Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Menggali Jejak Kerajaan Kalinyamat Bagian III: Sejarawan Peter Carey Turun Tangan Teliti Ratu Kalinyamat

Fikri Thoharudin • Sabtu, 18 Juli 2026 | 16:37 WIB
TERPIKAT: Sejarawan peneliti Pangeran Diponegoro, Peter Carey tengah mencatat detail ornamen di tempat penyimpanan koleksi seputar Ratu Kalinyamat di Masjid Mantingan, pada Rabu (10/6). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
TERPIKAT: Sejarawan peneliti Pangeran Diponegoro, Peter Carey tengah mencatat detail ornamen di tempat penyimpanan koleksi seputar Ratu Kalinyamat di Masjid Mantingan, pada Rabu (10/6). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Akar sejarah Jepara kini kembali digali secara lebih dalam dan serius. 

Tak hanya oleh pegiat sejarah dan budaya lokal, tapi juga oleh Indonesianis sekaligus sejarawan ternama, Prof. Peter Brian Ramsay Carey.

Sejarawan terkemuka asal Inggris, yang telah menghabiskan lebih dari 40 tahun meneliti Jawa, utamanya Pangeran Diponegoro, kini beranjak, meneliti Ratu Kalinyamat.

Semula, sosok perempuan yang menjadi penguasa Jepara pada abad ke-16 tersebut tak jarang disebut sebagai tokoh fiksi, bahkan dongeng.

Namun berkat perhatian banyak orang, termasuk di antaranya Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Ratu Kalinyamat berhasil ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2023 lalu. 

Titik balik penelitian mendalam tersebut dimulai pada Rabu (10/6) lalu. Peter Carey sapaan akrabnya, didampingi oleh Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Ikhwan Syaifullah. 

Mereka beserta pengurus Masjid Sultan Hadlirin Mantingan, menelisik masuk ke gudang penyimpanan koleksi ornamen ukir tinggalan Ratu Kalinyamat. Termasuk detail-detail parsial yang terdapat di Masjid Mantingan.

Selain itu, Peter Carey juga menilik corak Makam Ratu Kalinyamat beserta Sultan Hadlirin. 

Dari prasasti maupun cerita tutur hingga silsilah berkaitan Ratu Kalinyamat, tak luput ia tanyakan. 

Menurutnya, riwayat tentang Ratu Kalinyamat sarat akan pesona sejarah yang agung. Seperti halnya Kartini, sebagai seorang yang tegas dan berani. Terutama atas penjajah. 

Pada tahap awal ini, ia melihat dan menganalisis bukti-bukti fisik yang terkait dengan Ratu Kalinyamat. Ia melihat Mantingan, beserta isinya, sebagai cermin bening, untuk melihat periodisasi sejarah. 

Tak hanya sebagai sebuah warisan keterampilan seni ukir-mengukir, tapi juga ilmu pengetahuan dan keteladanan. Termasuk pengaruhnya dalam kaliber nusantara maupun mancanegara, khususnya Asia Tenggara.

Terutama atas aliansi jaringan kerajaan yang berhasil dibangunnya, seperti dengan Johor pada 1551 serta Aceh pada 1568 untuk melawan hegemoni Portugis di Malaka.

Tak sedikit catatan yang telah disebutkan perihal sosok dan keberanian Ratu Kalinyamat atas Portugis.

Misalnya oleh Diogo do Couto (1612-1675), Manuel Faria e Sousa (1674), Jorge de Lemos (1585), surat Fransisco Peres kepada Raja Portugis (1551), kronik Residencia das Moluccas (1564-1565), laporan Manuel de Sa, maupun catatan tentang perdagangan Nusantara dalam surat-menyurat Portugis.

Namun, lebih dari sekadar literatur, Peter Carey tampak hendak menyelami alam pikiran Ratu Kalinyamat. Termasuk pengaruh Sang Ratu dalam relasi sosial-ekonomi-spiritual dengan masyarakat.

Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Ikhwan Syaifullah menyampaikan Peter Carey bersama dengan Yayasan Dharma Bakti Lestari sengaja melakukan penelitian tersebut. Atas prakarsa Lestari Moerdijat, Peter Carey didukung untuk dapat membuat penelitian mendalam.

"Riset ini untuk nantinya bisa menerbitkan sebuah buku, tentu Pak Peter Carey sebagai penulis. Hal ini bisa menjadi satu tambahan, kekuatan narasi terhadap Ratu Kalinyamat," ungkapnya, pada Selasa (14/7).

Menurutnya, kunjungan lapangan itu dilakukan untuk menghimpun pemberhendaharaan riwayat seputar Ratu Kalinyamat.

"Pak Peter Carey mendapatkan banyak insight (wawasan, red). Mantingan menjadi langkah awal untuk menggali lebih dalam riwayat Ratu Kalinyamat," sebutnya.

Lebih lanjut dikatakan, pemrakarsaan atas buku berkaitan dengan Ratu Kalinyamat tidak lain dan tidak bukan, agar dapat memperkuat statusnya usai ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada November 2023 lalu.

"Riset yang saat ini dilakukan oleh beliau dengan memperkuat narasi. Kemarin (Rabu 10 Juni, red) beliau menggali informasi lapangan sebanyak mungkin, mengurutkan secara keseluruhan (cerita)," imbuhnya.

Terlebih, kecakapan Peter Carey dalam menuliskan setiap detail serta pengolahan informasi. 

"Sekarang sudah tahap pengolahan, sudah menjadi olahan dasar yang ditangani Pak Peter Carey. Kebetulan beliau saat ini sedang di Inggris," jelasnya.

Pihaknya turut berharap, hasil riset dapat segera rampung tanpa kendala yang berarti. Di samping proses penggalian terkait bekas Kerajaan Kalinyamat, yang juga sedang menjadi pembahasan santer bagi masyarakat Jepara secara khusus.

"Iya Pak Peter dan Bu Rerie berusaha untuk menghadirkan sebuah buku terkait Ratu Kalinyamat. Semoga segera selesai dan menjadi referensi untuk semakin lebih mengenal tokoh besar dari Jepara ini," pungkasnya.(fik) 

Editor : Mahendra Aditya
Peter Carey Teliti Ratu Kalinyamat Lestari Moerdijat dukung penerbitan buku Ratu Kalinyamat pahlawan nasional ratu kalinyamat jepara