JEPARA — Mahasiswa Program Studi Desain Produk Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, memamerkan puluhan karya.
Pameran tersebut bertajuk Descendent: From Cultural Roots to Commercial Forms. Kegiatan berlangsung selama dua hari, Rabu-Kamis (24-25/6), di kompleks Basement Gedung Fakultas Komunikasi dan Desain.
Ketua panitia, Rokhis Hidayatullah, mengatakan pameran kali ini merupakan penyelenggaraan yang kesembilan. Menampilkan sebanyak 26 karya mahasiswa.
Karya-karya tersebut merupakan hasil pembelajaran mahasiswa Desain Produk, dari semester satu hingga semester enam.
Menurutnya, sebagian karya berasal dari mahasiswa angkatan 2023 semester enam, termasuk 13 mahasiswa yang tengah menempuh tugas akhir.
Seluruh desain yang dipamerkan diwujudkan dalam bentuk prototipe maupun produk realistis, sehingga dapat menggambarkan proses perancangan hingga tahap implementasi.
“Pameran ini menjadi wadah untuk menunjukkan hasil desain mahasiswa yang benar-benar diwujudkan secara nyata. Karya yang ada bukan duplikat, sehingga memiliki karakter dan keunikan tersendiri,” ungkapnya.
Beragam karya yang dipamerkan didominasi produk furnitur. Namun juga terdapat sejumlah desain yang mengangkat nilai budaya lokal dan diarahkan agar memiliki potensi komersial.
Sementara itu, Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan, Kemasyarakatan, dan Sumber Daya Manusia (PKSDM) Kabupaten Jepara, Sridana Paminto, menilai karya-karya mahasiswa Desain Produk memiliki keterkaitan erat dengan masa depan perekonomian Jepara.
Karena itu, inovasi produk yang berangkat dari kebutuhan masyarakat, perlu terus dikembangkan.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor industri pengolahan masih menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Jepara.
Dengan kontribusi mencapai 33,61 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2025.
“Lebih dari sepertiga aktivitas ekonomi daerah kita ditopang oleh sektor yang erat kaitannya dengan industri mebel, kerajinan, dan manufaktur kreatif,” sambungnya.
Selain itu, Jepara juga memiliki ekosistem industri furnitur yang cukup besar. Tercatat terdapat 892 perusahaan furnitur dengan nilai investasi mencapai Rp1,17 triliun.
Kondisi tersebut dinilai membuka ruang yang luas, bagi para desainer muda untuk berkarya dan mengembangkan inovasi produk.
“Untuk itu dibutuhkan ide-ide baru yang kreatif, segar, dan inovatif. Jepara tidak cukup hanya menjadi daerah yang memproduksi, tetapi juga harus mampu menciptakan produk-produk baru yang memiliki nilai tambah,” imbuhnya.
Pemerintah Kabupaten Jepara, lanjutnya, terus berupaya memperkuat ekosistem industri kreatif dan mebel melalui berbagai program, seperti pengembangan Pasar Mebel Jepara, festival ukir internasional, hingga penataan kawasan ekonomi kreatif.
Program-program tersebut diharapkan menjadi ruang tumbuh kreativitas generasi muda.
Sridana juga menyinggung penyelenggaraan pameran seni ukir TATAH, yang masih berlangsung di Museum Nasional Indonesia.
Menurutnya, semangat yang diusung dalam pameran tersebut sejalan dengan tema Descendent, yakni mengajak masyarakat untuk kembali melihat warisan budaya leluhur.
Sekaligus menciptakan karya yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
“Desain adalah jembatan yang menghubungkan budaya dengan kebutuhan masyarakat. Ini menjadi kunci agar produk-produk Jepara mampu terus bersaing di pasar nasional maupun internasional,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah, dunia usaha, komunitas kreatif, dan perguruan tinggi dapat memperkuat kolaborasi untuk melahirkan lebih banyak gagasan dan inovasi.
“Pemerintah memberi dukungan kebijakan dan fasilitasi, sementara dunia usaha menyediakan ruang implementasi,” pungkasnya.(fik)
Editor : Admin