JEPARA — Kasus pemuda yang ditemukan meninggal dunia di Tubanan, Kecamatan Kembang, hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar.
Keluarga meminta aparat kepolisian melanjutkan penyidikan secara lebih mendalam.
Bahkan dari pihak paman juga menyebut sekaligus mencurigai adanya dugaan praktik perdukunan.
Mereka menilai sejumlah kejanggalan belum terjawab, dan pengusutan yang dilakukan sejauh ini belum maksimal.
Nenek korban, Ngatipah, pun mengaku tidak percaya cucunya mengakhiri hidup sendiri.
Menurutnya, selama ini Rendy menjalani kehidupan seperti biasa. Tidak menunjukkan tanda-tanda depresi maupun tekanan berat.
"Orangnya biasa saja, tidak murung. Kalau ibadah juga rajin,” ucapnya pada Rabu (3/6).
Keluarga menjelaskan, beberapa hari sebelum ditemukan meninggal, aktivitas Rendy berlangsung normal.
Sebelum ditemukan meninggal dunia di kebun rumput gajah pada Minggu (31/11), Rendy bahkan sempat mengikuti proses wawancara kerja yang dilamarnya.
Menurut keluarga, korban memiliki keinginan kuat untuk bekerja dan membantu keluarga.
Karena itu mereka merasa tidak menemukan alasan, yang mengarah pada tindakan bunuh diri.
Sementara itu, paman korban, Hadi Kusno (60), juga menegaskan keponakannya tidak memiliki riwayat depresi.
Ia menyebut keluarga justru menemukan sejumlah hal yang dianggap janggal pascakejadian.
"Kami berharap penyidikannya jelas. Menurut kami masih kurang maksimal," katanya.
Salah satu hal yang dipersoalkan keluarga adalah kondisi pakaian korban.
Menurut keterangan paman korban, pada malam sebelum kejadian, korban mengenakan kaus hitam.
Namun setelah peristiwa terjadi, pakaian yang ditemukan berbeda. Bahkan cenderung bersih dari bercak darah.
Selain itu, pihaknya juga menyoroti adanya perbedaan yang mencolok dari dua lokasi, yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut.
Antara ceceran darah pertama, berjarak sekitar 50 meter.
"Kami ingin semuanya diperjelas. Jangan ada yang terlewat," ujarnya.
Keluarga juga mengungkapkan bahwa pihak kepolisian sempat datang ke rumah dan menanyakan silsilah keluarga korban. Namun menurut Hadi, ada beberapa di antaranya yang justru tidak diperiksa, seperti dirinya.
Di sisi lain, keluarga mengaku memiliki sejumlah kecurigaan, yang berharap dapat ditelusuri lebih lanjut oleh penyidik.
Namun, adik korban turut menceritakan perubahan perilaku yang pernah dialami kakaknya. Menurutnya, Rendy beberapa kali mengaku mendengar bisikan dan terlihat ketakutan. Korban juga disebut pernah berteriak tanpa sebab sebelum kejadian.
Meski demikian, keluarga menegaskan kondisi tersebut, tidak dapat langsung disimpulkan sebagai penyebab kematian korban.
Mereka meminta kepolisian mengusut kasus tersebut secara menyeluruh, agar penyebab kematian Rendy dapat terungkap dengan terang.
"Kami hanya ingin kebenarannya ditemukan dan penyidikannya dilanjutkan sampai jelas," ucapnya.
Di saat yang sama, Hadi juga menyampaikan ada indikasi praktik perdukunan dalam kasus tersebut.
Pasalnya, dari pihak nenek dekat dengan sejumlah orang yang biasa diminta tolong untuk menggarap lahan pertanian. Seperti memupuk tanaman dan sebagainya.
Di satu sisi, tetangga tersebut memiliki praktik pengobatan yang disebut Hadi bagian dari perdukunan.
Sehari-hari, Rendy tinggal bersama dengan nenek dan adiknya.
Ibunya telah bercerai dengan ayah kandung Rendy. Lalu menikah kembali. Ayah tirinya, waktu kejadian berada di Bali, merantau bekerja.
Kesamaan keterangan didapati dari pihak nenek, yang mengatakan Rendy telah menyampaikan mendapatkan bisikan, hingga akan dihajar oleh seseorang. Hal tersebut juga disampaikan oleh sang adik.
Sementara itu, dari pihak paman, Rendy masih memiliki semangat hidup tinggi. Pasalnya masih mau bekerja.
“Senin (1/12/2025) itu orangnya (Rendy, red) berangkat kerja, sudah daftar. Tapi sehari sebelumnya sudah tidak ada. Semoga polisi lebih dalam untuk mengungkap kasus ini,” harapnya.(fik)
Editor : Admin