JEPARA — Pagi masih buta, namun ratusan orang telah terjaga. Berbondong-bondong menuju Balai Desa Sukodono Kecamatan Tahunan, pada Jumat (27/3).
Sejumlah warga tampak mengenakan pakaian lurik. Bersarung, berpeci. Merek telah mendatangi petinggen atau balai pertemuan Desa Sukodono sejak selepas Subuh.
Masyarakat yang datang tanpa diundang. Masing-masing menenteng satu wakul penuh, berisi apem.
Apem berukuran jumbo ini telah dimasak oleh para warga pada hari sebelumnya. Dibawa ke Balai Desa tepatnya pada Jumat Pon di bulan Syawal.
Di momen ini, bertepatan tujuh hari setelah Idulfitri. Telah menjadi kebiasaan di tanggal ini untuk membawa apem, menggelar selamatan dan dimakan bersama.
Apem menjadi simbol permohonan maaf, rasa syukur, dan penguat silaturahmi. 'Barian Apem' demikian masyarakat menyebutnya. Selain itu, kegiatan ini juga kerap disebut sebagai 'Bodo Apem'.
Pukul 06.00, para tetua dan kepala keluarga di Desa Sukodono telah memenuhi kantor pemerintahan desa tersebut.
Ribuan apem yang telah dibawa para warga dikumpulkan. Ditumpahkan, digelar, ditutup dengan daun pisang. Tahlil dan doa dipanjatkan. Mengharapkan berkah para rasul, nabi, sahabat, ulama dan para leluhur. Nyadong ridho Yang Maha Kuasa.
Pukul 06.35 doa selesai dilafalkan secara saksama. Dengan cekatan, para warga mewadahi kembali apem. Dibawa pulang untuk disantap bersama keluarga.
Masyarakat percaya, kue yang telah dibacakan doa tersebut dapat membawa berkah. Bagi keluarga secara khususnya dan desa pada umumnya.
Petinggi Desa Sukodono Sagiman menjelaskan, kegiatan tahunan tersebut menjadi momen memperkuat silaturahmi antarwarga.
Sagiman menuturkan kata "Apem" diserap dari bahasa Arab "Afwan" atau "Afuwwun" yang berarti ampunan atau maaf.
Tradisi ini melambangkan permohonan maaf atas kesalahan kepada sesama dan Yang Maha Kuasa. Menurutnya, tradisi ini menjadi satu hal yang terus dilestarikan sejak dulu. Secara turun temurun.
"Setelah saling maaf memaafkan, diri dan hati menjadi bersih. Semoga hajat para warga terkabul. Mendapat ridho dan ngapura Gusti Kang Maha Kuasa. Jembar rezekine, katah barokahe, gampang pados sandang pandang (luas rezeki, bergemilang berkah, mudah mencari penghidupan, red)," jelasnya.
Untuk itu, Barian Apem erat kaitannya dengan Idulfitri. "Ini menjadi cara halal bihalal warga, lewat kegiatan seperti ini. Dicontohkan oleh orang tua zaman dulu. Intinya Barian Apem, pelaksanaannya setelah Idulfitri, pada bulan Syawal di Jumat Pon," ucapnya.
Meskipun tidak ada catatan tertulis, namun Barian Apem atau Bodo Apem ini telah menjadi kebanggaan tersendiri. Yang terus dilaksanakan setiap tahunnya.
"Mungkin dulunya di tempat lain (desa, red) ada, cuma mungkin tergerus perkembangan zaman, jadi hilang. Sementara di Sukodono berusaha melestarikan kegiatan ini, sebagai kekayaan tradisi dan budaya masyarakat," ujarnya.
Lebih lanjut dijelaskan, Apem Sukodono ini berbeda dengan apem di tempat lain.
"Di sini apemnya besar dan bulat, sekitar 20 cm. Melambangkan masyarakat Sukodono yang kekeh. Kebulatan tekad, keguyuban dan kebersamaannya sangat menonjol. Sehingga bentuk apem yang bulat besar ini, melambangkan kondisi masyarakat Sukodono secara umum," terangnya.
Apem diproduksi oleh warga sendiri. Saat ini tercatat setidaknya 15 orang yang mahir membuatnya. "Dulu banyak, saat ini ada sekitar 15 orang (ibu-ibu, red) yang ahli membuat apem. Masyarakat yang malas membuat, ya pesan," katanya.
Pihaknya berharap hal tersebut menjadi kekayaan masyarakat Sukodono. Dengan kue apem tersebut, ke depannya dapat semakin dikenal masyarakat luas.
Di satu sisi, warga yang ahli membuat apem ini biasa menerima pesanan di luar momen Idulfitri. "Sudah banyak yang pesan, dari warga Sukodono atau luar desa, maupun dinas jika ada acara. Tidak semua orang bisa membuat Apem Sukodono," sebutnya.
Para pemuda desa juga telah merancang konsep, agar Apem Sukodono kian dikenal luas. "Selain Barian Apem, masyarakat secara berkelanjutan menyelenggarakan Festival Suguh Apem, kini sudah tiga kali penyelenggaraan, acara dilaksanakan dua tahun sekali. Ini menjadi strategi pengemasan budaya agar dikenal secara lebih luas," jelasnya.
Rasa Apem Sukodono sendiri gurih dan manis, terlebih saat dikucuri dengan juruh (air gula dan santan). Membuat mulut terasa 'nyes'. Karena ukurannya yang begitu besar, satu apem khas Sukodono dapat dinikmati 2 hingga 3 orang.
Bagi pencinta kuliner tradisional sudah barang tentu akan merasakan diversifikasi pangan lokal. Sarat makna dan filosofi.
"Kami berupaya melestarikan tradisi ini, supaya anak cucu kami nanti masih dapat mengalami dan mengenang warisan dari pendahulu mereka," pungkas Petinggi Desa Sukodono Sagiman.(fik)
Editor : Admin