian sebelumnya.

Kepala SMP Negeri 2 Jepara Agung Sriharto mengatakan, pihak sekolah sejak awal memiliki pola pembagian MBG pada waktu yang relatif lebih siang. 

Hal tersebut menyesuaikan dengan jam kepulangan siswa yang memang lebih lama dibandingkan sekolah lainnya.

“Waktu kepulangan siswa pukul 13.30, lebih lama dibanding sekolah lain,” ungkapnya, Sabtu (8/8).

Menurutnya, sebagian siswa SMPN 2 Jepara juga terbiasa mengikuti kegiatan kokurikuler hingga sore. 

Dengan adanya MBG, siswa tidak harus pulang terlebih dahulu untuk makan, tetapi dapat makan di sekolah sebelum melanjutkan kegiatan.

“Ada anak yang terbiasa kokurikuler hingga sore. Dengan adanya MBG tidak usah pulang, makan dulu,” ujarnya.

Karena kondisi tersebut, pihak sekolah memilih waktu pembagian MBG yang agak siang. 

Sejak awal, sekolah juga telah menyampaikan pola dan standar operasional yang biasa diterapkan kepada penyedia MBG.

“Kami ambil jam agak siang. Kami menyampaikan SOP yang biasa kami lakukan. Pembagiannya sekitar jam 11,” jelasnya.

Agung mengatakan, pelayanan MBG untuk SMPN 2 Jepara sebelumnya dilakukan oleh SPPG yang berada di Pengkol. Namun karena terjadi kondisi overload, pelayanan kemudian dipindahkan ke SPPG Bandengan 5.

Dalam pelaksanaannya, SMPN 2 Jepara juga meminta pola pengolahan makanan pada shift kedua. 

Hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan waktu pembagian makanan kepada siswa.

“SMPN 2 Jepara dimasak di shift kedua untuk menghindari basi dan lain-lain,” katanya.

Agung menegaskan, pihak sekolah tidak mengetahui secara langsung proses yang berkaitan dengan bahan baku, cara memasak maupun pencucian bahan makanan. Sebab, proses tersebut menjadi bagian dari penyedia MBG.

“Bahan baku, cara masak, cuci, kami tidak tahu,” ujarnya.

Karena itu, apabila nantinya pelayanan MBG untuk SMPN 2 Jepara tetap dilakukan oleh SPPG Bandengan 5 maupun berpindah ke SPPG lainnya, pihak sekolah berharap standar operasional yang selama ini diterapkan dapat tetap menjadi perhatian.

“Kalau tetap Bandengan 5 atau SPPG ganti, menyesuaikan SOP cara masak,” katanya.

Selain persoalan teknis, Agung juga menilai perlu adanya penguatan dan sosialisasi kepada siswa. 

Hal tersebut penting setelah kejadian sebelumnya membuat sebagian siswa merasa khawatir, untuk kembali mengonsumsi makanan MBG.

“Memberikan sosialisasi penguatan kepada anak-anak. Kejadian (keracunan, red) kemarin jadi takut mengonsumsi MBG, sehingga dampaknya banyak,” jelasnya.

Menurut Agung, keberlangsungan program MBG di sekolah perlu didukung dengan penerapan standar operasional yang baik, terutama dalam menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada siswa.

“Yang jelas SPPG harus sesuai SOP dalam menu berkualitas. Tim kami juga akan waspada,” pungkasnya.(fik) 

Editor : Ali Mustofa
MBG Sebabkan Keracunan Menu MBG Terdapat Bakteri SPPG Ditutup Sementara Tidak Ada Sanksi Tegas SPPG Sebabkan Keracunan keracunan mbg