Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Peter Carey Telusuri Jejak Ratu Kalinyamat, Temuan Ornamen Kriyan Diduga Terhubung dengan Misteri Relief Mantingan

Fikri Thoharudin • Jumat, 12 Juni 2026 | 18:27 WIB
TERTARIK: Sejarawan peneliti Pangeran Diponegoro Peter Carey tengah mencatat detail ornamen di tempat penyimpanan Masjid Mantingan pada Rabu (10/6). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
TERTARIK: Sejarawan peneliti Pangeran Diponegoro Peter Carey tengah mencatat detail ornamen di tempat penyimpanan Masjid Mantingan, pada Rabu (10/6). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Temuan batu medalion berornamen di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, kian menarik perhatian berbagai kalangan. Banyak fakta yang beririsan.

Di antaranya, motif pada batu yang ditemukan, memiliki kemiripan dengan sejumlah ornamen yang terdapat di kompleks Masjid Mantingan.

Dari puluhan ornamen yang kini berada di tempat penyimpanan Masjid Mantingan, ada satu ornamen yang memiliki dua sisi pula.

Ukurannya tak jauh berbeda, hanya diameternya lebih tebal.

MENARIK: Motif kera di balik sulur yang terdapat pada ornamen di Mantingan. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS) 
MENARIK: Motif kera di balik sulur yang terdapat pada ornamen di Mantingan. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS) 

Di samping itu, terdapat pula ornamen satu sisi yang memiliki motif bercorak hewan, seperti kuda maupun burung. Motif sulur menjadi corak yang mendominasi.

Radar Kudus dibuat terperangah, saat diperlihatkan puluhan bahkan ratusan fragmen ornamen, yang disimpan pihak pengurus atau yayasan.

Baca Juga: https://radarkudus.jawapos.com/jepara/2606060026/warga-kriyan-temukan-ornamen-dua-sisi-diduga-masa-peralihan-hindu-buddha-dan-islam-era-ratu-kalinyamat

Pada saat yang sama, pada Rabu (10/6), sejarawan terkemuka sekaligus peneliti Pangeran Diponegoro, Peter Carey juga meninjau berbagai koleksi milik Yayasan Masjid dan Makam Sultan Hadlirin Mantingan.

BERSEJARAH: Motif sulur di balik motif kera pada ornamen di Masjid Mantingan. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
BERSEJARAH: Motif sulur di balik motif kera pada ornamen di Masjid Mantingan. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Ia menyisir satu persatu motif, termasuk tiga prasasti yang beraksara Jawa. Peter Carey juga mendokumentasikan secara pribadi, ornamen dengan motif yang membuatnya penasaran.

Dikabarkan, Peter Carey juga akan mengulas sosok Ratu Kalinyamat, dengan membuat sebuah karya. Buku. 

Selain motif-motif tersebut, juga terdeteksi satu ornamen dari Mantingan yang kini disimpan di Museum Ranggawarsita. Motifnya satu sisinya sulur, sedangkan pada sisi lainnya Ramayana.

Salah satu Pengurus Yayasan Masjid dan Makam Sultan Hadlirin Mantingan Malik, menilai, ada keterkaitan erat antar temuan-temuan tersebut.

Malik menyinggung, ornamen itu berkaitan dengan pengukir dan arsitek legendaris asal Tiongkok. Ia berjasa memperkenalkan sekaligus peletak dasar seni ukir Jepara, yakni Tjie Hwio Gwan. 

Baca Juga: https://radarkudus.jawapos.com/jepara/2606110060/misteri-ornamen-bermotif-kalabhairawa-dan-struktur-bata-kuno-di-jepara-mulai-diungkap-bpk-lakukan-asesmen?page=3

Sosok tersebut jamak dikenal dengan nama Sungging Badar Duwung dan mendapat gelar Patih, semasa Kerajaan Kalinyamat.

“Dulu, ornamen ini ditemukan dalam kondisi terpendam di tanah (kini bawah serambi Masjid Mantingan, red), saat renovasi masjid di tahun 1970-an. Waktu ditemukan, tidak terpasang pada bangunan masjid. Banyak bagian relief yang terpencar,” ungkapnya.

Ia menegaskan, sejumlah relief yang kini dapat dilihat di Masjid Mantingan, pada masa lalu ditemukan dalam keadaan terpisah-pisah. 

Menurutnya, motif-motif tersebut diduga menunjukkan pengaruh seni Hindu-Buddha yang masih kuat, pada masa peralihan menuju perkembangan budaya Islam di Jepara. 

Karakter ukiran berupa flora, fauna, dan bentuk-bentuk dekoratif, menjadi ciri yang banyak ditemukan pada relief Mantingan.

Kini, ukiran relief yang kini terpasang di Masjid Mantingan, diduga merupakan bagian yang telah mengalami penyesuaian dari bentuk aslinya. 

“Kalau dilihat sekilas, ada kemiripan motif (temuan di Kriyan, red) dengan yang ada di Mantingan. Tetapi tentu perlu kajian lebih lanjut dari para ahli untuk memastikan keterkaitannya,” ucapnya.

Ia menambahkan, temuan di Kriyan berpotensi membuka informasi baru, mengenai perkembangan sejarah Kerajaan Kalinyamat.

Termasuk jaringan situs-situs peninggalan, yang berada di sekitar kawasan Mantingan. 

Untuk itu, proses penelitian dan dokumentasi dinilai penting dilakukan. Supaya nilai sejarah benda-benda tersebut dapat diketahui secara lebih utuh.

Sejauh ini, sejumlah pihak, termasuk tim dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah, telah melakukan asesmen lapangan terhadap temuan di Kriyan. 

Hasil kajian lebih mendalam nantinya diharapkan dapat mengungkap asal-usul, cerita, fungsi, serta hubungan artefak tersebut dengan situs sejarah lain di Jepara. Termasuk kompleks Masjid dan Makam Sultan Hadlirin Mantingan.

Berdasarkan catatan sejarah, Kriyan merupakan pusat pemerintahan Ratu Kalinyamat. Hingga kini pun masih dapat ditemukan struktur bata kuno yang masih terpendam.

Diduga kuat, irisan dengan Masjid Mantingan sendiri, di antaranya ialah sebagai tempat uzlah bagi Ratu Kalinyamat.

Yang kemudian menjadi tempat pemakaman Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat. Termasuk dibuatnya Masjid Mantingan yang berada di sebelah timur makam.

Temuan tersebut, masih diteliti lebih lanjut. “Diharapkan, ini juga memperkuat status Ratu Kalinyamat, setelah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2023 lalu,” pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#Kerajaan Kalinyamat #Kriyan #Ornamen Mantingan #Hindu Buddha dan Islam #Ratu Kalinyamat