Ketika Sedekah Bumi Tak Sekadar Jadi Tontonan: Bringin Menghidupkan Tradisi, Warga, dan Ekonomi

Admin • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 13:54 WIB
MERIAH: Festival Thongthek Sedekah Bumi Desa Bringin, Jepara, dipadati ribuan warga.
MERIAH: Festival Thongthek Sedekah Bumi Desa Bringin, Jepara, dipadati ribuan warga.

Rangkaian Sedekah Bumi Desa Bringin 2026 telah dimulai. Festival Thongthek membuka kemeriahan, disusul ruwat desa dan pagelaran wayang kulit. Namun, jika diamati lebih dekat, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar panggung hiburan.

Sedekah bumi ternyata mampu menciptakan ruang perjumpaan. Warga keluar rumah, jalanan menjadi hidup, pedagang mendapatkan pembeli, anak-anak memperoleh ruang bermain, sementara tradisi kembali mendapat tempat di tengah kehidupan masyarakat yang semakin modern.

Festival Thongthek menjadi salah satu contoh paling nyata.

Kegiatan yang dipanitiai Aris bersama para pemuda Desa Bringin itu bisa dibilang melampaui ekspektasi. Persiapannya relatif singkat, sekitar dua minggu. Namun, panitia berani membawanya ke level kabupaten.

Delapan kelompok ikut ambil bagian. Bukan hanya dari Desa Bringin, tetapi juga peserta dari luar desa.

Malam itu, Thongthek bukan sekadar lomba musik tradisional.

Sepanjang jalur sekitar 2,5 kilometer dari kawasan start hingga finis di Balai Desa Bringin, masyarakat berjubel menyaksikan peserta. Di beberapa titik, warga bahkan sudah menunggu sebelum rombongan peserta melintas.

Pemandangan menarik lainnya justru berada di pinggir jalan.

Gerobak makanan, minuman, jajanan anak-anak hingga pedagang dadakan bermunculan mengikuti titik-titik keramaian. Ada yang memang sehari-hari berjualan, ada pula yang secara khusus datang karena melihat adanya peluang dari Festival Thongthek.

Sesampainya di Balai Desa Bringin, keramaian belum selesai.

Delapan peserta kembali menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam battle Thongthek. Hampir satu jam masyarakat bertahan menyaksikan pertunjukan tersebut.

Di sinilah makna sebuah kegiatan desa terasa lebih luas.

Ada yang datang mencari hiburan. Ada yang datang bertemu tetangga dan teman. Ada anak-anak yang menikmati keramaian. Namun pada saat bersamaan, ada pula masyarakat yang pulang membawa tambahan penghasilan.

Mencari hiburan sekaligus membuka pintu rezeki.

Itulah salah satu efek Sedekah Bumi Bringin yang paling mudah dirasakan.

Berapa Uang yang Berputar Semalam?

Memang belum ada pencatatan transaksi resmi seluruh pedagang selama Festival Thongthek. Karena itu, angka perputaran ekonomi tidak boleh disebut sebagai data pasti.

Namun, kita bisa membuat simulasi konservatif.

Misalnya sepanjang jalur 2,5 kilometer dan kawasan Balai Desa terdapat 50 pedagang kecil. Angka ini masih sangat mungkin berubah karena pedagang tersebar di banyak titik.

Jika rata-rata seorang pedagang melayani 60 transaksi dengan nilai belanja rata-rata Rp10.000, omzetnya sekitar Rp600.000.

Dengan asumsi 50 pedagang, perputaran uang dari sektor makanan, minuman, mainan dan jajanan saja sudah sekitar Rp30 juta dalam satu malam.

Jika keramaiannya lebih tinggi—misalnya terdapat 75 pedagang dengan omzet rata-rata Rp750.000—perputaran uang bisa mencapai sekitar Rp56,25 juta.

Maka, kisaran Rp30 juta sampai Rp55 juta untuk satu malam dapat digunakan sebagai gambaran konservatif, bukan angka transaksi resmi.

Sebagai pembanding, berbagai festival UMKM di daerah lain memang menunjukkan bahwa keramaian publik dapat menghasilkan transaksi yang cukup besar. Festival kuliner di Pekalongan pernah mencatat transaksi rata-rata Rp60 juta-Rp90 juta per hari. Sementara Festival Tabut 2026 di Bengkulu mencatat satu stan UMKM yang digunakan beberapa pelaku usaha secara bergiliran mampu menghasilkan omzet lebih dari Rp3 juta per hari.

Artinya, ketika ribuan orang berkumpul pada satu ruang dan waktu, dampak ekonominya memang nyata.

Tentu akan jauh lebih baik jika pada penyelenggaraan berikutnya panitia mulai mendata jumlah pedagang dan melakukan survei sederhana terhadap omzet mereka. Dari sana, Sedekah Bumi Bringin kelak tidak hanya dapat dilaporkan dari sisi jumlah peserta dan penonton, tetapi juga seberapa besar manfaat ekonominya bagi masyarakat.

Wayangan, Bocah-Bocah, dan Ingatan tentang Desa

Efek serupa terasa ketika rangkaian berlanjut pada ruwat desa dan pagelaran wayang kulit.

Pedagang makanan kembali mendapatkan pembeli. Penjual jajanan melayani anak-anak yang datang bersama orang tua mereka. Halaman dan kawasan sekitar Balai Desa berubah menjadi ruang bermain sekaligus ruang pertemuan warga.

Bagi anak-anak, mungkin yang mereka ingat sederhana: malam itu desanya ramai.

Ada wayang. Ada jajanan. Ada teman-teman. Ada orang tua dan tetangga berkumpul.

Namun, justru pengalaman-pengalaman sederhana seperti itulah yang kelak membentuk ingatan seseorang terhadap kampung halamannya.

Mereka tumbuh dengan pengetahuan bahwa desanya mempunyai tradisi. Bahwa setiap tahun ada momentum ketika masyarakat berkumpul. Bahwa ada budaya yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Karena itu, menurut saya, keberhasilan sedekah bumi jangan hanya diukur dari siapa yang menjadi juara lomba, seberapa megah panggungnya, atau seberapa ramai penontonnya.

Ada ukuran yang jauh lebih penting: apakah masyarakat ikut merasakan manfaatnya?

Ketika pedagang kecil mendapatkan tambahan penghasilan, pemuda memperoleh ruang berkarya, anak-anak mengenal tradisi desanya, warga mendapatkan hiburan, dan masyarakat dari luar datang ke Bringin, di situlah sedekah bumi menemukan maknanya.

Tradisi tidak cukup hanya dilestarikan. Tradisi juga harus dibuat relevan dengan kehidupan masyarakat hari ini.

Sedekah bumi dapat menjadi ruang budaya sekaligus ruang ekonomi. Menjadi hiburan sekaligus pengikat sosial. Menjadi pesta sekaligus pengingat bahwa kita hidup, mencari rezeki, membesarkan anak-anak dan membangun kehidupan bersama di desa ini.

Dan pada akhirnya, Sedekah Bumi Desa Bringin seharusnya meninggalkan satu kesadaran sederhana: desa ini milik kita bersama.

Karena itu, desanya perlu dijaga. Kerukunannya perlu dirawat. Citra baiknya perlu dibangun. Ekonomi warganya perlu dihidupkan. Pemudanya perlu diberi ruang. Dan budayanya perlu terus diwariskan.

Jika semua itu terjadi, Sedekah Bumi Bringin tidak berhenti sebagai acara tahunan.

Ia menjadi cara sebuah desa merawat ingatan, menggerakkan ekonomi, mempertemukan warganya, dan memastikan generasi berikutnya tetap mempunyai alasan untuk bangga mengatakan:

“Aku wong Bringin.”

Editor : Admin
bringin umkm wayang