JEPARA — Bukan waktu yang ringkas, melainkan perjuangan yang berdarah-darah, melawan cuaca dan alam pegunungan Muria.
Selama 106 hari, proses pembukaan jalur Sumanding–Duplak bukan hanya soal menembus bukit. Tetapi juga bertarung dengan longsor, hujan, tanah merah, hingga tebing curam, yang setiap saat dapat membahayakan alat berat dan pekerja di lapangan.
Pekerjaan yang dilakukan BPBD Kabupaten Jepara akhirnya tuntas satu persatu.
Pembukaan jalur sepanjang 6,5 kilometer tersebut rampung. Tinggal melakukan finishing, sebelum pekerjaan dilanjutkan oleh Dinas PUPR Kabupaten Jepara.
Mak plong. 106 hari dilalui, sejak 7 Februari 2026. Hingga jalur Sumanding-Duplak tersebut diresmikan oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo pada Sabtu (23/5).
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Jepara Arwin Noor Isdiyanto mengungkapkan, proses pembukaan jalur tersebut bukan pekerjaan mudah.
Lebar jalan yang terbuka berkisar antara 6 hingga 9 meter, dengan karakter medan yang sangat ekstrem.
“Jarak antara permukiman di Desa Sumanding dan Dukuh Duplak Desa Tempur ini ada 6,5 kilometer. Sedangkan jalan yang dibuka itu ada 4 kilometer,” jelas Arwin usai peresmian, pada Sabtu (23/5).
Ia mengatakan tantangan terberat berada di kawasan Bukit Ngangook. Di titik itu, alat berat harus bekerja ekstra hati-hati, karena kondisi puncak bukit menyerupai punggung sapi.
“Kendala-kendala dalam pembukaan jalan ini seperti medannya yang begitu ekstrem. Seperti di kawasan Bukit Ngangook ini, penanganannya hingga mencapai sebulan. Dulu ini puncak gunung seperti menyerupai geger sapi. Sehingga untuk sampai sini kami perlu merambat pelan-pelan,” terangnya.
Tak hanya kontur tajam, cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Hujan yang hampir setiap hari turun, membuat longsor kerap kembali menutup jalur yang sudah dibuka.
Jalur yang siang hari berhasil dibuka, keesokan paginya bisa kembali tertimbun material longsoran.
“Sangat susah dan memang medannya sangat ekstrem. Itu yang menjadi hambatan utama. Di samping itu juga kendala cuaca sering hujan. Misalnya sudah kami buka, tapi pagi-pagi di hari berikutnya ketutupan longsor,” ujarnya.
Tiga ekskavator diterjunkan untuk membuka jalur tersebut. Alat berat masuk perlahan dari Desa Tempur, menyusuri bukit demi bukit dengan kehati-hatian tinggi.
Dalam beberapa titik, operator bahkan harus merayap pelan di bibir tebing. Demi memastikan alat berat tetap aman.
“Ada tiga ekskavator yang andil dalam pembukaan jalur ini. Alat berat kami masuk dari Tempur pelan-pelan merayap menyusuri bukit,” ucapnya.
Kini jalur tersebut sudah dapat dilalui kendaraan roda dua dan jeep warga, terutama ketika cuaca panas dan kondisi jalan kering.
Namun akses itu, disebut masih terbatas. Karena sebagian besar badan jalan masih berupa tanah merah dan batuan tebing tanpa pengerasan permanen.
Tak hanya untuk akses sepeda motor, ini juga dapat dilalui warga menggunakan jeep.
Arwin menyebut, karakter tanah di sepanjang jalur pun berbeda-beda. Dari Duplak menuju Bukit Ngangook didominasi batu padas berpasir.
Sedangkan Bukit Nganggok hingga Pinusan Sumanding, cenderung tanah merah.
“Dalam artian ini juga masih terbatas dalam pembukaannya, untuk (warga, red) yang biasa lewat jalan ekstrem seperti ini. Sebetulnya kalau cuaca panas dan jalanan kering, ini juga memungkinkan untuk dilalui secara aman,” jelas Arwin.
Pihaknya menyebut, usai peresmian pada Sabtu (23/5), akan melakukan finishing terlebih dahulu. Sebelum akhirnya pekerjaan penanganan lanjutan, diestafetkan kepada Dinas PUPR.(fik)
Editor : Admin