Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Hidupkan Malam Iduladha, Kirab Ratusan Oncor Keliling Desa Sepanjang 4 Kilometer di Kalinyamatan

Fikri Thoharudin • Rabu, 27 Mei 2026 | 00:27 WIB
TRADISIONAL: Para peserta kirab obor tengah menyisiri jalanan Desa Bandungrejo Kecamatan Kalinyamatan, pada Selasa (26/5) malam. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
TRADISIONAL: Para peserta kirab obor tengah menyisiri jalanan Desa Bandungrejo Kecamatan Kalinyamatan, pada Selasa (26/5) malam. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Malam Iduladha di Desa Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan, tak hanya dipenuhi gema takbir dari pengeras suara masjid. 

Cahaya ratusan oncor atau obor tradisional berbahan bambu dan kain, menyala beriringan. Menyusuri jalan desa sepanjang empat kilometer.

Suasana ini menghadirkan pemandangan hangat, yang seolah menghidupkan kembali jejak-jejak tradisi lama masyarakat Jepara. 

MERIAH: Para peserta kirab didominasi anak-anak dan generasi muda. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
MERIAH: Para peserta kirab didominasi anak-anak dan generasi muda. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Api kecil yang menari di ujung oncor itu bergerak perlahan. Anak-anak berjalan di samping orang tua mereka. Sebagian peserta lainnya, membawa miniatur masjid, gapura, hingga maskot hewan kurban. 

Sementara suara takbir menggema bersahut-sahutan, dari setiap speaker masing-masing kelompok. Ribuan masyarakat juga membuat tepi-tepi jalan, menjadi lautan manusia.

Pelaksana Harian (Plh) Petinggi Desa Bandungrejo, Suryanto menyampaikan, Festival Oncor Kalinyamatan telah berlangsung hampir setengah abad yang lalu. Sekitar 40 tahun dan terus berkembang dari masa ke masa.

“Dulu itu mula-mula membawa oncor secara tradisional. Sekarang ada perkembangan mengikuti zaman, seperti muncul miniatur masjid, musala, gapura, maupun maskot hewan kurban dan sejenisnya,” ungkapnya.

KREATIF: Setiap kelompok peserta menampilkan berbagai kreasinya, seperti musala, surau, ataupun miniatur masjid. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
KREATIF: Setiap kelompok peserta menampilkan berbagai kreasinya, seperti musala, surau, ataupun miniatur masjid. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Tahun ini sedikitnya terdapat 15 kelompok peserta yang berasal dari 13 dukuh. 

Seluruh peserta berjalan mengelilingi desa dalam prosesi takbir keliling, yang menempuh jarak sekitar empat kilometer. 

Bagi masyarakat setempat, kirab itu telah menjadi adat turun-temurun yang selalu hadir pada malam Iduladha.

Oncor menjadi simbol cahaya keimanan, penerang perjalanan manusia menuju ketundukan kepada Allah. 

Api dijaga. Agar tidak padam sepanjang perjalanan, dimaknai sebagai ujian sekaligus harapan. Atas semangat pengorbanan dan keikhlasan. Sebagaimana ujian Nabi Ibrahim untuk menyembelih Ismail.

Di tengah arus modernisasi, masyarakat Bandungrejo memilih tidak meninggalkan tradisi itu. 

Mereka justru merawatnya dengan cara baru. Miniatur dan ornamen modern bukan dimaksudkan menghilangkan nilai lama.

Namun, menjadi cara generasi muda untuk tetap merasa dekat dengan tradisi desanya sendiri.

“Ini sebagai sarana syiar, mengumandangkan kebesaran dan keesaan Allah. Sekaligus menghidupkan malam Iduladha,” imbuhnya.

Menurutnya, setiap dukuh wajib membawa oncor. Tidak ada kirab tanpa gotong royong. Mulai dari menyiapkan bambu, merakit miniatur, hingga menjaga barisan sepanjang perjalanan, semuanya dilakukan secara saksama.

Yang membuat menarik ialah, di antara kelompok peserta ada yang membuat penataan oncor menyerupai kubah. Termasuk lafaz Allah. "Semakin tahun semakin berkembang. Partisipasi juga meningkat," pungkasnya.(fik)

Editor : Admin
#Kirab oncor #Bandungrejo Kalinyamatan #Oncoran malam Iduladha #Festival oncor #takbir keliling