JEPARA — Warga di perbatasan Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati, berinisiatif membangun jembatan darurat.
Jembatan darurat itu dibuat dari bambu, setelah jembatan penghubung yang melintasi Sungai Pasokan, di perbatasan Jepara-Pati ambruk.
Empat bulan berselang sejak ambruk pada Minggu (18/1), hingga kini belum kunjung diperbaiki.
Jembatan darurat tersebut dibangun secara swadaya oleh warga di sekitar Kali Pasokan yang berada di wilayah Dukuh Nglendoh, Desa Wedusan, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati dan Dukuh Pendem, Desa Sumberrejo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara.
Salah Dukuh Pendem RT 2/RW 2, Desa Sumberrejo, Wanto (39), mengatakan pembangunan jembatan bambu dilakukan, karena akses tersebut sangat penting bagi aktivitas masyarakat.
Menurutnya, jalur tersebut digunakan warga selama 24 jam tanpa henti, untuk berbagai keperluan.
“Jembatan ini sangat penting. Aktivitas warga setiap hari lewat sini, bisa dibilang 24 jam full,” ujarnya, pada Sabtu (30/5).
Ia menuturkan, inisiatif pembangunan jembatan darurat, bermula dari keprihatinan warga terhadap kesulitan yang dialami anak-anak sekolah. Serta masyarakat setelah jembatan utama ambruk diterjang arus sungai yang meluap.
Secara gotong royong, warga kemudian mengumpulkan bambu dan material seadanya. Untuk membuat akses penyeberangan sementara, agar pejalan kaki dan pengendara sepeda motor dapat kembali melintas.
Sebelumnya, jembatan penghubung sepanjang sekitar 35 meter ini hanyut karena banjir, pada awal tahun lalu.
Semula, putusnya jembatan tersebut, akses warga sempat lumpuh total.
Sedikitnya 30 siswa dari jenjang RA, MI hingga MTs yang setiap hari bersekolah di Desa Sumberrejo, terpaksa mengikuti pembelajaran secara daring dari rumah.
Kepala RA Al Hikmah Sumberrejo sekaligus Pengurus YPI Miftahul Huda Sumberrejo, Rohmat, sebelumnya menyampaikan bahwa jembatan tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan masyarakat Jepara dan Pati.
Menurutnya, apabila tidak melalui jalur tersebut, warga harus memutar melewati desa lain.
Sementara itu, warga lain, Tessy, berharap pemerintah segera melakukan penanganan permanen terhadap jembatan yang ambruk tersebut.
Sebab, meski jembatan bambu sudah dapat digunakan sementara, konstruksinya dinilai belum cukup aman, terutama saat debit sungai meningkat.
Ia menilai, keberadaan jembatan tersebut sangat vital karena menjadi jalur utama aktivitas pendidikan, pertanian, perdagangan, serta mobilitas warga di perbatasan Jepara dan Pati.
"Ini (jembatan bambu, red) juga sudah hampir lapuk, kalau tidak segera diperbaiki bisa roboh juga. Warga kesulitan akses lagi," pungkasnya.(fik)
Editor : Admin