Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

75 Siswa SR Rintisan Jepara Bersiap Tempati Kampus Terpadu Pakis Aji, MPLS Fokus Adaptasi Asrama

Fikri Thoharudin • Sabtu, 18 Juli 2026 | 01:19 WIB
BERGANTI FUNGSI: SR percepatan yang berada di BLK Pecangaan akan digunakan untuk percepatan Sekolah Nasional Terintegrasi. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
BERGANTI FUNGSI: SR percepatan yang berada di BLK Pecangaan akan digunakan untuk percepatan Sekolah Nasional Terintegrasi. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Masa libur sekolah bagi siswa Sekolah Rakyat (SR) Dasar angkatan pertama di Jepara segera berakhir. 

Sebelumnya, kegiatan belajar mengajar (KBM) untuk angkatan pertama SR di kompleks Balai Latihan Kerja (BLK) Pecangaan, dimulai pada 30 September 2025 lalu.

Mulai 29-30 Juli ini, mereka tak lagi menjalani KBM di tempat tersebut. Akan dipindah, serta diasramakan di gedung permanen SR Terpadu yang berada di Desa Suwawal Timur, Kecamatan Pakis Aji.

Kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) akan dilakukan pada Jumat (31/7).

Berbeda dengan sekolah pada umumnya, MPLS di Sekolah Rakyat tidak hanya mengenalkan lingkungan belajar.

Tetapi juga mempersiapkan mental dan fisik siswa untuk menjalani kehidupan di asrama (boarding school).

Kepala Sekolah Rakyat Jepara, Asri Linda Listyaningrum, mengatakan pembukaan MPLS menjadi gerbang awal bagi anak-anak memasuki ekosistem Sekolah Rakyat.

"Intinya, anak-anak dipersiapkan agar siap hidup di asrama, siap secara mental dan fisik untuk berpisah sementara dari orang tua, serta merasa nyaman tinggal di lingkungan Sekolah Rakyat," ujarnya, pada Jumat (17/7).

Pada kegiatan penyambutan, pihak sekolah juga akan menampilkan berbagai pertunjukan.

Termasuk testimoni dari siswa Sekolah Rakyat rintisan, sebagai bentuk motivasi bagi peserta didik baru. Diharapkan para siswa baru dapat semakin percaya diri menjalani pendidikan berasrama.

Sebelumnya, dalam SRD rintisan, jenjang SD telah terdapat 75 siswa yang tersebar dalam lima tingkat kelas. 

Renciannya, kelas I sebanyak 10 siswa, kelas II sebanyak 18 siswa, kelas III sebanyak 22 siswa, kelas IV sebanyak 9 siswa, dan kelas V sebanyak 16 siswa.

Sementara itu, jumlah siswa dalam SR Terpadu di Pakis Aji sejumlah 90 orang. Baik jenjang SD, SMP, maupun SMA. 

Asri menjelaskan, Sekolah Rakyat menggunakan pendekatan multi-entry dan multi-exit. 

Melalui sistem tersebut, anak-anak dari berbagai jenjang, termasuk yang sempat putus sekolah, dapat kembali melanjutkan pendidikan sesuai kondisi masing-masing.

"Program ini memberi kesempatan kepada anak-anak yang sebelumnya putus sekolah untuk kembali mengejar cita-citanya. Tidak harus selalu mulai dari jenjang paling bawah," ucapnya.

Ia menambahkan, konsep Sekolah Rakyat berbeda dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). 

Selain memberikan pembelajaran akademik menggunakan Kurikulum Merdeka, sekolah juga menekankan pembentukan karakter melalui kegiatan di asrama.

"Struktur kurikulumnya sama dengan sekolah umum. Yang membedakan adalah adanya penguatan kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler, dan pembiasaan dalam kehidupan asrama untuk membentuk karakter siswa," jelasnya.

Untuk mendukung proses belajar mengajar, kebutuhan tenaga pendidik perlu dipenuhi. 

Karena itu, Sekolah Rakyat berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara agar dapat membantu pemenuhan tenaga pengajar. Terutama dalam masa transisi tersebut.

Sembari menunggu pemenuhan rekrutmen guru dari Pemerintah Pusat.

"Pemenuhan guru masih berproses dan kami mendapat dukungan dari Disdikpora. Agar proses pembelajaran (di masa transisi, red) dapat berjalan optimal," imbuhnya.

Menurut Asri, Sekolah Rakyat merupakan program nasional yang mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Jepara, terutama Bupati Jepara Witiarso Utomo, sebagai salah satu upaya pengentasan kemiskinan melalui jalur pendidikan.

"Alhamdulillah, tahun ini peserta didik baru benar-benar mengakomodasi anak-anak dari keluarga yang belum mampu. Sehingga mereka tetap memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang layak," katanya.

Selain pembelajaran di kelas, Sekolah Rakyat juga akan mengembangkan potensi siswa, melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler sesuai minat dan bakat. 

Berbagai fasilitas seperti lapangan sepak bola, jogging track, dan sarana olahraga lainnya akan dimanfaatkan sebagai ruang pengembangan prestasi nonakademik.

"Kami ingin potensi anak-anak berkembang, bukan hanya akademiknya, tetapi juga bakat dan minat mereka. Fasilitas yang ada sangat mendukung untuk itu, bahkan bisa dimanfaatkan sebagai lokasi berbagai kegiatan dan perlombaan," ujarnya.

Dalam kehidupan berasrama, jadwal kunjungan orang tua juga telah diatur. 

Selama dua minggu pertama, kunjungan dijadwalkan setiap dua pekan sekali. 

Setelah siswa beradaptasi selama dua bulan, frekuensi kunjungan menjadi satu kali setiap bulan.

Kunjungan biasa dilaksanakan pada akhir pekan, dengan jadwal Sabtu untuk siswa putra dan Minggu untuk siswa putri, mulai pukul 12.00 hingga 15.00 WIB. 

Sementara siswa diperbolehkan pulang saat libur akhir semester, libur Ramadan, maupun hari besar keagamaan.

Asri menambahkan, kapasitas kamar di kompleks Sekolah Rakyat permanen juga lebih besar dibandingkan lokasi rintisan (BLK Pecangaan).

Jika sebelumnya satu kamar dihuni enam hingga sepuluh siswa sesuai ukuran ruangan, pada gedung permanen kapasitasnya dapat mencapai sekitar 20 siswa dalam satu kamar yang lebih luas dan representatif.

“Jika siswa ada acara keluarga, ataupun insidental lainnya juga diperbolehkan izin. Di luar kesempatan sambang (kunjungan ke sekolah, red). Yang tak kalah penting ialah membuat murid nyaman, kerasan,” pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
mpls sekolah rakyat SR Pakis Aji Jepara Sekolah rakyat terpadu Diasramakan