JEPARA — Takbir keliling dalam Festival Oncor Kalinyamatan di Desa Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan, Selasa (26/5) malam, berubah menjadi keresahan bagi sebagian warga.
Dentuman sound horeg yang dibawa sejumlah peserta kirab, menyebabkan kaca jendela dan plafon salah satu rumah warga gogrok hingga berserakan.
Festival budaya tahunan yang telah berjalan puluhan tahun itu semula berlangsung meriah.
Ratusan peserta, dari 15 kelompok, melakukan kirab membawa oncor bambu dan obor tradisional. Menyusuri jalan desa sekitar empat kilometer.
Warga memadati sisi jalan untuk menyaksikan arak-arakan, yang dihiasi berbagai kreativitas bernuansa Islami.
Perwakilan dari 13 dukuh tampak tetap mempertahankan konsep tradisional, dengan membawa oncor dari bambu serta botol berisi minyak tanah.
Beberapa kelompok juga menampilkan miniatur musala, masjid, bedug, hingga berbagai ornamen Islami yang memperkuat nuansa malam takbiran Iduladha.
Kirab dimulai sekitar pukul 19.15 WIB dan awalnya berlangsung tertib. Namun memasuki pertengahan acara, suasana mulai memanas.
Ketika sejumlah kelompok peserta membawa sound horeg berukuran besar dengan volume sangat keras.
Dentuman bass terdengar hingga jarak cukup jauh, dan memicu ketidaknyamanan warga sekitar. Suara dan getarannya melebihi 100 desibel.
Di tengah kirab itulah, salah satu rumah warga dilaporkan terdampak getaran suara.
Kaca jendela pecah dan sebagian plafon rumah runtuh.
Pemilik rumah bersama warga sekitar langsung berupaya membersihkan pecahan kaca, serta material plafon yang berjatuhan.
“Ada satu rumah yang terdampak,” ungkap Naufal, salah satu warga Bandungrejo, pada Rabu (27/5).
Akibat kejadian itu, pemilik rumah bahkan sempat mencopot kusen jendela, untuk mengantisipasi kerusakan lebih parah.
Sejumlah warga lainnya tampak membantu membersihkan puing-puing hingga sekitar pukul 23.00.
"Kerugiannya sudah ditanggung panitia, karena sebelumnya sudah ada kesepakatan bersama antara panitia dan warga," jelasnya.
Tak sedikit masyarakat menyayangkan penggunaan sound horeg, dalam kegiatan takbir keliling tersebut.
Warga menilai tradisi malam Iduladha seharusnya lebih mengedepankan kekhidmatan takbir, dibanding dentuman suara berlebihan yang mengganggu lingkungan sekitar.
Meski lantunan takbir tetap terdengar sepanjang kirab, suara sound system horeg tersebut, disebut jauh lebih mendominasi.
Bahkan beberapa penonton dan peserta tampak menutup telinga menggunakan tangan, kapas, maupun tisu untuk meredam kerasnya suara.
Sejumlah anak kecil yang ikut menyaksikan kirab juga terlihat menutup telinga, sambil didampingi orang tua mereka.
Beberapa warga mengaku merasa tidak nyaman, karena suara sound terlalu keras ketika rombongan melintas di depan permukiman.
Sebelumnya, Festival Oncor Kalinyamatan di Bandungrejo dikenal sebagai tradisi budaya tahunan, yang memadukan semangat takbir keliling dengan arak-arakan obor tradisional. Penyelenggaraannya tercatat lebih dari empat dekade.
Dari tahun ke tahun, festival ini terus berkembang dengan berbagai kreasi modern tanpa meninggalkan unsur budaya lokal.
Namun munculnya penggunaan sound horeg pada Selasa (26/5) malam, mulai menuai pro dan kontra di tengah masyarakat.
Hingga sekitar pukul 23.00 WIB, warga yang rumahnya terdampak masih membersihkan sisa pecahan kaca dan material plafon. Sementara kirab takbiran berangsur selesai. Dibantu oleh aparat kepolisian dari Polsek Kalinyamatan.(fik)
Editor : Admin