JEPARA — Musim kemarau mulai berdampak pada ketersediaan air bersih di Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara.
Debit air di sejumlah sumur warga mulai menyusut. Masyarakat khususnya Karimunjawa pun was-was.
Sementara, pelanggan Perumdam Tirta Jungporo Unit Karimunjawa kini juga harus menerima pasokan air bersih secara bergilir. Diakibatkan menurunnya debit sumber air baku.
Kini, lalu-lalang warga mengangsu air menggunakan galon bekas pun jamak ditemui. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya mencukupi kebutuhan air bersih domestik.
Salah satu warga Karimunjawa, Andrias (41), mengatakan tanda-tanda kekeringan mulai terasa sejak bulan ini.
Tak sedikit sumur warga mengalami penyusutan debit. Bahkan warga yang tinggal di kawasan berkontur tanah tinggi, mulai resah dengan volume air di dalam sumurnya.
"Kalau di Dukuh Jatikerep masih relatif aman. Tapi di pusat Karimunjawa sudah mulai surut. Sekarang banyak warga yang membeli dan mengambil air menggunakan galon bekas. Karena aliran PDAM pun tidak setiap hari," ujarnya, pada Kamis (23/7).
Menurutnya, sebagian warga masih mengandalkan air tadah hujan dan sumur sebagai sumber air bersih.
Namun saat musim kemarau berkepanjangan, kualitas air sumur mulai berubah menjadi payau bahkan terasa asin.
Ia memperkirakan kondisi akan semakin berat memasuki bulan Agustus, apalagi jika hujan tak kunjung turun.
"Kalau kemarau panjang biasanya air sumur menjadi asin. Kemungkinan Agustus akan lebih parah," katanya.
Andrias menambahkan, penggiliran distribusi air PDAM juga belum dirasakan merata oleh seluruh wilayah.
Sebagian warga akhirnya membeli air dari pemilik tandon pribadi, yang menjual simpanan air bersihnya.
Harga air mencapai Rp 70-100 ribu untuk satu toren berkapasitas sekitar 1.050 liter. Warga biasa membeli secara kolektif, kemudian mengangsunya menggunakan wadah masing-masing.
Menurutnya, pembangunan bendungan penampung air hujan yang sejak lama diharapkan masyarakat hingga kini belum juga terealisasi.
Padahal keberadaan bendungan dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis air bersih di Karimunjawa.
Direktur Utama Perumdam Tirta Jungporo Jepara, Lukman Hakim, membenarkan mulai diberlakukannya sistem distribusi air secara bergilir sejak Kamis (23/7).
Kebijakan tersebut diambil karena debit mata air Legon Lele sebagai satu-satunya sumber air baku, mengalami penurunan akibat musim kemarau.
"Mulai hari ini distribusi kami lakukan bergilir. Air yang dihasilkan dari sumber berkurang sehingga tidak memungkinkan mengalir ke seluruh pelanggan secara bersamaan. Penggiliran dilakukan per wilayah dan akan terus kami evaluasi," jelasnya, Kamis (23/7).
Ia menjelaskan, sumber air baku di Karimunjawa sepenuhnya berasal dari mata air Legon Lele, yang mengandalkan cadangan air hujan yang tersimpan selama musim penghujan.
Saat memasuki kemarau, debit sumber tersebut memang selalu mengalami penurunan.
Saat ini PDAM melayani sekitar 700 pelanggan di Karimunjawa yang didominasi rumah tangga, serta sebagian kecil homestay dan pelaku usaha wisata.
Rata-rata biaya langganan sekitar Rp 3100 per meter kubik.
Meski demikian, Lukman menilai kondisi saat ini masih dapat ditangani dan belum memerlukan pengiriman air bersih menggunakan mobil tangki.
"Biasanya kondisi seperti ini tidak berlangsung lama. Selama kemarau tidak lebih dari satu bulan, kebutuhan masyarakat masih bisa tercukupi. Sampai sekarang juga belum ada permintaan dropping air bersih dari warga," ucapnya.
Sebagai langkah jangka panjang, pihaknya kembali mengusulkan pembangunan bendungan tadah hujan di Karimunjawa kepada pemerintah pusat. Utamanya melalui DKPP Jepara.
Rencana tersebut sebenarnya pernah digagas sekitar tiga tahun lalu, namun gagal direalisasikan karena terkendala persoalan pembebasan lahan di kawasan Legon Lele.
Menurut Lukman, bendungan menjadi solusi paling realistis untuk menambah cadangan air baku di Karimunjawa.
Sebab pembangunan sumur dalam tidak memungkinkan karena sebagian besar kawasan masuk wilayah konservasi, sedangkan teknologi desalinasi air laut masih membutuhkan biaya investasi dan operasional yang sangat tinggi.
"Teknologi desalinasi memang sudah ada, bahkan beberapa perusahaan sudah menawarkan. Tetapi biaya produksinya masih mahal sehingga tarif air juga akan ikut tinggi. Karena itu kami masih terus mengkaji berbagai alternatif dengan biaya yang lebih terjangkau," pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya