Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Panen Perdana Padi Biosalin Inovasi BRIN dan Kementan, Varietas Unggul Tahan di Lahan Marginal di Bandungharjo Jepara 

Fikri Thoharudin • Jumat, 24 April 2026 | 16:50 WIB
BERHASIL: Prosesi panen perdana inovasi padi biosalin di area persawahan Desa Bandungharjo yang berdekatan dengan area pantai pesisir utara Jawa, pada Jumat (24/4). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
BERHASIL: Prosesi panen perdana inovasi padi biosalin di area persawahan Desa Bandungharjo yang berdekatan dengan area pantai pesisir utara Jawa, pada Jumat (24/4). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Angin laut yang biasa membawa rasa asin dan kekhawatiran, pada Jumat (24/4) siang, justru terasa berbeda, di hamparan sawah Desa Bandungharjo. 

Di lahan yang selama ini terbayangi oleh rob dan salinitas tinggi, bulir-bulir padi menguning serempak. 

Para petani kini akhirnya bisa memanen dengan senyum lega. Pada saat yang sama Kepala BRIN Arif Satria, Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian di Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) RI Widiastuti, beserta jajaran termasuk pihak PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) turut sumringah.

Combine harvester menggilas tanah dengan padi yang telah menguning tersebut.

Panen perdana varietas biosalin 1 dan biosalin 2 ini menjadi hasil kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Kementerian Pertanian RI, yang diseminasi di Jepara sebagai daerah mitra pengembangan. 

UNGGUL: Kepala BRIN Arif Satria didampingi Bupati Jepara Witiarso Utomo dan jajaran memanen padi biosalin di Desa Bandungharjo pada Jumat (24/4).
UNGGUL: Kepala BRIN Arif Satria didampingi Bupati Jepara Witiarso Utomo dan jajaran memanen padi biosalin di Desa Bandungharjo pada Jumat (24/4).

Varietas ini dirancang khusus untuk menjawab persoalan klasik wilayah pesisir, tanah marginal dengan kadar garam tinggi. 

Kepala BRIN, Arif Satria, menyebut panen ini sebagai langkah nyata menghadirkan inovasi langsung ke masyarakat. 

“Hari ini kita panen biosalin 1 dan biosalin 2 bersama pemerintah daerah. Ini varietas unggul yang memang disiapkan untuk lahan dengan salinitas tinggi,” ungkapnya. 

Ia menjelaskan, produktivitas padi biosalin mampu mencapai rata-rata 9 ton per hektare dengan masa tanam relatif singkat. Sekitar 84 hingga 107 hari. 

Bahkan dalam pengembangan ke depan, produktivitas tersebut masih berpotensi ditingkatkan.

“Ini penting untuk mendongkrak produksi pangan kita. Meski saat ini surplus, ketahanan pangan tetap harus dijaga. Pangan dan energi adalah dua hal yang sangat menentukan,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa wilayah pesisir Pantura memiliki potensi besar. BRIN juga akan mengidentifikasi kawasan rawan rob dan salinitas, sebagai bagian dari strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. 

Selain Jepara, wilayah seperti Madura juga diproyeksikan menjadi lokasi pengembangan.

Dalam kesempatan itu, BRIN juga membawa pendekatan terintegrasi melalui program “BRIN Goes to Community”, yang tidak hanya fokus pada pangan, tetapi juga energi dan lingkungan. 

Salah satu inovasi yang dikenalkan adalah pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar melalui teknologi pirolisis.

Melalui teknologi ini, limbah plastik bernilai rendah dapat diubah menjadi bahan bakar alternatif (petasol), bahkan telah diuji untuk menggerakkan kapal nelayan dan mesin pertanian. 

“Konsepnya adalah pangan, air, dan energi. Semua harus kita jawab secara bersamaan di level komunitas, dari desa hingga kabupaten,” imbuhnya.

Selain itu, inovasi lain seperti bio-komposter dan sistem waste to energy skala 50–100 ton per hari, juga terus dikembangkan dan telah disebarluaskan di puluhan daerah di Indonesia.

Panen perdana ini juga diikuti dengan penyaluran bantuan kepada petani terdampak banjir.

Sebanyak 1.000 kilogram benih padi juga diserahkan, disertai bantuan sarana produksi berupa pupuk hayati cair 176 liter dan pembenah tanah 220 kilogram. Bantuan diserahkan kepada perwakilan Kelompok Tani Jaya di Desa Bandungharjo yang menggarap lahan seluas 22 hektare.

Di sisi lain, BRIN juga tengah mengembangkan inovasi lanjutan seperti nila salin untuk sektor perikanan, serta pengembangan tanaman hortikultura dan perkebunan di lahan marginal. 

Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pangan, yang tangguh menghadapi perubahan iklim dan dinamika global.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan RI, Widiastuti, menegaskan bahwa padi biosalin merupakan solusi konkret bagi lahan pesisir yang selama ini sulit dimanfaatkan.

“Tidak semua lahan marginal bisa ditanami. Tapi dengan inovasi biosalin ini, lahan dengan kadar garam tinggi bisa beradaptasi dan tetap menghasilkan hingga panen. Ini menjawab persoalan di tingkat akar rumput,” jelasnya.

Ia menambahkan, program ini berpotensi menjadi bagian dari strategi nasional, terutama untuk wilayah pesisir.

Targetnya, hingga 50 persen lahan pesisir bisa dioptimalkan melalui varietas ini. 

Ketersediaan benih akan terus ditingkatkan melalui koordinasi dengan Kementerian Pertanian, dengan sistem produksi berkelanjutan. Sebagian hasil panen dapat digunakan kembali sebagai benih.

“Ini bukan sekadar panen seremonial. Kami ingin lahan marginal yang selama ini terbatas bisa dimaksimalkan. Ini menjadi booster untuk swasembada pangan,” tegasnya.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, melihat inovasi ini sebagai peluang besar bagi daerahnya. 

Dengan garis pantai sekitar 80 kilometer, Jepara memiliki tantangan sekaligus potensi besar dalam pengembangan pertanian pesisir.

“Sekitar 40 kilometer wilayah pesisir kita punya potensi untuk pengembangan padi ini. Dengan biosalin yang sekarang sudah 9 ton per hektare, ke depan kami dorong bisa lebih,” ujarnya.

Pihaknya optimistis, inovasi ini dapat menjadi jalan menuju swasembada pangan di Jepara, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. 

Bahkan, dalam hitungan kasar, pengembangan puluhan hektare lahan dapat menghasilkan ratusan ribu ton padi per tahun jika dioptimalkan.

Bagi petani Bandungharjo, panen ini bukan hanya soal hasil, tetapi juga perubahan cara pandang. 

Dari pesisir yang asin, tumbuh optimisme bahwa inovasi bisa mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.

Panen biosalin ini menjadi penanda, masa depan pangan tidak hanya bergantung pada lahan subur. Tetapi juga pada kemampuan beradaptasi, berinovasi, dan berkolaborasi. Jepara kini mengambil langkah awal menuju arah itu.

“Inovasi ini dapat diteruskan. Agar bisa membawa Jepara untuk swasembada pangan di Desa Bandungharjo sini dan desa-desa lainnya, membawa berkah,” pungkasnya.(fik)

Editor : Admin
#Padi Biosalin #inovasi BRIN #Pemkab Jepara dukung swasembada pangan #padi tahan salinitas #kementan