Maestro Seniman Pameran Tatah 2026 Mendapat Penghargaan, Bupati Jepara Dukung Pelestarian Ukir secara Berkelanjutan

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 16:44 WIB
SUPPORTIF: Bupati Jepara Witiarso Utomo beserta jajaran memberikan apresiasi terhadap para seniman Pameran Tatah di Pendopo Kartini Jepara pada Senin (27/7) malam. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS).
SUPPORTIF: Bupati Jepara Witiarso Utomo beserta jajaran memberikan apresiasi terhadap para seniman Pameran Tatah di Pendopo Kartini Jepara pada Senin (27/7) malam. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Para maestro dan pelaku seni ukir Jepara, menerima penghargaan dalam malam apresiasi Pameran Tatah 2026 di Pendopo Kartini Jepara, Senin (27/7) malam. 

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan, atas dedikasi mereka dalam menjaga sekaligus mengembangkan seni ukir Jepara di tengah perubahan zaman.

Para penerima penghargaan tersebut meliputi Zabidhi, Soekarno, Suhartono Kasari, M. Chody, Suhud, Roni Sunarrasan, Apeep Qimo, Sutrisno, Wafi, Saniman, serta komunitas Jaladara Collectiva.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan sarasehan serta urun rembuk. Merancang agar ukir tetap dapat menjadi tulang punggung ekonomi warga, serta kebanggaan daerah.

Sejak dibuka setidaknya pada 29 April lalu di Museum Nasional Indonesia, Pameran Tatah 2026 yang mengusung tema Suluk-Sulur-Jepara, telah dikunjungi lebih dari 68 ribu pengunjung.

Ini menjadi cermin yang bening, untuk melihat Jepara lebih dalam dan penuh makna, atas kerja-kerja kreatif para seniman, pengukir dan perajin.

Bupati Jepara Witiarso Utomo menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendorong lahirnya generasi muda yang mencintai dan menekuni seni ukir. 

Menurutnya, keberlangsungan ukiran Jepara sangat bergantung pada hadirnya talenta-talenta baru.

"Kami ingin anak-anak muda terus kami dorong agar mau mengenal, belajar, dan mengembangkan seni ukir sebagai kebanggaan Jepara," ungkapnya.

Pihaknya menegaskan komitmennya untuk selalu mendukung keberlangsungan ukir di Jepara, agar semakin dikenal oleh dunia. 

Direktur Tatah, Veronica Rompies, menjelaskan bahwa Tatah hadir sebagai jembatan yang mempertemukan maestro, seniman muda, hingga masyarakat luas dalam satu ruang apresiasi. 

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi sarana mencari dan memunculkan talenta-talenta baru, yang selama ini belum banyak dikenal publik.

"Tatah menjadi satu spirit. Memang tidak serta merta bisa menyelesaikan seluruh persoalan ukir di Jepara, tetapi setidaknya menjadi jembatan untuk memperkenalkan seniman, mencari talenta muda, dan menghidupkan kembali ekosistem ukir," sambungnya.

Ia mengungkapkan, gaung Tatah semakin dikenal setelah penyelenggaraan pameran di Jakarta. 

Banyak masyarakat yang mulai mengenal Jepara melalui ukiran yang dipamerkan, sehingga menjadi momentum penting untuk memperkuat citra Jepara sebagai kota ukir.

Untuk penyelenggaraan Tatah ke-2, pihaknya akan membuka kesempatan lebih luas bagi para seniman. 

Setiap seniman dapat mengirimkan karya, yang nantinya akan diseleksi oleh tim kurator. 

Selain melibatkan seniman lokal, Tatah berikutnya juga akan menghadirkan kolaborasi dengan sejumlah seniman ternama dari luar daerah, seperti dari Yogyakarta. 

Vero berharap langkah tersebut mampu meningkatkan nilai dan popularitas karya-karya seniman Jepara di tingkat nasional, hingga mancanegara.

Salah satu daya tarik yang akan kembali ditampilkan ialah pertunjukan langsung (live performance) pembuatan karya ‘Macan Kurung’ di Sarinah, Jakarta.

"Kami ingin karya-karya seniman Jepara semakin dikenal. Tatah berupaya mengangkat, mengenalkan, dan memberikan panggung bagi para seniman-perajin agar memiliki nama yang lebih luas," ucapnya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jepara Ary Bachtiar juga mengatakan, kehadiran Tatah bukan sekadar pameran seni. Akan tetapi menjadi jalan untuk mengembalikan kejayaan ukir Jepara melalui regenerasi yang berkesinambungan. 

Menurutnya, pelestarian ukir, harus dimulai sejak usia dini. Agar kecintaan terhadap warisan budaya tersebut terus tumbuh.

"Regenerasi harus dilakukan secara berkelanjutan. Pengenalan ukir sudah dimulai sejak dini, mulai PAUD melalui kegiatan mewarnai motif ukiran. Kemudian di SD dikenalkan melalui muatan lokal dan ekstrakurikuler, sedangkan pendalaman bisa dilakukan di jenjang SMP hingga SMA," ujarnya.

Ary menyampaikan, saat ini materi ukir memang belum masuk dalam kurikulum nasional. 

Namun, Pemerintah Kabupaten Jepara akan membahas upaya memperkuat pembelajaran ukir bersama Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora).

Pihaknya juga akan meninjau kemungkinan penerbitan surat edaran, yang mendorong sekolah memberikan ruang lebih luas dan mendalam bagi pengenalan seni ukir. 

Langkah tersebut diharapkan mampu membuat pembelajaran ukir menjadi lebih efektif sekaligus menarik bagi para pelajar.

"Pelestarian ukiran dan regenerasi menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah daerah maupun pelaku usaha. Harapannya masyarakat Jepara kembali mencintai ukiran sebagai identitas daerah," pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
TATAH Jepara Keberlangsungan ukir jepara kota ukir Seniman Ukir macan kurung