Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Masyarakat Non Muslim di Damarwulan Ikut Buat Kupat Lepet, Selamatan Warga Karimunjawa Digelar di Tepi Pantai

Fikri Thoharudin • Kamis, 26 Maret 2026 | 16:16 WIB
SIAP MASAK: Kupat luwar dan lepet siap dimasak pada Kamis (26/3). (KRISTINA UNTUK RADAR KUDUS)
SIAP MASAK: Kupat luwar dan lepet siap dimasak pada Kamis (26/3). (KRISTINA UNTUK RADAR KUDUS)

JEPARA — Tradisi kupat lepet di Desa Damarwulan, kembali menjadi simbol kuat kebersamaan lintas agama.

Menjelang perayaan lebaran ketupat atau yang dikenal sebagai “bodo kupat”, warga dari berbagai latar belakang, termasuk non Muslim, turut ambil bagian dalam pembuatan ketupat dan lepet.

Hal ini sebagai bagian dari tradisi turun-temurun, yang telah mengakar kuat di kehidupan masyarakat.

Baik daerah pegunungan maupun pesisir dan kepulauan.

Di Desa Damarwulan, salah satu warga, Kristina Natalia (20), mengungkapkan bahwa keluarganya juga rutin membuat kupat lepet setiap tahun.

Ia menegaskan, tradisi ini tidak hanya dimiliki oleh umat Muslim, tetapi telah menjadi budaya bersama yang diwariskan lintas generasi.

“Di sini memang sudah biasa. Bukan hanya Muslim saja yang membuat, tapi semua warga. Ada beberapa jenis kupat seperti kupat biasa, kupat luwar, dan kupat manuk yang bentuknya seperti burung, biasanya untuk anak-anak karena unik,” ujarnya pada Kamis (26/3).

SIAP OLAH: Puluhan ketupat siap dimasak.
SIAP OLAH: Puluhan ketupat siap dimasak.

Ia menjelaskan, setiap keluarga memiliki kebiasaan dan jumlah produksi yang berbeda, tergantung kebutuhan.

Dalam keluarganya, lepet bisa dibuat hingga 7 kilogram, sementara ketupat sekitar 4 kilogram.

Hasilnya kemudian dibagikan kepada tetangga, saudara, hingga tamu yang datang bersilaturahmi.

Tradisi berbagi ini bahkan kerap terasa seperti budaya “timbal balik”. Di mana warga saling memberi dan menerima hidangan kupat lepet.

Suasana kekeluargaan pun semakin terasa karena hampir setiap rumah melakukan hal yang sama.

“Kadang seperti saling tukar. Habis diberi, nanti gantian memberi balik. Sudah biasa seperti itu dari dulu,” imbuhnya.

SIAP ISI: Kupat biasa dan kupat luwar.
SIAP ISI: Kupat biasa dan kupat luwar.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa kehidupan masyarakat di daerahnya sangat menjunjung tinggi nilai toleransi.

Perbedaan agama bukan menjadi penghalang untuk berpartisipasi dalam tradisi bersama.

“Intinya masyarakat di sini sudah terbiasa hidup berdampingan. Islam, Buddha, Kristen, semua saling mendukung kalau ada acara. Kalau ada kegiatan seperti ini ya disengkuyung bareng-bareng,” katanya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, Sofi’i menuturkan bahwa suasana menjelang bodo kupat sudah terasa sejak beberapa hari sebelumnya.

Hampir setiap rumah mulai menurunkan janur kelapa, panen. Untuk dianyam menjadi kupat dan lepet.

Menurutnya, kondisi geografis Karimunjawa yang kaya akan pohon kelapa menjadi salah satu faktor kuatnya tradisi ini tetap bertahan.

Bahan baku mudah didapat, sehingga masyarakat tidak kesulitan dalam mempersiapkan perayaan.

“Hari ini, di teras-teras rumah, ibu-ibu dan anak-anak sudah mulai jagongan sambil membuat anyaman kupat dan lepet. Biasanya dimasak semalaman, direbus sampai matang,” jelasnya.

Kegiatan tersebut bukan hanya sekadar proses memasak, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial antarwarga. 

TELATEN: Warga Desa Kemujan tengah membuat kupat dan lepet untuk Bodo Kupat pada Sabtu (28/3) mendatang. (SOFI
TELATEN: Warga Desa Kemujan tengah membuat kupat dan lepet untuk Bodo Kupat pada Sabtu (28/3) mendatang. (SOFI'I UNTUK RADAR KUDUS)
Anak-anak belajar dari orang tua mereka, sementara orang dewasa saling berbincang dan mempererat hubungan kekeluargaan.
Puncak perayaan bodo kupat sendiri digelar tepat tujuh hari setelah Idulfitri.
Pada hari itu, warga dari berbagai dusun akan berkumpul di tepi pantai atau yang disebut “babagan”, yakni lokasi sandar kapal nelayan tradisional.
Konsep acara dikemas sederhana namun sarat makna, yakni seperti piknik bersama.
Setiap keluarga yang dipimpin satu kaum, membawa makanan dari rumah, termasuk kupat dan lepet yang telah dibuat sebelumnya.
“Sebelum dimakan, semua dikumpulkan lalu didoakan bersama. Setelah itu baru dimakan ramai-ramai,” ujar Sofi’i.
Suasana kebersamaan begitu terasa saat warga duduk berkelompok bersama keluarga masing-masing, menikmati hidangan dengan latar laut Karimunjawa yang khas. 
TELATEN: Proses pengisian lepet.
TELATEN: Proses pengisian lepet.

Tidak ada sekat sosial dalam momen tersebut, semua larut dalam kebersamaan.

Selain makan bersama, berbagai kegiatan tradisional turut memeriahkan acara. Di antaranya lomba lorodan atau panjat pinang menggunakan batang bambu, lomba membawa kelapa (bopong kelopo).

Hingga permainan rakyat lain yang melibatkan anak-anak hingga orang dewasa.

Sebagian kegiatan juga dipusatkan di musala atau titik kumpul warga, tergantung dusun masing-masing.

Setiap wilayah memiliki panitia atau “kaum” yang mengoordinasikan jalannya acara.

Lebih dari sekadar hiburan, rangkaian kegiatan ini juga memiliki nilai edukatif, khususnya bagi anak-anak di wilayah pesisir.

Mereka dikenalkan dengan lingkungan laut serta budaya masyarakat nelayan sejak dini.

“Ini juga bagian dari edukasi. Anak-anak dikenalkan laut, karena mayoritas di sini nelayan,” tegasnya.

Tiga hari menjelang pelaksanaan acara, warga juga melakukan kerja bakti bersama.

Mereka membersihkan jalan menuju lokasi pantai, menata area kegiatan, hingga memastikan lingkungan tetap nyaman dan aman untuk digunakan bersama.

Semangat gotong royong terlihat jelas dalam setiap tahapan persiapan.

Tanpa dikomando secara formal, warga dengan kesadaran sendiri ikut terlibat demi kelancaran tradisi tahunan tersebut.

Di balik seluruh rangkaian kegiatan, kupat lepet juga menyimpan makna filosofis bagi masyarakat.

Selain sebagai simbol syukur setelah lebaran, tradisi ini juga mengajarkan nilai pengendalian diri, kebersamaan, serta pentingnya menjaga hubungan baik antar sesama.

Tradisi kupat lepet di Karimunjawa pun tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi telah menjelma sebagai identitas budaya.

Merepresentasikan harmoni sosial, toleransi, serta kekuatan kebersamaan masyarakat di tengah keberagaman.

“Kenapa selamatan di gelar di pesisir pantai, karena laut menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat di Karimunjawa,” pungkasnya.(fik)

Editor : Admin
#tradisi kupat lepet karimunjawa #bodo kupat jepara #kupat lepet budaya pesisir #tradisi lebaran karimunjawa #selamatan tepi pantai #toleransi antar umat beragama jepara #budaya kupat lepet non muslim #tradisi ketupat jepara #kearifan lokal karimunjawa #piknik budaya bodo kupat #tradisi nelayan karimunjawa #kupat manuk jepara #kebersamaan lintas agama jepara #tradisi janur ketupat #budaya selamatan laut jepara