JEPARA — Suasana di kawasan TPI Ujungbatu telah ramai didatangi warga, pada Sabtu (28/3) pagi.
Kali ini bukan ramai karena aktivitas jual-beli ikan, namun ribuan warga hendak menyaksikan prosesi pelarungan kepala kerbau.
Tak hanya di TPI Ujungbatu, warga juga memenuhi area Dermaga Kantor UPP yang berada di pesisir Jobokuto. Termasuk di area Pantai Kartini.
Hal tersebut menjadi acara pamungkas dalam serangkaian Pesta Lomban 2026.
Sebelumnya acara lebih dulu dimulai dengan kirab kerbau bule seberat 350 kilogram pada Jumat (27/3) pagi. Dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujungbatu hingga Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Jobokuto.
Kemudian bersambung pada malam harinya, dengan gelaran wayang kulit semalam suntuk. Dengan lakon 'Wahyu Sandang Pangan' oleh dalang Ki Danar Yogi Iswara.
Lalu, pada Sabtu (28/3) pagi, dilanjutkan prosesi utama, pelarungan kepala kerbau. Diawali dengan pembacaan doa hingga kepala kerbau dikirab. Dari TPI Ujungbatu menuju tengah laut, sejurus dengan perairan Pulau Panjang.
Pada saat yang sama, tabuh gamelan turut mengiringi. Wayang kulit kembali digelar, kali ini dengan lakon 'Dewa Ruci' oleh dalang Ki Muntohar.
Satu persatu kapal bertolak dari dermaga, berlayar secara saksama. Tua, muda, hingga anak-anak tak mau kelewatan momen tahunan tersebut.
Ribuan mata yang berada di atas ratusan kapal yang terombang-ambing ombak, tertuju pada satu hal. Yakni kapal yang dinaiki oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo beserta jajaran Forkopimda.
Kapal yang dinaiki oleh Bupati tersebut memuat kapal kecil, yang berisi kepala kerbau. Dari sinilah pelarungan dimulai.
Setelah sampai di titik pelarungan, kapal-kapal diam. Deru mesin kapal acapkali bersahutan, memecah suara ombak yang menampar badan kapal.
Satu per satu perahu nelayan bergerak menuju titik yang sama itu, di tengah laut. Pukul 08.00 WIB, iring-iringan kapal telah membentuk petak-petak besar tak beraturan di atas hamparan air.
Di pusatnya, kapal yang membawa kepala kerbau jadi perhatian utama. Di atas kapal itu, Bupati Jepara Witiarso Utomo berdiri.
Prosesi pelarungan berlangsung singkat, nyaris tanpa jeda. Kepala kerbau yang telah disiapkan, perlahan dilarung ke laut. Air beriak, lalu seketika suasana berubah.
Tak ada aba-aba panjang. Dalam hitungan detik, orang-orang menceburkan diri.
Laut yang tadi tampak biru bersih, mendadak riuh karena tubuh manusia yang berenang, menyelam, saling mendahului.
Mereka mengejar satu kapal kecil, tempat kepala kerbau. Dapat menyentuh dan mengangkatnya diyakini dapat membawa berkah.
Di sinilah Lomban memperlihatkan wajahnya yang paling meriah. Bukan sekadar tradisi, melainkan perebutan simbol rezeki di atas laut, di bawah langit biru.
Sejumlah warga berenang dengan penuh tenaga, sebagian lain menyiasati arus, mencoba mendekat dari sisi yang tak terduga.
Tangan-tangan terulur, saling tarik, saling bantu. Tidak ada yang benar-benar sendiri di tengah laut ini, kebersamaan berjalan beriringan.
Sementara itu, di atas kapal, para nelayan tak tinggal diam. Ember, gayung, hingga wadah seadanya digunakan untuk menyiramkan air laut ke badan kapal.
Air memercik ke mana-mana, membasahi dek, jaring, dan tubuh mereka sendiri. Sebuah tradisi yang penuh makna, dengan maksud untuk membersihkan diri, sekaligus memohon keselamatan.
Tawa pecah. Sorak sorai menggema. Laut berubah menjadi panggung raksasa yang menampilkan kegembiraan masyarakat, tanpa naskah, tanpa sutradara.
Pukul 08.15 WIB, suasana mencapai puncaknya. Beberapa orang tampak berhasil mendekati titik larungan.
Wajah-wajah tegang bercampur harap. Di antara riuh itu, siapa yang berhasil mendapatkan serta membawa naik kapal yang melarung kepala kerbau, diyakini membawa pulang lebih dari sekadar benda, tetapi juga berkah dan keberuntungan.
Bupati Jepara Witiarso Utomo, menyebutkan apa yang terjadi di tengah laut itu bukan sekadar tradisi tahunan.
Ia menyebutnya sebagai ekspresi spiritualitas masyarakat pesisir. Laku sosial yang tumbuh dari relasi panjang antara manusia, laut, dan keyakinan.
Pesta Lomban ialah pesta rakyat. Serta ajang untuk memupuk kesadaran akan pentingnya keseimbangan serta upaya menjaga laut dan alam.
“Ini bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas rezeki tahun 2025. Harapannya, tahun 2026 lebih melimpah, dan nelayan mendapatkan hasil yang lebih baik,” ungkapnya.
Namun Lomban, dalam pandangannya, tak boleh berhenti pada simbol dan acara belaka.
Ia juga mengatakan, semangat yang sama harus diterjemahkan dalam kerja nyata. Terutama dalam membenahi infrastruktur nelayan.
Seperti TPI, yang menurutnya, masih membutuhkan sentuhan serius, dari atap yang bocor hingga cat yang memudar.
Ia juga membuka harapan pada dukungan pemerintah pusat. Seperti melalui program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, sebagai jalan memperbaiki kesejahteraan masyarakat pesisir.
Menurutnya Lomban sebagai ekspresi budaya, tak lepas dari semangat untuk melestarikan kearifan lokal. Bahwa alam begitu cinta manusia, dengan menyediakan sumber-sumber penghidupan bagi masyarakat.
Di ujung prosesi, ketika kapal-kapal mulai berpencar dan laut perlahan kembali tenang. Satu hal tersisa, Lomban bukan hanya tentang melarung kepala kerbau.
Namun tentang bagaimana manusia pesisir merayakan hidup, dengan keyakinan, keberanian, dan harapan yang dilemparkan ke laut, sejauh mata mamandang.
Setelah selesai pelarungan, kapal-kapal menuju ke Dermaga Pelabuhan Penyeberangan Jepara. Untuk melanjutkan rangkaian acara yakni Festival Kupat Lepet.
Momen Lomban dan Festival Kupat Lepet sendiri jadi satu tarikan napas, dengan semangat yang sama. Yakni untuk menguatkan kerukunan masyarakat, menyatukan semangat dan tekad. Dalam membangun daerah. Dengan peran masing-masing.(fik)
Editor : Admin