JEPARA — Bukti otentik terkait dengan keberadaan Kerajaan Kalinyamat masih terpendam. Meskipun demikian masih ada banyak harapan.
Belum lama ini muncul kesaksian yang mengejutkan, dari warga Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan.
Utamanya dari Pengasuh PP. Nailun Najah Assalafy Gus Muhammad (Gus Mad) serta pemerhati sejarah M Hisyam Maliki.
Usai ditemukan ornamen dua sisi, satu bercorak sulur dan sisi lain bermotif kalabhairawa dan apsara.
Temukan ini menjadi penting, sebagai rekam jejak peradaban di masa lampau. Utamanya berkenaan dengan Hindu-Buddha dan Islam.
Namun, yang membuat harapan masyarakat Kriyan dan Jepara pada umumnya ialah dengan tersibaknya struktur bata. Susunannya rapi, memanjang, dan memiliki diameter yang tidak kecil.
Terdapat sejumlah riwayat yang kini masih dapat dibuktikan kebenarannya, secara fisik lewat temuan.
Kawasan sekitar Kriyan sendiri diriwayatkan sebagai Pusat Kerajaan Kalinyamat. Termasuk kini masih terdapat situs Langgar Bubrah serta Siti Hinggil.
Keberadaan makam dengan nisan bergambar bulan sabit juga memunculkan tanda tanya tersendiri.
Tokoh-tokoh penting melintasi Kriyan hingga meninggal dan jamak dikuburkan di kawasan tersebut.
Pemerhati Sejarah asal Kriyan M Hisyam Maliki (36) mengaku khawatir. Pasalnya kini struktur bata tersebut kian jelas, namun kondisinya memprihatinkan. Tak terawat.
Ia pun berharap ada proses ekskavasi, agar temuan yang diduga kuat berkaitan dengan masa kepemimpinan Ratu Kalinyamat menjadi pelajaran tersendiri.
Di samping menjadi pegangan dan akar sejarah, hal tersebut menurutnya dapat menguatkan status Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional.
Ratu Kalinyamat, sebelumnya telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui KEPRES RI No. 115/TK/Tahun 2023 pada 6 November 2023. Penetapan tersebut sesuai dengan pasal 26 UU No. 20 Tahun 2009.
Piagam gelar pahlawan ini diberikan sebagai penghargaan terhadap jasa pengorbanan orang yang berjuang melawan penjajahan, di wilayah yang sekarang menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bukti tertulis peran Ratu Kalinyamat, di antaranya ialah sumber-sumber dari Portugis. Seperti serangan Jepara ke Malaka pada 1551.
Sebagaimana yang dicatatkan oleh Manuel Faria e Sousa, "Bersekutulah para raja dari Pera, Pao, Marruas dengan Ratu Jepara dari Jawa. Persekutuan itu membentuk armada di lautan dengan 200 kapal dan lebih dari 10.000 orang," nukilnya.
Sang Ratu banyak disebut sebagai seorang yang cantik dan berani. Memimpin dengan penuh kewibawaan, terutama sepeninggal Sang Suami, Sultan Hadlirin.
Hisyam, melanjutkan, peranan Ratu Kalinyamat merupakan satu simpul yang relevan. Telah diletakkan semangat antikolonialisme, serta cinta tanah air yang begitu besar.
Penggalian berkenaan dengan bekas Kerajaan Kalinyamat, menjadi hal yang mutlak. Utamanya jika hendak mereguk kembali kedirian dan trah atas semangat perjuangan kemerdekaan.
Aliansi yang berhasil dibangun oleh Sang Ratu, menjadi titik tolak. Semangat persatuan.
"Saat ini kami sudah mengumpulkan para pemuda, untuk menyimpan temuan-temuan yang didapat dari area Langgar Bubrah maupun Siti Hinggil," ucapnya.
Ia juga menyebut, kini banyak dari struktur bata yang memang telah dan masih terkubur. Bahkan di atasnya sudah dibangun rumah oleh warga.
"Namun masih ada petak-petak di sejumlah titik, kondisinya masih kebun dan tanah lapang. Di antaranya dimiliki oleh salah seorang haji di daerah sini (Kriyan, red). Jika memang mendapatkan rekomendasi ahli untuk ekskavasi, maka sebaiknya pemerintah terkait dan pemilik lahan dapat saling berbicara guna mendapatkan jalan tengah," pungkasnya.(fik)
Editor : Admin