JEPARA — Gedung baru harapan baru. Para calon siswa Sekolah Rakyat (SR) di Jepara melakukan proses daftar ulang.
Hal tersebut dilakukan di Kompleks Gedung SR Terpadu yang berada di Desa Suwawal Timur Kecamatan Pakis Aji, pada Jumat (31/7).
Sejak pagi, para orang tua berdatangan mengantarkan putra-putri mereka untuk mengikuti daftar ulang. Tak sekadar mengurus administrasi, mereka juga diajak berkeliling melihat lingkungan sekolah. Room tour.
Anak-anak tampak sumringah, mengetahui bangunan sekolah dan asrama yang akan ditempati hampir jadi. Penuh antusiasme dan rasa penasaran.
Mereka menyisir setiap sudut hingga masuk ke dalam ruangan. Melihat mebeler serta taman bermain yang nantinya akan menjadi pemandangan sehari-hari.
Mimik wajah haru penuh harap terpancar oleh Istiqomah (45), warga Desa Wanusobo, Kecamatan Kedung.
Ia mengantar dua putranya yang diterima di SR Terpadu. Anak sulungnya yang berusia 11 tahun akan duduk di kelas VII SMP, sedangkan adiknya yang berusia delapan tahun melanjutkan pendidikan di kelas III SD.
Sebelumnya, kedua anaknya bersekolah di SD Negeri Wanusobo. Kini, ia berharap Sekolah Rakyat mampu membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
"Harapan saya ke depan anak-anak bisa lebih baik dan lebih mandiri," tuturnya, pada Jumat (31/7).
Bagi Istiqomah, kesempatan ini seperti menjawab impian yang selama ini tertunda.
Sejak anak-anak masih kecil, ia sebenarnya ingin memasukkan mereka ke pondok pesantren, agar mendapat bekal pendidikan agama. Namun, keterbatasan ekonomi membuat keinginan itu belum bisa terwujud.
"Kepengin mondok sejak TK, tapi dulu tidak ada biaya. Yang penting anak bisa mengaji," tuturnya.
Ia mengaku lega karena di Sekolah Rakyat anak-anak juga mendapatkan pendidikan keagamaan, termasuk Madrasah Diniyah (Madin). Menurutnya, lingkungan berasrama akan melatih kemandirian sekaligus membentuk karakter.
Meski begitu, sebagai seorang ibu, ia sadar masa-masa awal tinggal jauh dari keluarga bukan perkara mudah. Rasa rindu pasti datang, baik bagi anak maupun orang tua.
"Namanya anak kecil, kadang pasti kangen rumah, orang tua juga kangen anak. Kalau jadwal kunjungan ya nanti menyesuaikan, kadang tiga minggu atau sebulan sekali," ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Istiqomah bekerja serabutan.
Ia menenun, menerima jahitan, membantu pekerjaan ukir, hingga mengerjakan bordir ketika ada pesanan.
Karena itu, ia mengamini pendidikan gratis yang diberikan pemerintah dapat menjadi jembatan bagi anak-anaknya. Utamanya untuk meraih cita-cita.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospermasdes) Kabupaten Jepara, Muh Ali, mengatakan daftar ulang sengaja dilakukan lebih dahulu sebagai tindak lanjut permintaan para wali murid.
Dengan demikian, orang tua memiliki kesempatan mengetahui lingkungan sekolah putra putrinya sebelum kegiatan belajar dimulai.
"Hari ini kami lakukan daftar ulang, tidak bisa langsung MPLS karena gedung belum sepenuhnya jadi. Insyaallah MPLS direncanakan mulai tanggal 20 Agustus," sambungnya.
Usai daftar ulang, seluruh wali murid diajak mengikuti tur lingkungan sekolah. Mereka diperlihatkan ruang belajar serta berbagai fasilitas yang nantinya digunakan para siswa.
"Kami ingin bapak dan ibu mengetahui tempat anak-anak belajar sehingga semakin yakin dan semangat menyekolahkan putra-putrinya di sini," jelasnya.
Muh Ali memastikan seluruh pembangunan asrama maupun ruang belajar dapat rampung pada 20 Agustus mendatang.
Dengan begitu, proses pembelajaran tidak akan terganggu oleh aktivitas pembangunan.
Saat ini Sekolah Rakyat Terpadu menampung 90 siswa yang terbagi dalam tiga rombongan belajar jenjang SD, SMP, dan SMA.
Termasuk 75 anak jenjang SD yang sebelumnya telah memulai pembelajaran lebih dulu di SR rintisan, yang dilangsungkan di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Pecangaan.
Seluruh kuota telah terisi, setelah melalui proses seleksi karena jumlah pendaftar jauh melebihi kapasitas.
"Minat masyarakat sangat tinggi. Karena kuotanya terbatas, kami melakukan proses screening sebelum menetapkan peserta didik," sebutnya.
Ia menambahkan, seluruh siswa hadir mengikuti daftar ulang. Hanya dua siswa asal Karimunjawa yang berhalangan hadir karena telah mengajukan izin. Terkendala jarak dan akomodasi.
Lebih jauh, Muh Ali mengungkapkan pemerintah pusat juga mulai menyiapkan pengembangan Sekolah Rakyat di Jepara.
Dalam kunjungan Direktur Jenderal Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum, beberapa waktu lalu, muncul rencana pembangunan Sekolah Rakyat kedua.
Hal tersebut direncanakan dibangun di lahan sekitar SR saat ini. Luasan lahan sekitar enam hektare.
"Sudah diwacanakan penambahan satu bangunan Sekolah Rakyat lagi. Kami diminta menyiapkan lahan sekitar enam hektare," pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya