JEPARA – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong pegiat media sosial (influencer) di Jepara untuk bijak dalam berkarya serta cerdas membangun jejaring di era digital.
Hal tersebut disampaikan dalam workshop dan pelatihan bertema Bijak Berkarya, Cerdas Berjejaring yang digelar di Michelle Resto, Minggu (3/5/2026).
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari diskusi santai bersama pegiat media sosial Jepara. Dalam pertemuan sebelumnya, terungkap bahwa perkembangan media sosial di daerah ini tumbuh pesat mengikuti tren digital. Influencer hadir dari berbagai bidang dan menjadi salah satu sarana penyampaian informasi yang memiliki dampak luas layaknya produk berita.
Namun, sebagian pegiat media sosial dinilai belum memahami batasan terkait informasi publik. Kondisi ini berpotensi menimbulkan persoalan, baik dari sisi etika maupun hukum. Karena itu, workshop ini dihadirkan sebagai upaya meningkatkan literasi digital dan tanggung jawab dalam bermedia.
Dalam sambutannya, Lestari Moerdijat—yang akrab disapa Mbak Rerie—menegaskan bahwa pengelolaan media sosial harus diarahkan tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memberi manfaat, termasuk peluang ekonomi.
“Ketika mengikuti selera pasar, karya yang dihasilkan harus tetap bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memahami regulasi, termasuk Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), agar ke depan tidak ada lagi konten yang harus diturunkan (take down) karena menimbulkan keberatan pihak tertentu.
Workshop ini menghadirkan sejumlah narasumber nasional, di antaranya presenter Valentinus Resa, wartawan senior Saur Hutabarat, Founder Kumparan Arifin Asydhad, Usman Kansong, serta Dina Farah. Juga dihadiri Wakil Ketua DPRD Jepara Pratikno dan Ketua Komisi C DPRD Jepara Nur Hidayat.
Arifin Asydhad merupakan putra Jepara yang dikenal sebagai pendiri platform media digital Kumparan. Ia pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Kumparan serta Ketua Forum Pemimpin Redaksi periode 2021–2024. Sementara itu, Usman Kansong adalah wartawan senior yang pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik di Kementerian Komunikasi dan Informatika pada periode yang sama.
Dalam pemaparannya, Usman Kansong menekankan pentingnya empat pilar literasi digital, yakni digital skill, digital ethics, digital culture, dan digital safety. Ia juga menjelaskan bahwa media sosial berada dalam ranah komunikasi digital pemerintah, sementara media arus utama berada di bawah Dewan Pers.
Sementara itu, Arifin Asydhad menyoroti perbedaan mendasar antara produk jurnalistik dan konten media sosial. Menurutnya, dalam karya jurnalistik, opini pribadi tidak boleh mendominasi dan harus berbasis fakta.
“Konten kreator lebih leluasa menuangkan persepsi, tetapi risikonya lebih besar terhadap UU ITE. Karena itu, koridornya tetap pada karya yang bisa dipertanggungjawabkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kepercayaan publik (trust) menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem digital yang sehat.
Senada, Saur Hutabarat mengingatkan bahwa apa yang ditangkap oleh pancaindra belum tentu merupakan fakta. Ia mengajak para pegiat media sosial untuk melakukan verifikasi sebelum menyebarkan informasi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan pegiat media sosial di Jepara semakin profesional, beretika, serta mampu menghasilkan konten yang informatif, bertanggung jawab, dan bernilai ekonomi.
Editor : Admin