JEPARA — Ratusan umat Kristiani memenuhi Gereja Katolik Paroki Stella Maris Jepara, pada Sabtu (4/4) malam.
Para umat yang terdiri dari orang tua, kalangan muda hingga anak-anak berbondong-bondong, mendatangi gereja sejak pukul 16.00.
Mereka hendak beribadah dan melakukan perayaan Misa Vigili Paskah.
Sejak sebelum ibadah dimulai, jemaah terus berdatangan. Memenuhi seluruh bagian gereja, baik di lantai utama maupun lantai dua dan sebagian aula.
Lebih dari 500 umat mengikuti ibadah yang berlangsung khidmat tersebut. Selain di Stella Maris Jepara, juga dilakukan sembahyang di Kapel Pecangaan dan Kapel Mayong.
Misa dimulai secara saksama, pada pukul 18.00 WIB. Ini menjadi salah satu momen terpenting dalam kalender liturgi Gereja Katolik.
Vigili Paskah juga kerap dikenal sebagai malam tirakatan. Di mana umat berjaga dan merenungkan kebangkitan Yesus Kristus. Sekaligus menandai berakhirnya masa Prapaskah, serta dimulainya masa Paskah yang penuh sukacita.
Rangkaian ibadah berlangsung cukup khidmat, hingga sekitar pukul 20.30 WIB.
Perayaan diawali dengan Liturgi Cahaya. Dalam suasana gereja yang gelap, umat diajak meresapi makna simbolis dari terang yang mengalahkan kegelapan.
Api dinyalakan. Diarak oleh petugas liturgi dari luar gereja, kemudian digunakan untuk menyalakan Lilin Paskah.
Lilin tersebut diarak masuk ke dalam gereja. Bagi umat Kristiani sebagai simbol Kristus yang bangkit sebagai terang dunia.
Dari nyala Lilin Paskah dalam upacara cahaya tersebut, umat kemudian menyalakan lilin masing-masing. Menciptakan pemandangan cahaya yang menyebar perlahan di tengah kegelapan gereja, saat lampu-lampu dimatikan.
Suasana hening berpadu dengan lantunan liturgi, menghadirkan pengalaman spiritual yang mendalam bagi umat yang hadir.
Rangkaian dilanjutkan dengan Liturgi Sabda. Dalam bagian ini, umat mendengarkan sejumlah bacaan kitab suci. Khususnya yang mengisahkan keselamatan Tuhan sepanjang sejarah manusia.
Bacaan-bacaan tersebut mengajak umat untuk merefleksikan perjalanan iman, serta penyertaan Tuhan dalam kehidupan.
Momentum sukacita semakin terasa saat lagu kemuliaan dinyanyikan. Dentang lonceng dan alunan musik mengiringi pujian tersebut, menjadi penanda kebangkitan Kristus.
Ibadah kemudian dilanjutkan dengan kisah kebangkitan, seiring dengan homili yang memberikan peneguhan iman bagi umat.
Dalam homilinya, Rm. Antonius Gunardi Prayitna, MSF, menekankan bahwa iman tidak selalu menghapus rasa takut. Namun mampu menghadirkan sukacita yang jauh lebih besar.
Ia mengajak umat untuk tidak terjebak dalam ketakutan. Melainkan berani mengalami kehadiran Tuhan secara pribadi dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan biarkan rasa takut menyelimuti. Sukacita Tuhan jauh lebih besar daripada ketakutan kita,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam kitab suci, ungkapan ‘jangan takut’ berulang kali disampaikan. Mencapai 366 kali. Hal ini menjadi pesan yang relevan, untuk dilakukan umat saban hari.
Selanjutnya, perayaan memasuki Liturgi Baptis. Pada bagian ini dilakukan pemberkatan air baptis yang akan digunakan dalam sakramen.
Umat kemudian memperbaharui janji baptis mereka sebagai tanda kesetiaan kepada Tuhan. Prosesi dilanjutkan dengan percikan air suci kepada umat, yang melambangkan penyucian dan pembaruan hidup.
Puncak perayaan berada pada Liturgi Ekaristi, di mana umat mengikuti ibadah dengan khidmat. Saat doa syukur agung, yang mencakup konsekrasi dan komuni.
Bagian ini menjadi inti dari seluruh rangkaian ibadah, sebagai ungkapan syukur atas karya keselamatan yang diyakini umat Katolik melalui kebangkitan Kristus.
Penanggung jawab Liturgi Pekan Suci, Adi Prasetya, menjelaskan bahwa Vigili Paskah merupakan rangkaian puncak dari seluruh rangkaian Pekan Suci.
Yang sebelumnya diawali dengan Minggu Palma, Kamis Putih, dan Jumat Agung dan Sabtu Suci.
Menurutnya, setiap bagian dalam Misa Vigili memiliki makna yang saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan perayaan iman.
“Empat bagian utama dalam vigili ini, mulai dari upacara cahaya, liturgi sabda, liturgi baptis, hingga ekaristi, semuanya mengajak umat untuk merenungkan keselamatan Tuhan dan memperbaharui iman,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa jumlah umat yang hadir pada malam tersebut, cukup banyak. Hal ini menunjukkan antusiasme umat dalam mengikuti perayaan puncak Paskah.
Meski demikian, ia menyebut ibadah pada Minggu (5/4) pagi tetap akan digelar sebagai bagian dari rangkaian Paskah, namun dengan nuansa yang berbeda.
“Kalau Sabtu Suci malam ini lebih kepada tirakatan dan permenungan yang mendalam. Sedangkan Minggu pagi suasananya lebih seperti perayaan hari raya,” imbuhnya.
Selain itu, dalam pelaksanaan misa, pihak gereja juga melibatkan sejumlah petugas liturgi dan pendamping, termasuk frater dari Yogyakarta. Yakni Fr. Markus Bambang Pamungkas SCJ.
Kehadiran mereka membantu kelancaran jalannya ibadah, yang berlangsung cukup panjang dan penuh rangkaian.
Misa Vigili Paskah di Paroki Stella Maris Jepara ini menjadi momen penting bagi umat Katolik setempat, untuk memperteguh iman dan merayakan kebangkitan Kristus.
Dalam suasana hening dan cahaya lilin yang temaram, umat diajak untuk kembali menemukan harapan, sekaligus memperbaharui komitmen spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Perayaan berakhir sekitar pukul 20.30 WIB. Umat perlahan meninggalkan gereja dengan tertib, membawa suasana damai dan sukacita. Bersalam-salaman, sembari mengucapkan “Selamat Paskah.”
Malam vigili pun menjadi penanda bahwa dari kegelapan selalu lahir terang, dan dari penantian, hadir harapan baru bagi kehidupan.
“Pada Vigili Paskah kami kembali diingatkan, karena kasih dan karunia Allah, yang berkenan membebaskan dengan mengutus Yesus turun ke dunia. Menebus doa dan menyelamatkan manusia. Malam ini untuk merenungi kisah tersebut,” pungkasnya.(fik)
Editor : Admin