JEPARA — Selepas kerja, Dayu (bukan nama sebenarnya) bersandar di bawah pohon pule, pada Selasa (21/7) sore. Tatapannya memandang jauh, kosong.
Perempuan 24 tahun asal Demak tersebut tak ubahnya sedang menghitung hari. Setelah setidaknya empat tahun bekerja di PT. Samwon Busana Indonesia. Kini masanya bekerja hanya tersisa 10 hari.
Pabrik tempatnya bekerja akan tutup permanen mulai Sabtu, 1 Agustus 2026. Keadaan ini di luar prediksinya.
Namun di sisi yang lain ia merasa beruntung. Pasalnya, masih mendapatkan pesangon hingga Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) BPJS Ketenagakerjaan.
Dayu, adalah salah satu dari setidaknya 680 pekerja lain yang akan di-PHK. PT Samwon Busana Indonesia merugi selama beberapa tahun belakangan, order sepi. Terutama saat masa Covid-19. Kondisi tak kunjung membaik, bahkan kini nilai rupiah pun melemah.
Tak ada upaya lain, selain pabrik menghentikan aktivitas produksinya. Tutup permanen.
Menurut Dayu, PHK massal kali ini bukanlah yang pertama. Usai lebaran lalu, telah dilakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 120 pekerja.
"Iya, tahap pertama yang di-PHK yang masa kerjanya dua tahunan," ucapnya ringkas.
Awal Juli 2026 ini, ia beserta pekerja lain pun akhirnya mendapatkan kabar yang menggetarkan hati. Pabrik akan ditutup, pekerja di-PHK.
"Rasanya gregel neng ati (sesak di hati, red) mendengar berita pabrik akan ditutup. Ternyata benar, kabar burung yang sedang beredar," ucapnya lirih, menjelaskan PHK massal kloter kedua tersebut.
Sesekali, Dayu pun, tampak mengusap kelopak matanya. Meski sang suami masih bekerja di pabrik lain, namun ia masih tak kuasa menyembunyikan kecemasannya.
Belum lama dari masa pernikahannya, ia dikaruniai momongan. Kini berusia 16 bulan.
"Tidak menyangka. Karena pada bulan Juni kemarin itu masih ada lembur. Jor-joran (rutin, red)," katanya.
Ia yang bergaji UMK Jepara Rp 2,7 juta, bisa mendapatkan gaji menyentuh angka Rp 5 juta apabila ikut lembur.
Pihaknya pun sudah mengetahui, pesangon yang diterimanya hanya 50 persen. Hanya sekitar Rp 1,35 juta dikali empat (lama masa kerjanya dalam hitungan tahun).
Namun, di samping itu, juga terdapat penghargaan masa kerja, dua kali lipat. Belum lagi sisa cuti tahunan yang belum diambil.
"Untuk yang masa kerja 3-6 tahun dapat penghargaan masa kerja, hitungannya dua kali lipat. Bagi pekerja 6-9 tahun, tiga kali lipat, 9-12 tahun sampai empat kali lipat," jelasnya.
Kesedihannya sementara waktu dapat terhapus, lantaran mendapatkan uang pesangon tersebut.
"Jane sedih, gak nyangka. Tapi yang penting dapat pesangon. Ya sambil momong anak dan menunggu kesempatan bekerja di tempat lain. Kalau ada lowongan bisa mendaftar," ucapnya sembari terkekeh, namun dengan nada lirih.
Di samping itu, pekerja lain yang enggan disebutkan namanya tak kalah pengalaman. Ia masuk sejak tahun 2018. Saat itu PT Samwon sedang berada dalam puncak kejayaannya.
Perempuan 26 tahun ini juga tak menyangka, akan menggantungkan baju abu bergaris putih tipis yang biasa dikenakannya.
Menurutnya, menjadi bagian dari PT Samwon merupakan pengalaman berharga baginya.
"Ya masuk Senin-Jumat, masuk jam 07.30 pulang 16.30. Kalau dapat lembur ya lumayan. Biasanya dua jam, hingga pukul 19.00," katanya.
Ia pun tak sabar, menunggu pesangon dan JKP cair. Sembari akan mengasuh anak, ia akan mencari kesempatan bekerja di pabrik lain.
Di PT Samwon sendiri, dulu alur kerja dari 15 line hingga kini menjadi 3 line turut dialaminya.
Tak sedikit yang menunggu jemputan dari sang suami, sejak keluar gedung pukul 16.30 hingga menjelang Maghrib. Beberapa pekerja merupakan warga luar Jepara, yang sewa kos bulanan-tahunan di dekat pabrik.
Sementara itu, salah satu penjual nasi di depan PT. Samwon Busana Indonesia Lina menyampaikan ia juga sudah mendengar kabar, jika Samwon akan ditutup.
"Khawatir sih ada, tapi ya hanya bisa pasrah," sebutnya.
Ia menjelaskan, pekerja PT Samwon, biasa keluar untuk makan siang pukul 11.30. "Jam 12.00 biasanya sudah masuk ke pabrik lagi," ucapnya yang buka warung di depan PT Samwon.
Belasan hingga puluhan warung, menurutnya akan terdampak. "Ya, selain PT Samwon di sini dekat PT Jiale. Jadi ya ngandelin pembelian dari warga dan pengguna jalan yang lewat sini," katanya.
Ia berharap, aset yang ditinggalkan PT Samwon dapat dibeli investor dan penanam modal lain. Sehingga, ekonomi tingkat bawah juga ikut bergerak.(fik)
Editor : Mahendra Aditya