JEPARA — Atraksi budaya Perang Obor di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, didorong untuk masuk dalam program nasional Kharisma Event Nusantara (KEN). Program KEN sendiri digagas oleh Kementerian Pariwisata RI.
Upaya tersebut dinilai penting, untuk memperkuat branding budaya, sekaligus mendongkrak sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata pada Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Linda Widiastuti Ariningrum mengatakan, Perang Obor merupakan aset budaya besar yang dimiliki Jawa Tengah.
Tradisi ini dinilai memiliki kekuatan sebagai destinasi wisata budaya unggulan, yang layak dikembangkan lebih luas.
“Perang Obor ini menjadi salah satu aset budaya yang dimiliki Jawa Tengah. Branding-nya perlu terus diperkuat melalui berbagai kegiatan dan sektor kebudayaan,” ungkapnya pada Senin (25/5) malam, usai penyelenggaraan Perang Obor.
Menurut Linda, tradisi Perang Obor sebenarnya telah ada sejak masa Kesultanan Demak.
Namun, atraksi budaya tersebut mulai dioptimalkan sebagai daya tarik wisata, sejak Tegalsambi ditetapkan sebagai desa wisata pada 2020.
Selain itu, Perang Obor juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada 2020.
Status tersebut, lanjutnya, menjadi modal awal. Untuk mendorong Perang Obor berkembang, menjadi event budaya berskala nasional.
“Harapannya tentu bisa masuk menjadi event unggulan nasional, melalui Kharisma Event Nusantara,” jelasnya.
KEN sendiri, merupakan program strategis nasional dari Kementerian Pariwisata. Bertujuan mempromosikan festival budaya, seni, musik, hingga karnaval unggulan dari seluruh Indonesia. Guna meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan ekonomi daerah.
Pada 2025 lalu, di Indonesia terdapat 10 KEN unggulan yang menjadi ikon nasional.
Meliputi Cap Go Meh Kota Singkawang (Kalimantan Barat), Pesta Kesenian Bali, Semasa Piknik (DKI Jakarta), Makassar International Eight Festival & Forum atau F8 Makassar (Sulawesi Selatan).
Lalu Jember Fashion Carnaval (Jawa Timur), Festival Golo Koe Labuan Bajo Maria, Assumpta Nusantara (NTT), Festival Payung Indonesia (Jawa Tengah), Wayang Jogja Night Carnival (DI Yogyakarta), Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) (DKI Jakarta) serta Ngayogjazz (DI Yogyakarta).
Linda menilai, agar dapat bersaing di tingkat nasional, penyelenggaraan Perang Obor harus terus menghadirkan inovasi dan kreativitas baru setiap tahunnya.
Menurutnya, sebuah event budaya perlu memiliki pembeda agar tetap menarik perhatian wisatawan.
“Harus ada sesuatu yang berbeda setiap tahun. Jangan hanya begitu-begitu saja. Bisa dicari nilai jual baru yang bisa diorbitkan,” imbuhnya.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan kolaborasi dan keterlibatan masyarakat, dalam seluruh rangkaian penyelenggaraan acara.
Warga, menurutnya, tidak cukup hanya menjadi penonton, tetapi juga perlu dilibatkan secara aktif sebelum, saat, hingga setelah kegiatan berlangsung.
Linda mencontohkan, masyarakat dapat menghadirkan berbagai potensi lokal seperti makanan tradisional khas Tegalsambi, hasil bumi, hingga produk olahan turunannya. Untuk dapat dipamerkan kepada pengunjung.
“Potensi perputaran ekonomi sirkularnya sangat kuat. Ketika semua pihak menunjukkan potensi masing-masing dan saling terlibat, maka pengunjung dari luar daerah juga akan merasa puas dengan penyambutan dan suasana acara,” jelasnya.
Selain penguatan sektor ekonomi kreatif, digitalisasi promosi juga dinilai menjadi kebutuhan penting agar Perang Obor semakin dikenal luas. Karena itu, ia menilai kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk media, harus terus diperkuat.
“Budaya punya peran besar di era modern. Tradisi seperti ini penting untuk terus diuri-uri agar tetap lestari, sekaligus menjadi sarana branding wisata Jepara dan Jawa Tengah,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, tujuan akhir dari pengembangan atraksi budaya tersebut, ialah mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal melalui sektor pariwisata.
Di sisi lain, Linda menyebut Jawa Tengah memiliki kekayaan atraksi budaya yang sangat besar. Pada tahun ini, tercatat ada 265 event budaya dan wisata yang telah terdata, dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah.
“Namun saya yakin yang belum terdata dan terinventarisasi masih jauh lebih banyak. Artinya setiap daerah di Jawa Tengah punya potensi budaya yang luar biasa,” tandasnya.(fik)
Editor : Admin