Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sendratari Kolosal Pukau Ribuan Warga, Kirab Luwur dari Pendopo hingga Makam Ratu Kalinyamat

Fikri Thoharudin • Kamis, 9 April 2026 | 19:50 WIB
MEMUKAU: Pemeran Ratu Kalinyamat turut melakukan kirab luwur dari Pendopo Kabupaten hingga Makam Mantingan, di momen Hari Jadi ke-477 Kabupaten Jepara pada Kamis (9/4). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS) 
MEMUKAU: Pemeran Ratu Kalinyamat turut melakukan kirab luwur dari Pendopo Kabupaten hingga Makam Mantingan, di momen Hari Jadi ke-477 Kabupaten Jepara pada Kamis (9/4). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS) 

JEPARA — Gending-gending Jawa ditabuh oleh para pengrawit dari Sanggar Putu Langgar, Desa Langon.

Irama gamelan mengalun, di kompleks Pendapa RA Kartini pada Kamis (9/4) siang. Mengiringi dimulainya rangkaian kirab budaya dalam perayaan Hari Jadi ke-477 Jepara.

Panas matahari pukul 13.30 tak menghalangi warga berdatangan. Ribuan masyarakat tumpah ruah.

Baik di area pendapa hingga sepanjang rute kirab. Antusiasme terlihat dari warga yang rela berdesakan, demi menyaksikan pertunjukan budaya yang jarang digelar dalam skala besar tersebut.

Tiba-tiba, penari kolosal muncul dari balik kerumunan. Beberapa memegang pedang di tangan kanan, sebagian lainnya membawa busur panah. Kemunculan mereka sontak menarik perhatian. Membuka pertunjukan yang sarat keteladanan.

KIRAB LUWUR: Para prajurit tengah melakukan kirab sejauh 4 kilometer dari Pendopo Kabupaten hingga Makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin di Desa Mantingan, Tahunan, Jepara.
KIRAB LUWUR: Para prajurit tengah melakukan kirab sejauh 4 kilometer dari Pendopo Kabupaten hingga Makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin di Desa Mantingan, Tahunan, Jepara.

Tubuh para penari meliuk-liuk mengikuti irama gamelan. Gerakan tangan, kaki, hingga ekspresi wajah memeragakan semangat perlawanan. 

Dengan tatapan tegas, mereka membawakan sendratari, yang mengisahkan kiprah kepahlawanan Ratu Kalinyamat di masa lampau.

Warga yang menyaksikan seakan tak berkedip. Mereka larut dalam alur cerita yang disajikan, terpukau oleh perpaduan musik tradisional, koreografi kolosal, serta kostum prajurit sederhana namun berkesan. 

Selama kurang lebih setengah jam, panggung terbuka itu menjadi pusat perhatian.

Memasuki pukul 14.00, prosesi dilanjutkan dengan keberangkatan rombongan Bupati dan Wakil Bupati Jepara bersama Forkopimda. 

Arak-arakan bergerak dari pendapa menuju Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan. Sejauh 4 kilometer. Ini menjadi bagian dari prosesi sakral penggantian luwur.

Rombongan kemudian tiba di Bali Desa Mantingan pukul 15.15. Disambut oleh iringan terbang telon.

Lalu, setelah itu, rombongan menuju kompleks Makam Ratu Kalinyamat dan Masjid Astana Sultan Hadlirin, yang berada tak jauh dari Balai Desa. 

Di lokasi tersebut, prosesi dilanjutkan dengan doa dan tahlil serta penggantian luwur.

Setelah itu, dilanjutkan dengan santuan kepada anak-anak yatim maupun piatu, serta makan tumpeng di depan pelataran Masjid Astana 

Ini menjadi pesta rakyat, di mana juga diiikuti masyarakat dan tamu undangan.

Tak hanya warga lokal, perayaan ini juga menarik perhatian mahasiswa internasional. 

Hussain (22), mahasiswa Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang asal Pakistan, mengaku terkesan dengan suasana kebersamaan yang ia rasakan.

Ia amat senang bisa turut menyaksikan perayaan Hari Jadi ke-477 Kabupaten Jepara.

Menurutnya ini adalah momen yang tepat untuk terus bertumbuh dan maju. "Terus tumbuh dan maju. Selamat hari jadi ke-477 Jepara!" ucapnya sumringah.

Tak hanya itu, ia juga baru mengetahui jika sosok pahlawan emansipasi perempuan, RA Kartini juga berasal dari Jepara.

"Semoga semangat beliau (Kartini, red) dapat terus hidup, untuk memperjuangkan keadilan," tuturnya.

Mahasiswa asing lain dari berbagai negara seperti Mesir, Nigeria, Kepulauan Solomon, Kenya, Vanuatu, Zimbabwe, Tanzania, Prancis, Timor Leste, hingga Papua Nugini juga turut hadir meramaikan perayaan tersebut.

Sementara itu, Ernest Baiden (20), mahasiswa asal Ghana, mengaku terpukau dengan gelaran budaya yang disuguhkan. 

Menurutnya, pertunjukan tari kolosal dan sendratari penuh dengan ekspresi serta memberikan pengalaman yang berkesan.

“Saya sangat suka budaya ini, tahun depan saya akan kembali lagi,” ungkapnya. 

Tak hanya itu, ia turut makan tumpeng bersama dengan warga Jepara, di depan Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan, usai prosesi penggantian luwur.

"I love this cultures (saya mencintai budaya-budaya ini, red)," ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, Ratu Kalinyamat, ialah sosok yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 20 November 2023. Teramat patut untuk diteladani.

Sejarawan HJ. De Graaf dalam buku Awal kebangkitan Mataram, menuliskan bahwa Ratu Jepara sesungguhnya merupakan satu-satunya tokoh Jawa dari abad ke-16, yang melalui berita-berita Portugis, memiliki pelabuhan besar kerajaan.

Dinukil bahwa Jepara, orang Jawa menamakannya menurut istananya, Kalinyamat. Terletak di sebelah utara Sungai Jepara, kotanya terletak di sebelah selatan.

Sebagaimana keterangan orang Portugis, Diego de Couto, disebutkan "Cuja cidade principal se chama Gerinhama" yang berarti "Ibukotanya bernama Kalinyamat".

Di samping itu, De Couto menyebut, "Rainha de Japara, senhora poderosa e rica" yang artinya "Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa."

Tindakan Sang Ratu yang jamak diketahui ialah upaya penyerangan terhadap Malaka pada 1550 dan 1574.

Dalam serangan pertamanya, bersamaan dengan Raja Johor, Ratu mengirim armada yang kuat. Meliputi 200 kapal persekutuan Muslim, 40 buah datang dari Jepara membawa 4000-5000 prajurit bersenjata.

Ekspedisi kedua, diajak oleh pembesar Aceh, tepatnya Oktober 1574, 300 kapal layar, 80 di antaranya berukuran besar, masing-masing berbobot 400 ton. Awak kapal terdiri dari 15.000 orang Jawa pilihan. Lengkap dengan perbekalan, logistik, meriam hingga mesiu.(fik)

Editor : Admin
#Hari Jadi ke-477 Jepara #mahasiswa internasional #Ratu Kalinyamat #Budaya #sultan hadlirin