JEPARA — Tradisi kupat lepet di Desa Damarwulan, kembali menjadi simbol kuat kebersamaan lintas agama.
Menjelang perayaan lebaran ketupat atau yang dikenal sebagai “bodo kupat”, warga dari berbagai latar belakang, termasuk non Muslim, turut ambil bagian dalam pembuatan ketupat dan lepet.
Hal ini sebagai bagian dari tradisi turun-temurun, yang telah mengakar kuat di kehidupan masyarakat.
Baik daerah pegunungan maupun pesisir dan kepulauan.
Di Desa Damarwulan, salah satu warga, Kristina Natalia (20), mengungkapkan bahwa keluarganya juga rutin membuat kupat lepet setiap tahun.
Ia menegaskan, tradisi ini tidak hanya dimiliki oleh umat Muslim, tetapi telah menjadi budaya bersama yang diwariskan lintas generasi.
“Di sini memang sudah biasa. Bukan hanya Muslim saja yang membuat, tapi semua warga. Ada beberapa jenis kupat seperti kupat biasa, kupat luwar, dan kupat manuk yang bentuknya seperti burung, biasanya untuk anak-anak karena unik,” ujarnya pada Kamis (26/3).
Ia menjelaskan, setiap keluarga memiliki kebiasaan dan jumlah produksi yang berbeda, tergantung kebutuhan.
Dalam keluarganya, lepet bisa dibuat hingga 7 kilogram, sementara ketupat sekitar 4 kilogram.
Hasilnya kemudian dibagikan kepada tetangga, saudara, hingga tamu yang datang bersilaturahmi.
Tradisi berbagi ini bahkan kerap terasa seperti budaya “timbal balik”. Di mana warga saling memberi dan menerima hidangan kupat lepet.
Suasana kekeluargaan pun semakin terasa karena hampir setiap rumah melakukan hal yang sama.
“Kadang seperti saling tukar. Habis diberi, nanti gantian memberi balik. Sudah biasa seperti itu dari dulu,” imbuhnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa kehidupan masyarakat di daerahnya sangat menjunjung tinggi nilai toleransi.
Perbedaan agama bukan menjadi penghalang untuk berpartisipasi dalam tradisi bersama.
“Intinya masyarakat di sini sudah terbiasa hidup berdampingan. Islam, Buddha, Kristen, semua saling mendukung kalau ada acara. Kalau ada kegiatan seperti ini ya disengkuyung bareng-bareng,” katanya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, Sofi’i menuturkan bahwa suasana menjelang bodo kupat sudah terasa sejak beberapa hari sebelumnya.
Hampir setiap rumah mulai menurunkan janur kelapa, panen. Untuk dianyam menjadi kupat dan lepet.
Menurutnya, kondisi geografis Karimunjawa yang kaya akan pohon kelapa menjadi salah satu faktor kuatnya tradisi ini tetap bertahan.
Bahan baku mudah didapat, sehingga masyarakat tidak kesulitan dalam mempersiapkan perayaan.
“Hari ini, di teras-teras rumah, ibu-ibu dan anak-anak sudah mulai jagongan sambil membuat anyaman kupat dan lepet. Biasanya dimasak semalaman, direbus sampai matang,” jelasnya.
Kegiatan tersebut bukan hanya sekadar proses memasak, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial antarwarga.
Tidak ada sekat sosial dalam momen tersebut, semua larut dalam kebersamaan.
Selain makan bersama, berbagai kegiatan tradisional turut memeriahkan acara. Di antaranya lomba lorodan atau panjat pinang menggunakan batang bambu, lomba membawa kelapa (bopong kelopo).
Hingga permainan rakyat lain yang melibatkan anak-anak hingga orang dewasa.
Sebagian kegiatan juga dipusatkan di musala atau titik kumpul warga, tergantung dusun masing-masing.
Setiap wilayah memiliki panitia atau “kaum” yang mengoordinasikan jalannya acara.
Lebih dari sekadar hiburan, rangkaian kegiatan ini juga memiliki nilai edukatif, khususnya bagi anak-anak di wilayah pesisir.
Mereka dikenalkan dengan lingkungan laut serta budaya masyarakat nelayan sejak dini.
“Ini juga bagian dari edukasi. Anak-anak dikenalkan laut, karena mayoritas di sini nelayan,” tegasnya.
Tiga hari menjelang pelaksanaan acara, warga juga melakukan kerja bakti bersama.
Mereka membersihkan jalan menuju lokasi pantai, menata area kegiatan, hingga memastikan lingkungan tetap nyaman dan aman untuk digunakan bersama.
Semangat gotong royong terlihat jelas dalam setiap tahapan persiapan.
Tanpa dikomando secara formal, warga dengan kesadaran sendiri ikut terlibat demi kelancaran tradisi tahunan tersebut.
Di balik seluruh rangkaian kegiatan, kupat lepet juga menyimpan makna filosofis bagi masyarakat.
Selain sebagai simbol syukur setelah lebaran, tradisi ini juga mengajarkan nilai pengendalian diri, kebersamaan, serta pentingnya menjaga hubungan baik antar sesama.
Tradisi kupat lepet di Karimunjawa pun tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi telah menjelma sebagai identitas budaya.
Merepresentasikan harmoni sosial, toleransi, serta kekuatan kebersamaan masyarakat di tengah keberagaman.
“Kenapa selamatan di gelar di pesisir pantai, karena laut menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat di Karimunjawa,” pungkasnya.(fik)
Editor : Admin